Oleh: Prof. Dr. Irfan Idris, MA
Kajian Tarawih malam keempat yang disampaikan di Masjid Istiqlal menggugah kesadaran kita tentang dimensi ibadah yang sering terlupakan. Ceramah bertema “Puasa dan Kesadaran Ekologi” ini mengajak kita merenungi bagaimana ibadah puasa Ramadan seharusnya tidak hanya membentuk kesalehan individual dan sosial, namun juga menumbuhkan tanggung jawab kita yang mendalam terhadap alam semesta dan lingkungan hidup.
Sebagaimana disampaikan dalam ceramah, bulan suci Ramadan adalah madrasah (sekolah) kehidupan selama tiga puluh hari yang menempa diri kita untuk menjadi insan yang bertakwa.
Namun pertanyaannya, adakah perbedaan antara Ramadan tahun lalu dengan Ramadan kini? Sudahkah ketakwaan kita semakin meningkat? Dan sudahkah kita meraih ketiga bentuk kesalehan yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala?
Tiga Pilar Kesalehan dalam Ramadan
Di dalam bulan suci Ramadan, ada tiga bentuk kesalehan yang harus kita tingkatkan secara bersamaan:
Pertama, kesalehan individual
Yakni ketaatan pribadi dalam menjalankan perintah-perintah yang diwajibkan dan menjauhi larangan-larangan yang ditegaskan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadis. Inilah yang menggerakkan kita datang ke masjid tanpa paksaan, berebut tempat, datang dari jauh-jauh, semata karena kesadaran diri.
Kedua, kesalehan sosial
Yakni bagaimana kita berinteraksi dengan saudara-saudara sesama kaum muslimin, maupun berinteraksi dengan saudara-saudara yang berbeda keyakinan. Mereka menghargai kita, kita menghargai mereka. Karena kita hidup di tengah bangsa yang plural negara bangsa, bukan negara agama.
Ketiga, kesalehan ekologi
Inilah yang menjadi fokus utama malam ini dimensi kesalehan yang paling sering terabaikan. Bagaimana kita menyikapi, mengolah, dan meningkatkan perpaduan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial untuk membentuk kesalehan ekologi.
Ramadan, Al-Qur'an, dan Bumi
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan kata "bumi" kurang lebih 400 kali dalam Al-Qur'an, sementara kata "shalat" disebut sekitar 200 kali. Bukan berarti bumi lebih penting dari shalat melainkan ini adalah pesan yang kuat bahwa menjaga bumi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kita.
Allah SWT mengingatkan kita dengan tegas dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan ini bukan sekadar bencana alam ini adalah akibat langsung dari tangan-tangan manusia yang lupa akan amanah menjaga bumi. Sampah plastik yang menyiksa biota laut, hutan yang gundul, udara yang tercemar semuanya adalah wujud nyata dari zhahara al-fasad yang diperingatkan Allah 14 abad silam.
“Para ahli lingkungan mengingatkan Lingkungan ini bukan warisan dari nenek moyang kita, melainkan pinjaman dari generasi yang akan datang," ujar Prof. Irfan Idris. Maka jangan pernah kita mengotori atau membiarkan lingkungan kita tercemar, hanya karena ketidakmampuan kita menterjemahkan makna al-imsak yang kita latih selama sebulan penuh di bulan Ramadan.
Empat Manifesto Puasa dan Kesadaran Ekologi
Berikut adalah empat manifesto konkret bagaimana puasa Ramadan dapat memperkuat kesadaran ekologi kita:
1. Pola Konsumsi yang Bijak Meninggalkan Budaya Balas Dendam
Salah satu paradoks Ramadan yang sering kita lakukan adalah: siang hari berpuasa menahan lapar, namun menjelang buka puasa, meja makan dipenuhi aneka ragam makanan melebihi kebutuhan. Kita tanpa sadar hanya memindahkan waktu makan, bukan sungguh-sungguh menahan diri.
Allah SWT berfirman:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)
Al-israf (perilaku berlebihan) bukan hanya dosa moral, melainkan juga disebut sebagai dosa ekologi. Konsumsi berlebihan bukan hanya merusak kesehatan menyebabkan kolesterol, asam urat, hipertensi, penyakit jantung di usia muda tetapi juga merusak keseimbangan alam.
Al-imsak menahan diri bukan sekadar menahan makan dan minum di siang hari. Maknanya jauh lebih luas: "bukan hanya al-imsak minat tha'am was-syurb, tetapi bagaimana kita menahan diri di dalam menjaga sumber makanan dan sumber air kita."
2. Zero Waste Ramadan, Ramadan Tanpa Sampah Plastik
Ada paradoks sosial yang memprihatinkan setiap Ramadan: di siang hari kita menahan diri dari segala godaan, namun di malam hari saat berbuka dan takjil kita justru membebani bumi ini dengan sampah.
Berdasarkan penelitian terbaru tahun 2025, Kota Jakarta saja menghasilkan sekitar 20 ton sampah setiap harinya. Bayangkan jumlah itu di kota-kota dan daerah lain di seluruh Indonesia. Inilah yang dimaksud dengan paradoks sosial Ramadan: menahan diri di siang hari, namun membebani bumi di malam hari.
Gerakan Zero Waste Ramadan adalah langkah nyata yang dapat kita mulai hari ini: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat takjil, membawa wadah sendiri, dan membiasakan membuang sampah pada tempatnya.
3. Empati terhadap yang Kekurangan
Puasa melatih kita memiliki empati dan kepekaan terhadap lingkungan. Bagaimana merasakan saudara-saudara kita yang kelaparan? Kita bersyukur memiliki segalanya, tetapi bukan segalanya dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Di setiap sudut kota, terkadang pandangan kita dihentikan oleh seseorang yang jangankan makan, tidur saja tidak menentu karena dia homeless. Inilah yang harus kita pelihara bagaimana kita mengonsumsi segala kebutuhan secara bijak, dan peduli terhadap sesama yang kekurangan.
4. Tanggung Jawab Kosmik Mewarisi Bumi yang Baik
Puasa Ramadan bukan hanya melahirkan watak yang bertakwa, tetapi juga melahirkan tanggung jawab kosmik tanggung jawab kepada alam ini. Kalau ketakwaan kita sudah bersifat individual, bagaimana dengan lingkungan kita?
Ramadan melatih kesabaran kita, melatih kita untuk senantiasa beristighfar. Dan kesadaran itu harus meluas: dari diri sendiri, kepada sesama manusia, hingga kepada alam semesta yang diamanahkan Allah kepada kita.
Ramadan sebagai Bengkel: Diuji Selama Sebelas Bulan
Bulan suci Ramadan ibarat bengkel bagi para pembalap. Selama sebulan penuh kita diservis dan dilatih bukan untuk menjadi pemenang di akhir bulan itu, melainkan untuk diuji selama sebelas bulan ke depan sepanjang tahun. Apakah kita lulus sebagai orang yang bertakwa, atau hanya turut ramai saja? Di dalam ajaran agama, kita tidak diminta untuk mengajar, tetapi kita selalu diminta untuk saling mengingatkan. Sebagaimana firman Allah:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyat: 55)
Ada nasihat yang patut kita renungkan bersama: "Jadilah pintar tapi tidak menggurui. Jadilah tajam tapi tidak melukai. Jadilah terdepan tapi tidak mendahului." Inilah watak orang yang bertakwa selalu hadir menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari permasalahan.
Penutup: Meningkatkan Kesalehan Ekologi
Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai tonggak kebangkitan kesalehan ekologi kita. Berpuasalah bukan hanya dari makanan dan minuman, tetapi juga dari perilaku-perilaku yang merusak alam. Karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah, dan merusaknya adalah bagian dari dosa ekologi.
Kita senantiasa berharap agar Masjid Istiqlal terus dipadati oleh jemaah untuk meraih ridha dan ampunan Allah SWT. Dan semoga dari masjid yang mulia ini, lahir generasi muslim yang tidak hanya saleh secara individual dan sosial, tetapi juga saleh secara ekologi menjaga bumi sebagai amanah untuk generasi mendatang.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kamidan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf: 23)
(HERUL/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.