Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Zuhur Istiqlal: Memahami Fana dan Baqa, Perjalanan Membersihkan Hati dan Menanggalkan Keegoan

Administrator 27 Jul 2026 Warta Istiqlal

Kitab Al-Risalah Al-Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi

Oleh: Prof. Dr. KH. Bambang Irawan, MA

 

Setiap kali terbangun dari tidur, pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan kepada diri sendiri adalah: Apakah kita masih pantas menjadi hamba Allah? Pertanyaan ini penting untuk mengukur kualitas diri dan meneliti apakah hati kita masih terpaut kepada-Nya, atau justru mulai terlena oleh buaian dunia yang kerap menjatuhkan orang-orang berilmu.

Dalam kajian Al-Risalah Al-Qusyairiyah di Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Bambang Irawan, MA membedah bab Fana dan Baqa. Kajian ini menegaskan bahwa fana dan baqa bukanlah soal hilangnya kesadaran fisik atau menyatunya wujud manusia dengan Tuhan secara harfiah, melainkan tentang kerja keras menundukkan keegoan dan memantaskan diri di hadapan Allah SWT.

Hakikat Fana dan Baqa dalam Tasawuf

Dalam pemahaman tasawuf yang aplikatif dan membumi:

  • Fana adalah gugur atau hilangnya sifat-sifat tercela dari dalam diri. Fana berarti terkikisnya rasa sombong, iri, dengki, sifat merasa paling suci, marah, dendam, hingga sifat rakus. Fana juga berarti sirnanya keegoan sehingga seseorang tidak lagi disibukkan oleh kepentingan dirinya sendiri.
  • Baqa adalah muncul dan menetapnya sifat-sifat terpuji (akhlak ilahiyah) di dalam jiwa. Ketika sifat sombong gugur melalui fana, maka yang muncul dan menetap (baqa) adalah sifat tawadhu (rendah hati). Sifat dengki digantikan oleh rasa ridha, sifat marah digantikan oleh sabar, sifat rakus digantikan oleh qana'ah (merasa cukup), dan sifat riya' digantikan oleh keikhlasan.

Orang yang hatinya telah dipenuhi qana'ah dan ridha atas pemberian Allah akan menjadi orang yang paling kaya jiwanya, karena kekayaan sejati tidak diukur dari tumpukan harta, melainkan dari rasa cukup di dalam hati.

Tiga Lapisan Perjalanan Menuju Allah

Kehidupan seorang hamba pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan menuju Allah SWT. Dalam kajian ini dijelaskan tiga tingkatan perjalanan spiritual tersebut:

1. Tingkat Af'al (Perbuatan Lahiriah): Yaitu komitmen untuk meninggalkan perbuatan dosa dan melatih perbuatan-perbuatan baik secara fisik.

2. Tingkat Akhlak: Perbuatan baik yang dilatih tersebut naik kelas menjadi pilihan hidup yang menghiasi kepribadian, seperti terbiasa sabar, ikhlas, dan penyayang.

3. Tingkat Ahwal (Kondisi Batiniah): Tingkatan ketika hati senantiasa hadir bersama Allah [10:57]. Segala tindakan dilakukan atas dorongan ketulusan nurani. Ciri orang yang telah mencapai tingkatan ini adalah lahirnya kedamaian batin dan kekhusyukan dalam beribadah.

Tingkatan ahwal ini mencerminkan penghayatan atas firman Allah SWT dalam QS. Fussilat ayat 30:

نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta.” (Fuṣṣilat:31).

Ketika seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah pelindung dan penolongnya, tidak ada lagi rasa cemas atau takut yang berlebihan dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Pembersihan Diri

Proses fana dan baqa membutuhkan perjuangan serta konsistensi untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'la ayat 14:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ

"Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran)." (QS. Al-A'la: 14).

Bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dan konsisten membersihkan jiwanya dari penyakit hati, Allah berjanji akan membukakan jalan kemudahan, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-'Ankabut ayat 69:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-'Ankabut: 69)

Larangan Terbelenggu Kesombongan

Di akhir pemaparannya, Prof. Bambang Irawan mengingatkan agar proses pembersihan diri tidak membuat seseorang jatuh ke dalam perangkap kesombongan spiritual (feel self-righteous). Allah SWT mengingatkan dalam QS. An-Najm ayat 32:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ  هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ

“(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm:32)

Manifestasi Fana dalam Kehidupan Sehari-hari

Fana bukanlah konsep abstrak yang hanya bisa dirasakan saat mengasingkan diri atau meneteskan air mata di atas sajadah. yang nyata tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Keberanian untuk mengalah dan meminta maaf lebih dahulu saat terjadi perselisihan.
  •  Kemampuan menahan amarah dan meredam dendam.
  •  Menjaga diri agar tidak bersikap sewenang-wenang meskipun memiliki kekuasaan.
  • Mengendalikan hawa nafsu dan sifat kikir.

Dengan menggugurkan keegoan (fana) dan menghidupkan akhlak terpuji (baqa), seorang hamba akan memperoleh ketenangan jiwa serta kepantasan untuk hadir di hadapan Allah SWT. (ASMA/Humas dan Media Masjid Istiqlal) 


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.