Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Jumat Istiqlal: Membumikan Al-Qur'an, Melangitkan Ajaran-Nya

Administrator 13 Mar 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Muchlis M. Hanafi, M.A
(Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag)

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan jalan menuju keselamatan di akhirat. Allah Swt berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang Muslim.” (QS. Âli 'Imrân: 102)

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh, 
Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada umat ini adalah diturunkannya Al-Qur'an. Kitab suci yang menjadi cahaya bagi hati, petunjuk bagi kehidupan, serta pembeda antara yang benar dan yang salah.

Al-Qur'an adalah wahyu yang datang dari langit, diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Allah Swt. berfirman:

“Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa Al-Qur'an diturunkan untuk menerangi perjalanan hidup manusia dan menuntunnya agar tetap berada di jalan yang benar. Karena itu, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur'an tidak boleh berhenti pada bacaan dan hafalan semata. Al-Qur'an harus menjadi pedoman hidup yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak.

Oleh karenanya, wahyu yang turun dari langit harus kita hadirkan dalam kehidupan di bumi, agar nilai-nilainya membimbing manusia menuju kehidupan yang lurus, bermakna, dan penuh kemuliaan iman serta akhlak. Pertanyaannya adalah: bagaimana wahyu itu kita hadirkan dalam kehidupan di bumi, sehingga nilai-nilainya mampu mengangkat manusia menuju kemuliaan iman dan akhlak? Inilah yang akan kita renungkan bersama pada khutbah hari ini seputar “Membumikan Al-Qur'an, Melangitkan Ajarannya.”

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Membumikan Al-Qur'an berarti menjadikan ajarannya hidup dalam pikiran, perilaku, dan tatanan kehidupan masyarakat. Al-Qur'an tidak berhenti sebagai bacaan di lisan, tetapi menjadi pedoman yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Setidaknya ada beberapa langkah penting untuk membumikan Al-Qur'an dalam kehidupan.

Pertama, dari tilawah menuju pemahaman. Al-Qur'an memang dianjurkan untuk dibaca, bahkan setiap hurufnya bernilai pahala. Namun membaca saja belum cukup. Begitu pula tidak cukup hanya dengan dihafal dan didengarkan. Al-Qur'an juga harus dipahami dan direnungkan maknanya.

Allah berfirman:

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an?” (QS. An- Nisa: 82)

Ayat ini mengingatkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar untuk dilantunkan, tetapi juga untuk ditadabburi—dipikirkan, direnungkan, dan dipahami pesan-pesannya. Ketika Al-Qur'an dipahami, ia tidak lagi hanya terdengar di telinga, tetapi mulai hidup dalam hati dan pikiran manusia.

Kedua, dari pemahaman menuju akhlak. Pemahaman terhadap Al-Qur'an harus tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Al-Qur'an bukan hanya berbicara tentang hukum dan ibadah, tetapi juga tentang kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keadilan.

Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, beliau menjawab dengan kalimat yang َsangat singkat namun mendalam: ”Akhlak beliau adalah Al-Qur'an.” (HR. Muslim)

Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an benar-benar hidup dalam pribadi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Apa yang diajarkan oleh Al-Qur'an, itulah yang beliau praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, kita tidak boleh berhenti pada “tajwid, dalam arti memperindah, bacaan”, tetapi juga harus meningkat dengan “tajwid amalan”.

Ketiga, dari akhlak menuju kehidupan sosial. Ketika nilai-nilai Al-Qur'an hidup dalam pribadi manusia, ia akan memancar dalam kehidupan masyarakat. Al-Qur'an tidak hanya membentuk individu yang saleh, tetapi juga melahirkan masyarakat yang adil dan beradab.

Nilai-nilai seperti kejujuran dalam perkataan dan perbuatan, keadilan dalam mengambil keputusan, kepedulian kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan, menjaga amanah dalam setiap tanggung jawab, serta memelihara alam dan kehidupan sebagai wujud amanah manusia sebagai khalifah di bumi, semuanya merupakan manifestasi ajaran

Al-Qur'an dalam kehidupan sosial. Apabila nilai-nilai ini benar-benar hidup dalam diri umat, maka Al-Qur'an tidak hanya dibaca di masjid dan rumah- rumah, tetapi juga tampak dalam perilaku, dalam kebijakan, dan dalam kehidupan masyarakat. Di situlah Al- Qur'an benar-benar membumi dalam kehidupan umat.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Ketika Al-Qur'an kita bumikan dalam kehidupan, maka ajaran itu tidak membuat manusia “terikat pada bumi”. Justru sebaliknya, nilai-nilai Al-Qur'an akan mengangkat derajat manusia menuju kemuliaan yang lebih tinggi.

Inilah makna dari ungkapan melangitkan ajarannya: bahwa ajaran Al-Qur'an menuntun manusia naik menuju derajat iman, ilmu, dan akhlak yang luhur. Allah Swt. berfirman: ُ

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian.” (QS. Al- Mujadilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa iman dan ilmu yang keduanya dibimbing oleh wahyu akan mengangkat manusia kepada derajat yang tinggi di sisi Allah. Al-Qur'an tidak hanya memberi aturan, tetapi juga mendidik manusia menjadi pribadi yang lebih mulia.

Dengan bimbingannya, manusia diangkat dari kegelapan menuju cahaya, dari kejahilan menuju ilmu, dari kerusakan moral menuju kemuliaan akhlak, serta dari dominasi materi dan hawa nafsu menuju kehidupan spiritual yang luhur, yang mendekatkan manusia kepada kemuliaan sifat-sifat malaikat. Allah juga berfirman:

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Ibrahim: 1)

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an memiliki misi besar: membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju kehidupan yang terang dan bermartabat. Karena itu, ketika ajaran Al-Qur'an benar-benar kita hayati dan amalkan, ia bukan hanya membentuk kehidupan yang baik di bumi, tetapi juga mengangkat manusia menuju ketinggian iman, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlak.

Di situlah makna sejati dari melangitkan ajaran Al-Qur'an: nilai-nilainya menuntun manusia untuk hidup dengan martabat yang tinggi di hadapan Allah dan di tengah kehidupan sesama manusia. Maka, ketika Al-Qur'an benar- benar kita hidupkan di bumi, sesungguhnya manusia sedang dipersiapkan untuk mencapai kemuliaan yang lebih tinggi di sisi Allah.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Salah satu tantangan yang kita hadapi hari ini adalah kenyataan bahwa Al-Qur'an begitu dekat dengan lisan kita, tetapi belum selalu dekat dengan perilaku kita. Di banyak tempat, Al-Qur'an dibaca dengan indah, dilantunkan dengan tajwid yang baik, bahkan dihafal oleh banyak generasi muda.

Lomba-lomba tilawah dan tahfiz diselenggarakan dengan meriah, dan itu tentu patut kita syukuri. Namun kita juga harus jujur melihat diri kita. Sering kali Al-Qur'an berhenti pada tilawah, hafalan, dan sima'an, tetapi belum sepenuhnya hidup dalam cara kita bersikap dan menjalani kehidupan.

Padahal Al-Qur'an diturunkan bukan hanya untuk didengar atau dilantunkan, tetapi untuk dijadikan pedoman hidup yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama.

Karena itu, kedekatan seseorang dengan Al-Qur'an tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia membaca atau menghafalnya, tetapi dari sejauh mana nilai-nilainya tercermin dalam perilakunya. Apakah Al-Qur'an telah menjadikan kita lebih jujur dalam bekerja, lebih adil dalam mengambil keputusan, dan lebih peduli terhadap mereka yang lemah dan membutuhkan?

Inilah tantangan bagi umat Islam hari ini: bagaimana menjadikan Al-Qur'an tidak hanya terdengar di telinga, tetapi juga hidup dalam hati dan nyata dalam tindakan.

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullah, Pada akhirnya, hubungan seorang Muslim dengan Al- Qur'an tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap keindahan bahasanya atau kemerduan lantunannya. Al-Qur'an adalah amanah yang harus dijaga dan dihidupkan dalam kehidupan umat.

Setidaknya ada tiga sikap yang harus kita bangun dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an. Saya menyebutnya trilogi interaksi dengan Al- Qur'an.

Pertama, membaca, menghafal, dan mendengarkan Al- Qur'an dengan penuh kecintaan. Ia dibaca, dihafal, dan didengarkan, baik dalam kesendirian maupun kebersamaan, di rumah maupun di masjid, sebagai sumber ketenangan jiwa dan pengingat akan jalan hidup yang benar.

Kedua, memahami dan mentadabburi maknanya. Al- Qur'an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga direnungkan pesan-pesannya, agar hati semakin dekat dengan petunjuk Allah dan manusia mampu melihat arah kehidupan dengan lebih jernih.

Ketiga, mengamalkan dan mendakwahkan nilai-nilainya dalam kehidupan. Nilai-nilai Al-Qur'an harus tercermin dalam akhlak, dalam keputusan yang kita ambil, serta dalam cara kita berinteraksi dengan sesama.

Apabila trilogi ini kita jalankan, maka Al-Qur'an tidak hanya menjadi kitab yang kita baca, tetapi benar-benar membumi dalam kehidupan manusia. Dan ketika nilai-nilainya kita hayati dan amalkan, ajaran Al-Qur'an akan mengangkat manusia menuju kemuliaan iman, keluasan ilmu, dan keluhuran akhlak.

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullah, Di tengah berbagai perubahan zaman, Al-Qur'an tetap menjadi cahaya yang tidak pernah padam bagi kehidupan manusia. Al-Qur'an diturunkan dari langit agar manusia tidak tersesat dalam perjalanan hidupnya di bumi.

Maka tugas kita adalah membumikan nilai-nilainya dalam kehidupan. Dan ketika itu kita lakukan, ajaran Al-Qur'an akan mengangkat manusia menuju langit kemuliaan.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.