Foto: Dok. Media Istiqlal

Renungan Fajar: Menyambut Ramadhan 1447 H dengan Qolbun Salim

Administrator 24 Feb 2026 Warta Istiqlal

Kita senantiasa berbahagia dalam menyambut bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh ampunan dan keberkahan. Bahwasanya, kebahagiaan sejati saat memasuki bulan suci bukan terletak pada kemeriahan fisik, melainkan pada kesiapan batin untuk meraih ampunan Allah subhanahu wa ta’ala agar tidak menjadi golongan orang yang merugi.

“Kita harus berbahagia, jangan sampai di bulan Ramadhan tidak bahagia. Kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan di dalam hati. Karena keinginan kita banyak beribadah di bulan Ramadhan telah diijabah oleh Allah SWT,” ujar KH. Bukhari Sail Attahiri 

Selanjutnya, beliau menjelaskan beratnya menjalankan ibadah, seperti rasa kantuk saat membaca Al-Qur'an atau sulitnya bangun tahajud, sering kali disebabkan oleh beban dosa dan penyakit hati yang mengerak. 

Penyakit hati seperti hiqd (dengki) dan hasad (iri hati) menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk merasakan manisnya iman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ 

Artinya: “Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘arā' [26]:89)

Hanya orang-orang yang menghadap Allah SWT  dengan hati yang bersihlah yang akan selamat. Ketika iri dan dengki kepada orang lain, hal itu memberikan dampak tertentu kepada diri sendiri.  “Hati yang dengki tidak akan bahagia. Sulit berkonsentrasi, sulit khusyuk shalatnya karena yang diingat adalah kebahagiaan orang lain,” tambahnya. 

Selain membersihkan hati dari dengki, keikhlasan total menjadi kunci agar amal ibadah diterima oleh Allah SWT.  KH. Bukhari Sail Attahiri menegaskan adanya riyaul khafi atau riya yang tersembunyi, di mana seseorang merasa bangga dalam hati atas amalannya meskipun orang lain tidak mengetahuinya. 

Sebagai langkah pencegahan, sikap syukur harus senantiasa dikedepankan sesuai janji Allah dalam Firman-Nya:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Q.S Ibrāhīm [14]:7) 

Dengan bersyukur, dada akan terasa lapang dan ibadah selama Ramadhan akan terasa ringan serta penuh keberkahan.

Dengan hati yang bersih dari sangketa dan penuh dengan niat lillahi taala, Ramadhan ini diharapkan menjadi wasilah bagi kita untuk bertransformasi menjadi pribadi yang bertakwa.

“Semoga kita termasuk orang-orang yang muttaqin yang diampuni dosanya oleh Allah SWT dan kita bisa terlepas dari api neraka,” harap KH. Bukhari Sail Attahiri

Mari kita jadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai madrasah untuk menyucikan jiwa. Maafkanlah kesalahan sesama manusia, kerana dosa kepada manusia tidak akan diampuni Allah sebelum orang yang bersangkutan memaafkan kita.

(TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.