Foto: Dok. Media Istiqlal

Renungan Fajar: Menjauhi Sifat-Sifat Tercela

Admin 13 Aug 2025 Warta Istiqlal

Oleh: KH Jamaluddin F. Hasyim Adnan

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Secara umum perbuatan manusia dalam pandangan Islam ada yang bersifat terpuji, ada yang bersifat tercela. Perbuatan bersifat terpuji adalah perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia dan yang diperintahkan oleh agama, oleh Allah dan Rasul-Nya. 

Perbuatan ini ada ada yang kategorinya wajib dan sunnah. Sebaliknya, perbuatan tercela adalah perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan oleh manusia dan dikecam atau dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya didalam agama kita.

Adapun perbuatan baik disebut makruf, perbuatan buruk disebut munkar. Jika berbicara makruf dan munkar ini mengikuti akal budi manusia. Perbuatan baik seperti menolong orang, tanggung jawab, memberi orang yang susah, maka semua akal sehat manusia, apapun latar belakang budaya, agam, suku, bangsa dan sebagainya mengatakan itu perbuatan baik. 

Sedangkan perbuatan yang buruk itu seperti mencuri, membunuh, menyengsarakan orang lain, menipu, ini semua perbuatan buruk yang mengikuti akal sehat manusia terlepas dari apapun agama, budaya dan bangsanya akan mengatakan itu buruk.

Ini adalah satu nilai yang sifatnya universal, kebaikan dan keburukan yang universal dan semua orang mengakui. Tapi ada perbuatan baik dan buruk yang dalam Islam diberikan penegasan, yang baik diperintahkan, yang buruk itu dilarang.

Perbuatan buruk ada yang sifatnya ucapan, ada yang sifatnya tindakan, bahkan ada yang sifatnya iktikad (keyakinan yang ada di dalam hati) yang paling dicela dan dikecam dalam agama yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala. Syirik dan kekufuran menolak ajaran Allah dan Rasul. Syirik atau menyekutukan Allah adalah dosa besar yang paling tinggi dan paling besar dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ  
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisā' [4]:48).

Syirik itu berarti mempercayai, meyakini bahwa ada kekuatan lain selain Allah yang memengaruhi hidup kita. Syirik juga artinya menempatkan sembahan lain selain Allah di dalam sembahan kita.

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ  لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ
“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah [2]:163)

Dalam karangan Imam Adz-zahabi, Al-Kabair diurutkan dosa-dosa besar satu persatu.
1. Syirik
2. Qatlun nafsi (membunuh jiwa yang tidak bersalah). Membunub di dalam Islam itu tidak mutlak dilarang, dengan catatan membunuh itu harus didasarkan pada alasan-alasan syariat. Ada perbuatan membunuh yang dibolehkan dan itu tidak boleh dilakukan oleh semabrang orang. Diantaranya karena tiga sebab, yaitu: orang yang sudah menikah dan berzina, orang yang keluar dari Islam (murtad), melakukan sihir (santet, dsb).
3. Meninggalkan shalat
4. Tidak mau membayar zakat
5. Tidak berpuasa di bulan Ramadan tanpa uzur.
6. Meninggalkan haji padahal mampu.
7.  Durhaka kepada kedua orang tua

Dari mana munculnya perbuatan tercela itu?
1. Kebodohan 
2. Cinta kepada dunia yang berlebihan
3. Hawa nafsu (di dalam diri)
4. Faktor setan (di luar diri)
5. Lingkungan yang tidak baik
6. Kelalaian hati (NADIEN/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.