Kitab Al-Wadih fi Ulumil Qur'an karya Syekh Mustofa Daibul Bigha
Oleh: KH. Muzzakir Abdurrahman, MA
Al-Qur'anul Karim merupakan mukjizat terbesar sekaligus pedoman hidup yang diturunkan kepada umat manusia. Namun, untuk dapat mengamalkan isinya dengan baik, seorang Muslim sejatinya perlu terlebih dahulu memahami esensi Al-Qur'an secara mendalam, baik dari segi bahasa (etimologi) maupun istilah (terminologi).
Dalam kajian Hawamisy Ashar di Masjid Istiqlal, KH. Muzzakir Abdurrahman, MA mengajak para jemaah membedah dasar-dasar ilmu Al-Qur'an dengan merujuk pada kitab Al-Wadih fi Ulumil Qur'an karya ulama besar Al-Azhar Syarif Mesir, Syekh Mustofa Daibul Bigha.
Makna Kata Al-Qur'an: Dua Sudut Pandang Ulama
Secara bahasa, lafaz Al-Qur'an merupakan nama yang paling populer untuk menyebut kitab suci umat Islam. KH. Muzzakir menjelaskan bahwa para ulama memiliki dua pandangan utama mengenai asal-usul kata ini:
- Sebagai Isim Masdar (Kata Jadian): Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Al-Qur'an berasal dari kata kerja qara'a (membaca) yang diubah menjadi kata benda (masdar), sehingga bermakna "bacaan" atau sinonim dari kata qira'ah. Hal ini berlandaskan pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Qiyamah ayat 17-18:
اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ 17 فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ 18 ۚ ۚ
"Sesungguhnya Kami yang bermaksud mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu."
2. Sebagai Nama Khusus (Pendapat Imam Syafi'i): Sementara itu, Imam Syafi'i rahimahullahu ta’ala berpendapat bahwa kata "Al-Qur'an" bukanlah kata bentukan yang memiliki akar kata kerja. Kata ini merupakan nama khusus (isim alam) yang Allah ciptakan langsung untuk kitab suci-Nya, sama halnya seperti nama kitab Taurat, Injil, dan Zabur.
Nama-Nama Lain Al-Qur'an dalam Ayat Suci
Allah SWT menggunakan beberapa nama lain untuk menyebut Al-Qur'an di dalam ayat-ayat-Nya. Nama-nama tersebut sekaligus mencerminkan fungsi dan karakter dari kitab suci ini:
- Al-Furqan (Pembeda antara hak dan batil):
تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ
“Maha berlimpah anugerah (Allah) yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)
2. Al-Kitab (Sesuatu yang ditulis/dihimpun):
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa," (QS. Al-Baqarah: 2)
3. Adz-Dzikr (Pemberi peringatan/pengingat):
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an (Adz-Dzikr), dan pasti Kami pula yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)
4. At-Tanzil (Yang diturunkan):
وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ
"Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan (tanzil) oleh Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'ara: 192)
KH. Muzzakir juga meluruskan perbedaan istilah yang sering keliru di masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa lembaran fisik berisikan tulisan ayat suci yang sering kita pegang di masjid sebenarnya disebut Mushaf, sedangkan Al-Qur'an adalah firman Allah yang terkandung di dalamnya yang dibaca dan dihafalkan.
Keunikan Mukjizat Al-Qur'an yang Melampaui Zaman
Kajian ini turut menggarisbawahi sifat kemukjizatan Al-Qur'an yang berbeda dengan mukjizat para nabi terdahulu. Jika mukjizat fisik seperti tongkat Nabi Musa AS membelah lautan atau kemampuan Nabi Isa AS menghidupkan orang mati hanya bisa disaksikan oleh orang-orang di zaman tersebut, Al-Qur'an adalah mukjizat abadi yang keindahannya dapat dirasakan hingga akhir zaman.
Kemukjizatan Al-Qur'an tercermin melalui beberapa aspek, antara lain:
1. Keindahan Sastra dan Tantangan bagi Manusia
Al-Qur'an diturunkan menggunakan bahasa Arab dengan tingkat sastra yang sangat tinggi karena pada masa itu bangsa Arab dipenuhi oleh para penyair ulung. Allah menantang manusia dan jin untuk membuat tandingan yang serupa dengan Al-Qur'an dalam QS. Al-Isra ayat 88:
قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
“Katakanlah, “Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, sekalipun mereka membantu satu sama lainnya.” (Al-Isrā' : 88)
Bahkan, ketika Allah menantang mereka untuk mendatangkan satu surat saja yang serupa, tidak ada satu pun sastrawan Arab yang mampu menjawabnya. Setiap huruf di dalam Al-Qur'an diletakkan dengan presisi yang luar biasa dan memiliki hikmah makna yang mendalam.
2. Kebenaran Ilmiah yang Mendahului Teknologi
Meskipun diturunkan 14 abad yang lalu ketika ilmu pengetahuan masih sangat terbatas, Al-Qur'an telah menggambarkan fakta-fakta ilmiah secara akurat. Beliau mencontohkan tentang teori embriologi di mana Al-Qur'an menyebutkan fase awal janin ('alaqah) yang menempel di dinding rahim bagaikan lintah, sebuah detail medis yang baru bisa dibuktikan oleh peralatan sains modern pada masa kini.
Hikmah Diturunkannya Al-Qur'an Secara Berangsur-angsur
Di akhir kajian, KH. Muzzakir menjelaskan hikmah mengapa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, dan tidak diturunkan sekaligus 30 juz. Selain untuk meneguhkan hati Rasulullah ﷺ sebagaimana firman Allah:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا
“Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah,531) agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqan: 32)
Ketika para sahabat menghadapi suatu ujian hidup atau permasalahan yang berat, kemudian Allah menurunkan ayat khusus sebagai jawaban dan solusi langsung pada momen tersebut, maka pesan dari ayat itu akan menancap kuat dan membekas di dalam jiwa mereka hingga akhir hayat.
Melalui kajian ini, diharapkan umat Islam tidak sekadar menjadikan Al-Qur'an sebagai pajangan di rumah, melainkan terus termotivasi untuk membaca, mempelajari, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. (ASMA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.