Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Istiqlal: Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Administrator 25 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: K.H. Mas’ud Halimin, MA

Memasuki hari kelima tarawih di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Wakil Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan BPMI KH Mas’ud Halimin menyampaikan tema yang sangat relevan bagi kehidupan masyarakat, yakni “Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan”.

KH Mas’ud Halimin membuka kajiannya dengan menegaskan bahwa perbedaan adalah sunnatullah sekaligus karunia yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 48:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat. Akan tetapi Allah menjadikan kamu berbeda-beda untuk menguji kamu terhadap apa yang telah Dia berikan kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Qs. Al-Maidah ayat 48)

Perbedaan bukan ancaman, melainkan medan untuk saling menyempurnakan dan berlomba menuju kebaikan (fastabiqul khairat). Hal ini diperkuat pula oleh firman Allah dalam Qs. Ar-Rum ayat 22:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum ayat 22)

Perbedaan bahasa, warna kulit, dan budaya adalah bagian dari ayatullah—tanda kebesaran Allah yang seharusnya menjadi pelajaran, bukan sumber perselisihan. Karena itu, sudut pandang kita perlu diubah: dari ancaman menjadi anugerah, dari sumber perpecahan menjadi rahmat Allah.

KH Mas’ud Halimin mengajak jamaah merenungi bahwa agama Islam secara substansial berdiri di atas empat pilar utama yang semuanya berporos pada rahmah.

Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tuhan yang kita sembah telah menetapkan sifat rahmah pada diri-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Qs. Al-An’am ayat 12:

قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

“Katakanlah, ‘Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?’ Katakanlah, ‘Milik Allah.’ Dia telah menetapkan rahmat atas diri-Nya.” (Qs. Al-An’am ayat 12)

Hal ini juga tercermin dalam Surah Al-Fatihah: Bismillahirrahmanirrahim Allah adalah Ar-Rahman yang rahmat-Nya menjangkau seluruh makhluk tanpa terkecuali, dan Ar-Rahim yang rahmat-Nya tak terhingga.

Kedua, Al-Qur’an. Kitab suci ini bukan hanya petunjuk, melainkan juga rahmat. Allah berfirman dalam Qs. Luqman ayat 2–3:

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ ۝ هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ

“Itulah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Qur’an) yang penuh hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. Luqman ayat 2–3)

KH Mas’ud mengajak umat untuk tidak sekedar mengejar khatam bacaan, melainkan berusaha memahami makna Al-Qur’an dengan membaca terjemahannya, sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi hudan (petunjuk) dan rahmah.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman dalam QS.Surah Al-Anbiya’ ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” 

Nabi Muhammad SAW bukan hanya membawa rahmat, keseluruhan pribadi beliau adalah rahmat, karena tidak satu pun ucapan beliau yang lepas dari tuntutan wahyu.

Keempat, Umat Islam. Kata “ummah” berasal dari “ummun” yang identik dengan rahim. Sebagai umat yang mengikuti Nabi Muhammad SAW, membaca Al-Qur’an yang penuh rahmat, dan menyembah Allah yang Maha Rahmat, sudah semestinya kita menampilkan diri sebagai rahmat bagi sesama.

Merujuk pada Surah Al-Hujurat, KH Mas’ud Halimin mengingatkan bahwa meski perbedaan adalah anugerah, ia tetap berpotensi memicu perselisihan. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat ayat 10)

Ayat ini sekaligus memerintahkan agar seorang mukmin bersikap aktif mendamaikan saudaranya yang berselisih, bukan berdiam diri atau menjadi penyulut perpecahan. KH Mas'ud juga menekankan agar tidak ada satupun golongan yang dapat merendahkan golongan lain, karena boleh jadi yang direndahkan justru lebih mulia di sisi Allah. Kacamata rahmah harus dikenakan oleh semua pihak: yang kaya terhadap yang miskin, yang memimpin terhadap yang dipimpin, dan sebaliknya.

Pesan penutup KH Mas’ud Halimin kembali merujuk pada penggalan QS. Al-Maidah ayat 48:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Qs. Al-Maidah ayat 48)

Dalam konsep ruang publik (public sphere), cara memenangkan ruang bukan dengan menjatuhkan orang lain, melainkan dengan menampilkan yang terbaik dari diri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan pada sebuah ungkapan hikmah: 

“Orang yang bodoh adalah orang yang merendahkan orang lain untuk mengangkat dirinya. Sementara orang yang cerdas adalah orang yang melihat yang lebih lemah, lalu mengangkatnya agar setara dengan dirinya.”

Di bulan Ramadhan yang menjadi bulan rahmah ini, KH Mas’ud mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan diri sebagai rahmat: merawat ukhuwah, menghargai perbedaan, dan berlomba-lomba dalam kebaikan demi mewujudkan agama, umat, dan bangsa yang menjadi rahmat bagi semua.

Ditranskrip dan disarikan dari tayangan YouTube Masjid Istiqlal TV

(FAISAL/Humas dan Media Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.