Oleh: Dr. KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc., M.A.
Dalam Tausiah Istighosah Malam Jum’at, Dr. KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc., M.A. menyampaikan pembahasan dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari mengenai cara menentukan pilihan hidup di tengah kebingungan dan tarik menarik hawa nafsu. Kajian ini menekankan bahwa ketika seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tampak serupa, jalan kebenaran justru sering kali terasa lebih berat bagi hawa nafsu.
Dalam penjelasannya, KH. Bukhari menguraikan salah satu hikmah Ibnu Athaillah, “Apabila dua perkara terasa samar bagimu, maka pilihlah yang lebih berat bagi nafsumu.” Menurutnya, jika ada dua hal yang membingungkan mana yang harus dipilih maka pilihlah yang berat di hati untuk hawa nafsu lakukan itulah yang lebih baik, karena bagi jiwa hawa nafsu tidak akan merasa berat kecuali hal itu adalah kebenaran.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Qs. Yusuf [12]: 53:
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Qs. Yusuf: 53).
Selain itu, disampaikan pula tanda-tanda dominasi hawa nafsu, diantaranya sikap tergesa-gesa, Ibnu Athaillah, lanjutnya, memberikan panduan agar seseorang mencermati kecenderungan jiwanya. Nafsu pada dasarnya memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan. Karena itu, sesuatu yang terasa berat, enggan, atau tidak menyenangkan bagi hawa nafsu justru seringkali mengandung kebenaran. Sebaliknya, pilihan yang terasa ringan dan menyenangkan perlu ditimbang dengan kehati-hatian.
KH. Bukhari mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika seseorang dihadapkan pada pilihan tempat beribadah. Terkadang, jiwa lebih condong pada tempat yang menawarkan hiburan dan kenyamanan duniawi dibandingkan tempat yang menghadirkan kekhusyukan. Padahal, kecenderungan tersebut bisa mengurangi nilai ibadah dan menjauhkan seseorang dari esensi penghambaan
Lebih jauh, Dr. KH. Bukhari menjelaskan bahwa dua pilihan yang sama-sama baik pun tetap perlu diprioritaskan. Misalnya, antara melaksanakan ibadah sunnah berulang kali dengan membantu tetangga yang sedang berada dalam kesulitan mendesak. Dalam kondisi tertentu, membantu sesama justru menjadi amal yang lebih utama karena menyentuh kebutuhan nyata dan kemaslahatan bersama.
Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah juga mengajarkan prinsip istafti qalbak atau meminta fatwa kepada hati. Hati yang masih jernih, belum tercampur oleh hawa nafsu dan kepentingan duniawi, biasanya mampu mengenali kebenaran secara spontan. Kejernihan hati inilah yang perlu dijaga agar tetap menjadi penuntun dalam mengambil keputusan hidup.
Kurangnya kehati-hatian, serta ketidakmampuan melihat akibat jangka panjang dari suatu perbuatan. Islam mengajarkan ketenangan dan pertimbangan matang dalam setiap keputusan, sebab tindakan yang dilakukan secara tergesa-gesa kerap berujung pada penyesalan.
Sebagai penutup, KH. Bukhari menjadikan ajaran Ibnu Athaillah sebagai pedoman dalam menentukan pilihan hidup. Memilih jalan yang terasa berat bagi nafsu bukan untuk menyulitkan diri, melainkan sebagai upaya menjaga keikhlasan dan keberpihakan pada kebenaran. (VISCHA/ HUMAS dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.