Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Istiqlal: Peran Perempuan Terhadap Zaman Rasulullah SAW

Admin 26 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Nyai Hj. Dra Badriah fayumi LC, MA


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kita semua berada di sini karena ingin menjadi hamba yang bertakwa. Kita berada di sini karena Allah SWT telah memerintahkan kita untuk beribadah kepadanya baik ibadah badaniah maupun ibadah maliah, ibadah dengan tubuh lisan dan jiwa dan juga ibadah maliah yakni ibadah dengan harta seperti zakat infak shodaqoh dan lainnya.

Allah subhanahu wata’ala banyak memerintahkan kita untuk melaksanakan salat zakat, puasa, Haji dan amal kebaikan lain dalam al-quran.

namun kemudian Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam lah yang memberikan penjelasan dengan sedetail-detailnya, sehingga tanpa penjelasan Rasulullah Dalam Hadis beliau baik berupa ucapan tindakan maupun penetapan kita tidak akan bisa melaksanakan dengan sempurna apa yang menjadi perintah Allah SWT dalam shalat misalnya Rasulullah SAW bersabda,


عَنْ مَالِكِ بْنِ
الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Artinya: Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]
15:55

dan benar memang Al-Qur'an tidak menjelaskan lima waktu apa saja rakaatnya berapa dan Bagaimana syarat rukunnya itu dijelaskan oleh hadist.

Oleh karena itu, tidak mungkin bagi kita sebagai seorang muslim untuk menjadi seorang yang berislam secara Kafah tanpa mengetahui dan bersandar kepada hadist nabi Muhammad SAW dan ketika kita menyandarkan diri dan merujuk kepada hadis Nabi SAW, tidak mungkin kita merujuknya tanpa melalui sahabat tabiin dan generasi berikutnya yang meriwayatkan hadis tersebut, dan tidak mungkin juga kita bisa memahami mengetahui hadis secara utuh untuk menjadi pedoman kita, kaum laki dan perempuan tanpa memahami, mengerti bahwa di dalam hadis tersebut ada ajaran-ajaran penting tentang perempuan dan ada aktor-aktor penting perempuan dalam proses periwayatan dan sekaligus menjadi periwayat Hadis.

Ketika kita bicara tentang hadis, maka kita sudah pasti bara tentang sahabat, sahabat dalam pengertian ulmul hadis bukanlah sahabat dalam pengertian anak muda sekarang yang disebut Besti, tetapi sahabat dalam pengertian mustalahat agama adalah orang yang bertemu Nabi dalam keadaan mengimaninya dan kemudian meninggal dalam keadaan muslim.

Di antara sahabat tersebut banyak sahabiat atau sahabat perempuan yang memiliki peran yang sangat luar biasa penting dan signifikan dalam periwayatan dan sekaligus menjadi periwayat Hadis. Di antaranya yang pertama sahabiat atau sahabat perempuan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam adalah pelaku sejarah yang sangat berperan di saat-saat yang penting dan genting, Ummul mukminin Khadijah RA.

Ketika Rasulullah SAW pulang dari gua Hira dalam keadaan menggigil ketakutan karena menerima wahyu yang tidak beliau sangka-sangka, maka Khadijah lah yang kemudian menenangkannya dan meyakinkannya bahwa itu bukanlah halusinasi.

Tidak cukup hanya itu Ummul mukminin Khadijah menjadi orang yang pertama kali beriman sebelum yang lain beriman dan melakukan konfirmasi atas apa yang disampaikan kepada Rasulullah SAW kepada seorang ahli kitab sepupu beliau waraqah bin Naufal untuk memastikan bahwa yang diterima Rasulullah adalah benar-benar wahyu.

Dalam hadist pertama kitab sahih Bukhari peran Ummul mukminin Khadijah RA ini diterangkan dengan sangat jelas artinya apa bahwa perempuan di masa Rasulullah Sallallahu alaii wasallam adalah pelaku sejarah yang sangat penting di saat-saat yang genting.

Begitu juga Ummul mukminin Ummu Salamah RA, pada saat Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan perjalanan umrah dari Madinah ke Makkah dan dicegat kemudian tidak diperbolehkan untuk sampai ke Makkah. Terhenti di Hudaibiyah terpaksa di situ Nabi SAW harus melakukan tahalul di hudaibiah, para sahabat enggan karena bersedih dan kecewa lalu hadir Ummu Salamah memberikan nasihat yang jitu kepada Rasulullah SAW,

“Ya Rasul tidak usah Engkau memerintahkan apa-apa, lakukanlah saja cukur rambut dan potong hadyu di depan para sahabat,”  Ummul mukminin Ummu Salamah RA telah menjadi aktor sejarah di saat-saat yang penting dan genting dalam umrah Hudaibiah.

Peran perempuan sahabiat dalam periwayatan hadis sungguh sangat banyak penting dan signifikan sahabiat juga menjadi pelaku sejarah bersama-sama dengan Rasulullah SAW dalam melakukan pembentukan hukum Islam.

Kita tahu bagaimana relasi suami istri bagaimana keluarga nabi dari ummahatul muminin di periode Madinah, dari Ummul mukminin Aisyah ,Maimunah Ummu Habibah dan lain-lain.

Kit tahu betapa Rasulullah SAW adalah suami dan kepala keluarga yang luar biasa menjadi idola istrinya, beliau tidak pernah melakukan kekerasan sedikit pun, jangankan kepada istri bahkan kepada binatang di rumahnya saja tidak pernah dan itu kita ketahui dari riwayat istri beliau SAW.

Kita tahu bagaimana Rasulullah SAW shalatnya di rumah, menjamu tamu, cara beliau dengan ringan membantu istrinya di dapur, ketika tiba waktu salat beliau keluar untuk mengimami, kita tahu itu semua dari istri nabi SAW yang bersama-sama dengannya,  membersamai beliau SAW dalam proses pembentukan hukum dan akhlak Islam, kita juga tahu betapa Rasulullah SAW tidak pernah melarang perempuan yang punya kesempatan dan punya kemauan untuk berjuang aktif di tengah-tengah masyarakat.

Dari kisah Nusaibah binti Ka’ab atau Ummu Imarah dan para sahabat yang berperan dan berperang di Perang Uhud, kita tahu bahwa Rasulullah SAW mempersilakan mereka untuk bersama-sama bahkan Ummu Imarah menjadi perisai hidup Rasulullah SAW di saat Perang Uhud. Dari merekalah kita tahu bahwa perang memang tidak diwajibkan bagi perempuan tetapi Rasulullah SAW tidak pernah melarang ketika perempuan ingin berjuang bersama-sama dengan kaum lelaki.

Dengan segenap jiwa dan raganya, bahkan Rasulullah SAW memberikan doa khusus kepada Ummu Imarah yang ingin nanti ketika di surga bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Rasulullah berdoa “Ya Allah jadikanlah Ummu imarah dan keluarganya sebagai teman-temanku di surga nanti”

Peran sahabiat atau sahabat perempuan Nabi SAW tidak hanya berhenti di situ para sahabiat inialah orang-orang dan kelompok perempuan yang aktif bertanya dan rajin belajar mereka pecinta ilmu.

Kalau hari ini kita terbiasa melihat dan menjadi anggota Majelis Taklim kaum Ibu, para sahabiat di masa Rasulullah SAW telah melakukan itu adalah sahabat Asma binti Yazid yang dikenal sebagai juru bicara perempuan.

Ansar meminta waktu pada Rasulullah SAW untuk ada majelis taklim khusus untuk kaum perempuan dan nabi SAW menyetujuinya, kita bisa belajar dari Hindun binti utbah yang mengadu kepada nabi SAW mengenai suaminya yang kaya raya Abu Sufyan tetapi pelitnya luar biasa, sehingga beliau bertanya, “Bagaimana jika saya mengambil duit suami saya ya Rasulullah untuk keperluan saya dan anak-anak saya karena suamiku pelit?”

Jawab nabi SAW, “Ambil secukupnya untukmu dan anakmu dengan cara yang Makruf yang penting tidak dengan cara yang tidak benar.”

Dari Zainab istri Ibnu Mas'ud kita tahu bahwa ketika dalam suatu keluarga, jika suami suatu saat mengalami keterpurukan ekonomi dan istri yang mendapatkan kesempatan mendapat rezeki dari Allah, maka Zainab bertanya kepada nabi SAW, “Bagaimana Kalau saya memberikan nafkah dari uang saya untuk Ibnu Mas'ud dan anak-anaknya Ya Rasulullah?”

Rasulullah memberikan jawaban yang luar biasa menenangkan dan menyenangkan hati, “bagimu ada dua pahala : pahala silaturahim dan pahala shadaqah”  

Luar biasa peran perempuan yang sedemikian rupa. Sehingga Aisyah RA menyampaikan apresiasinya kepada para muslimah Anshor. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita dari kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi diri mereka untuk mendalami ilmu agama.” (HR. Muslim)

Tidak pakai malu-malu ketika ingin bertafaquh atau bertanya, mendalami ilmu agama, Alhamdulillah kita telah mendapatkan contoh-contoh yang luar biasa dari para sahabiat dalam proses periwayatan hadis ini.

Tidak cukup sampai di situ, para sahabiat di masa Rasulullah SAW ada juga para penyampai hadis yang handal dan piawai yaiu Ummul mukminin Aisyah RA, adalah satu dari tujuh sahabat yang meriwayatkan paling banyak hadis.

Dalm khazanah Islam bersama Abu Hurairah Ibnu Umar Ibnu Mas'ud Ibnu Abbas Jabir bin Abdullah dan Abu Said alkudri, beliau meriwayatkan lebih dari 2.200 hadis dan banyak sahabat yang menjadi penyampai, guru, para ulama besar juga tidak malu dan tidak gengsi berguru kepada para perempuan-perempuan yang Alimah.

Imam Syafii punya guru yang namanya sayidah Nafisah cicit Rasulullah dari jalur Hasan bin Ali imam Malik punya guru yang nama Aisyah Ibnu Said Imam,  Ahmad bin hambal punya guru yang bernama Sofiah binti Maimunah yang merupakan ibunda beliau sendiri jadi merupakan hal yang biasa perempuan mengajar dan belajar kepada laki-laki.

Laki-laki mengajar dan belajar kepada perempuan tidak dilihat dari jenis kelaminnya, tapi dilihat dari ilmunya para sahabat terbiasa belajar dan bertanya kepada Ummul mukminin Aisyah radhiallahu anha.

Oleh karena itu sahabat-sahabat dan perempuan-perempuan setelahnya dalam periwayatan hadis ini adalah perempuan-perempuan yang layak kita jadikan inspirasi.

Muhammad Akram nadwi menulisdalam kitab “almuhadditat the women scholars in Islam” Beliau mencatat ada 8.000 perawi Hadis perempuan lintas generasi yang berjasa meriwayatkan hadis Imam azzahabi Imam ahli hadis kritikus hadis yang hidup pada abad 7 sampai 8 Hijriah, beliau menulis Kitab kritik hadis yang menulis para perawi yang punya cacat yang hadisnya tidak bisa diterima atau ditinggalkan beliau menyampaikan pandangan dari sekian banyak orang yang saya kritisi hadisnya karena hadisnya cacat atau ditinggalkan, dan tertuduh Dusta perawinya dan tidak ada satupun perempuan perawi Hadis yang masuk dalam catatan tersebut ini artinya apa Ibu dan Bapak sekalian bahwa dalam periwayatan hadis perempuan selain meriwayatkan menjadi guru dan menjadi murid kredibilitas mereka juga diakui oleh kritikus-kritikus hadis terkemuka.

Maa sir, mukminin rahimakumullah peran yang tidak kalah penting juga adalah para sahabat ini menjadi penyampai aspirasi kaumnya ada persoalan ada unek-unek disampaikan kepada Rasulullah SAW.

Misalnya pernah 70 perempuan datang kepada Rasulullah mengadukan suaminya yang suka melakukan kekerasan Nabi kemudian langsung melarang tidak boleh ada kekerasan dalam rumah tangga.

Kemudian keesokan harinya para suami kembali ngadu kepada Nabi Ya Rasulullah kalau dilarang seperti itu istri-istri kami nanti pada ngelonjak “dairna” begitu bahasanya maka apa kemudian yang disampaikan Rasulullah SAW :

لَقَدْ طَافَ بِآلِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيرٌ يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ أُولَئِكَ بِخِيَارِكُمْ

Sungguh para perempuan telah mendatangi kediaman keluarga Muhammad mengadukan perlakuan (kasar) suami mereka. Mereka (yang berlaku kasar kepada keluarga) itu bukanlah orang yang baik di antara kalian (HR. Abu Dawud no. 2146).

subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahu akbar dan yang tidak kalah penting juga sahabat Aisyah beliau dikenal juga sebagai kritikus hadis yang luar biasa Demi apa hadis dikritik demi menyelamatkan otentisitas atau keaslian hadis.

dari salah paham suatu hari pernah ada dua orang menghadap beliau menyampaikan riwayat dari sahabat Abu Hurairah RA katanya Abu Hurairah mendengar dari nabi ada tiga kesialan yaitu rumah perempuan dan kuda.

Ibu Aisyah mendengar itu langsung melakukan koreksi demi Allah yang menurunkan kitab kepada Muhammad SAW, tidak seperti itu rasulullah SAW tidak pernah mengatakan seperti itu.

yang dikatakan Rasulullah SAW adalah orang-orang jahiliah punya pun pemikiran punya keyakinan dan punya prediksi kalau kesialan ada dalam tiga hal justru umat Islam tidak boleh berpikir seperti orang jahiliah tersebut berpikir.

Sehingga tidak boleh kita menganggap ada kesialan di rumah ada kesialan dalam perempuan ada kesialan dalam kuda ataupun kendaraan Maasir.

Inilah beberapa peran penting sahabat di masa Rasulullah SAW Tanpa mereka kita tidak akan tahu banyak hukum, banyak akhlak,dan  banyak relasi laki-laki dan perempuan dalam hadis nabi maka kita penting untuk membacakan “manakib” dan memberikan apresiasi radhiallahu anhumallah bersama-sama dengan para sahabat.

Dari peran-peran para sahabiat dan perempuan periwayat hadis ini, hikmah yang bisa kita ambil ialah bahwa pada masa Rasulullah Saw sejak awal Islam turun, sejak Turunnya wahyu di Makkah dan masa pembentukan hukum di Madinah, perempuan senantiasa berperan penting dalam proses pembentukan hukum Islam dakwah Islam dan penetapan akhlak Islam.

Kemudian, kedua, bahwa perempuan pada masa Rasulullah sudah memberikan contoh teladan yang sedemikian luar biasa demikian juga Nabi telah memberikan contoh yang luar biasa. Bagaimana merespon memberi ruang memberi solusi kepada perempuan sesuatu yang memberikan maslahat dan manfaat bagi laki-laki dan perempuan sekaligus.

Oleh karena itu pada hari ini perempuan muslimah dengan beriktibar kepada para sahabiat dan para Sahabat kita menjadi perempuan-perempuan pecinta ilmu perempuan yang tangguh Iman perempuan yang kokoh.

perempuan yang siap berjuang dan berjihad perempuan yang kritis dan sekaligus perempuan yang peduli dan berani untuk menyuarakan aspirasi kaumnya sebagaimana para sahabiat menyuarakan aspirasi kaumnya, begitu juga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Para pemimpin hendaknya seperti rasulullah yang memberikan ruang kesempatan mendengar melibatkan bersama-sama dengan kaum perempuan baik di dalam proses pembentukan hukum dalam interaksi sehari-hari dan bahkan memberikan kesempatan khusus kepada perempuan ketika mereka membutuhkan perhatian dan ilmu ilmu yang khusus.

Insyaallah dengan mengambil contoh peran nabi dan para sahabiat ini kalau kita Indonesia Menteri Agama kita memiliki cita-cita Indonesia ingin menjadi kiblat negara muslim dunia

Insyaallah akan tercapai jika relasi dan kualitas perempuannya mirip-mirip kualitas sahabiat dan juga para pemimpinnya memiliki mental dan sikap sebagaimana Rasulullah SAW Semoga Allah subhanahu SWT memudahkan kita semua kaum perempuan dan laki-laki untuk meniru Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabiat. (RAKA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.