Oleh: Drs. KH. Abubakar Rahziz, M.A
Pimpinan Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits Pd. Gede dan Ketua MUI Kota Bekasi
Sembah sujud, puji syukur, jangan kita kendor apalagi berhenti untuk senantiasa dijalankan, diamalkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah menciptakan kita ke muka bumi ini tujuannya adalah untuk itu. Dan Allah senang pada hamba yang banyak memuja dan memuji serta banyak bersyukur kepada-Nya. Shalawat dan salam mari kita perbanyak membacanya kepada baginda Rasul yang paling rahmah, paling toleran, paling pemaaf yakni baginda Rasulullah Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wa Sallam.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah, Alhamdulillah kita ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala hidup di negeri yang majemuk suku, budaya, agama dan keyakinannya, namun dapat hidup berdampingan dengan rukun, damai, aman, dan bersatu karena Indonesia ini memiliki Islam Wasatiyah (Islam moderat) yang rahmatan lil ‘alamin, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Kerukunan antar umat beragama, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang aman, adil, damai dan bersatu, serta persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah) dan persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathoniyah) adalah syarat mutlak agar kita manusia yang memang Allah ciptakan berbeda-beda dan bangsa yang majemuk ini dapat menjalankan ajaran agama, beribadah, bekerja, beraktivitas sehari-hari, bepergian, hingga membangun dengan tenang, nyaman, aman, tanpa ketakutan dan kekhawatiran.
Ini semua tak lepas dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang diterjemahkan dan dijalankan oleh ulama dan umat Islam Indonesia yang merupakan umat dan anak bangsa mayoritas di negeri ini sebagai ajaran yang sejalan dengan kebangsaan dan kemanusiaan. Maka, kita umat Islam Indonesia mengenal Trilogi Ukhuwah, yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa) dan Ukhuwah Insaniyah atau Basyariyah (persaudaraan sesama manusia), yang ketiganya merupakan implementasi dari Islam Rahmatan lil Alamin.
Trilogi ukhuwah yang pertama kali dikenalkan oleh KH Ahmad Shiddiq ini adalah ajaran dan praktek Islam di Indonesia yang sangat luar biasa, karena menjadi pilar penting persatuan Indonesia, fondasi kerukunan sesama umat Islam, sesama anak bangsa, dan sesama manusia, dan sekaligus menjadi inspirasi dunia.
Maasyiral Muslimin Rshumakumullah.
Izinkan saya menguraikan secara singkat dua ajaran Islam yang sangat mendasar dan menjadi ruh bagi terwujudnya persaudaraan lintas iman yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ukhuwah wayhoniyah dan ukhuwah basyariyah ini. Ajaran itu adalah Rahmah dan Akhlakul Karimah.
Maasyiral muslimin rahimakumullah. Pertama, rahmah. Rahmah adalah ajaran Islam yang sangat fundamental. Rahmah merupakan sifat Allah yang paling utama, disebut pertama dan paling banyak disebut dalam al-Qur'an. Surat pertama yakni al Fatihah menyebut 4 kali sifat rahmah. Ayat pertama dalam surat pertama yaitu Bismillahirrahmanirrahim, menyebut dua sifat rahmah Allah, yaitu Rahman dan Rahim. Dalam Al Qur'an secara keseluruhan, sifat Rahman disebut sebanyak 57 kali dan rahim sebanyak 114 kali. Baik 57 maupun 114 adalah kelipatan 19 yang merupakan jumlah huruf dalam Basmalah. Subhanallah. Inilah salah satu mukjizat kata rahman, rahim dan basmalah yang menjadi intisari Al Fatihah.
Para ulama menjelaskan bahwa rahman mencakup kasih sayang Allah kepada semua makhlukNya tanpa kecuali, bahkan kepada makhluk yang durhaka dan tidak mau mengakui keberadaan Allah sekalipun. Dengan Rahman-Nya, semua makhluk diberi matahari dan udara yang sama, diberi rezeki dan diberi nikmat hidup di dunia. Sifat Rahman Allah inilah yang menjadi dasar teologi Islam mengenai persaudaraan sesama manusia, apapun agama dan keyakinannya. Sebagaimana Allah menyayangi dan memberikan rahmahNya kepada semua manusia, begitulah umat Islam seharusnya, menyayangi sesama manusia sebagai sesama anak Adam dan hamba Allah, apapun agama dan keyakinannya.
Begitu dahsyatnya sifat rahmah ini, sehingga orang-orang yang memiliki sifat rahmah kepada semua manusia dan makhluk Allah yang ada di bumi akan memperoleh Rahmah dari Allah dan para malaikat di langit. Rasulullah Saw bersabda,
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، اِرْحَمْوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
artinya “Orang-orang yang penyayang akan dikasihi oleh Allah yang Maha Penyayang. Sayangilah (kasihilah) siapa pun yang ada di bumi, niscaya yang di langit (Allah dan para malaikat) akan menyayangi kalian.”
Ini adalah perintah untuk memberikan kasih sayang kepada semua makhluk (manusia, hewan, tetumbuhan, alam) di bumi agar kita mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT dan para malaikatNya. Perbedaan suku, ras, jenis kelamin, status sosial, juga agama dan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang kasih sayang seorang mukmin kepada siapapun dan apapun yg ada di bumi, jika kita ingin menjadi hamba yang disayangi Allah dan malaikatNya.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.
Selain sifat utama Allah, Rahmah adalah juga tujuan utama dari diutusnya Rasulullah. Allah SWT berfirman dalam surat Al Anbiya [21] ayat 107
﴿وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧ ﴾
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Demikianlah Rahmah dalam Islam merupakan ajaran yang sangat mendasar dan sentral. Oleh karena itu, jika kita menjaga ukhuwah insaniyah dan basyariyah (persaudaraan sesama manusia) kepada siapa saja tanpa memandang keyakinan dan agama, maka itu artinya kita sedang menjadi pengamal sifat Allah, mewujudkan tujuan risalah Rasulullah, dan sekaligus menapaki jalan terbaik untuk mendapatkan Rahmat Allah.
Maasyiral Mualimin Rahimakumullah. Ajaran penting kedua yang mendasari Trilogi Ukhuwwah adalah Akhlakul Karimah. Rasuluulah Saw. telah mencontohkan bagaimana bersikap santun kepada sesama manusia apapun agamanya. Beliau setiap hari menyuapi seorang pengemis Yahudi di pasar Madinah yang buta dan sering mencaci maki Nabi. Sampai ketika beliau wafat, dan Abu Bakar ra. menggantikan Nabi menyuapi, Yahudi yang buta itu bertanya-tanya kok tidak seperti biasanya cara suapannya? Setelah diberi tahu oleh Abu Bakar ra. bahwa yang selama ini menyuapinya adalah orang yang sering dicacimakinya, Muhammad saw dan beliau sudah wafat, hati pengemis Yahudi itupun tersentuh, hingga kemudian bersyahadat.
Akhlakul Karimah luar biasa juga dicontohkan oleh Rasulullah Saw saat Fathu Makkah atau penaklukan kota Makkah. Beliau menaklukkan kota yang dicintainya namun penduduknya dulu sangat memusuhinya, menyiksanya bahkan ingin membunuhnya, hingga beliau berhijrah meninggalkannya. Namun saat kota itu ditaklukkan, tak ada satupun darah yang menetes. Semua dimaafkan dan dilindungi jiwanya.
Para tokoh yang paling memusuhinya karena perbedaan keyakinan tetap diberi kehormatan saat mereka menyatakan masuk Islam. Tidak ada balas dendam. Yang ada pengampunan. Inilah akhlak sangat terpuji Nabi Muhammad Rasulullah saw. Beliau mencontohkan betapa rshmah dan kemanusiaan mampu menyingkirkan dendam dan kemarahan atas penderitaan luar biasa yang dulu pernah diterima dari orang yang kini kalah tak berdaya di hadapannya.
Ukhuwah basyariyah atau insaniyah telah menjadikan perlindungan jiwa lebih Nabi utamakan, mengalahkan rasa sakit hati dan penderitaan tak terperi yang pernah beliau alami. Akhlak mulia ini justru yang membuat mereka yang memusuhinya berbalik mengimani dan mendukung dakwahnya. Itulah Rasulullah Saw, manusia agung yang disebut oleh Allah SWT dalam surat Al-Qalam [68] ayat 4,
﴿وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤ ﴾
Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah. Jika dalam al-Qur'an Nabi dipuji Allah sebagai manusia yang paling agung budi pekertinya, maka dalam suatu kesempatan ketika Ummul Mukminin Aisyah ra. ditanya oleh para sahabat, bagaimana akhlaknya Nabi? Ibu Aisyah menjawab , akhlak Nabi adalah al-Qur'an. Artinya Nabi adalah pengamal utama Al-Qur'an. Ini juga Nabi lakukan dalam relasi dengan umat yang berbeda agama dan keyakinan, antara lain dengan tidak pernah menghina sesembahan pemeluk agama lain, apalagi melakukan tindakan yang lebih menyakitkan daripada itu.
Allah SWT berfirman dalam surat Al An'am [6] ayat 108, yang berbunyi,
﴿وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٠٨ ﴾
Yang artinya : Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Bagaimana akhlak Nabi dalam hal ini ? Dalam catatan sejarah tidak pernah ada satu riwayatpun Rasulullah melukai hati umat agama lain dengan menghina sesembahannya. Bahkan sebaliknya, Nabi Muhammadlah tokoh sejarah dunia pertama yang menjadi peletak dasar Hak Asasi Manusia yang melindungi jiwa, harta, keluarga, kehormatan serta kebebasan beragama yang berbeda-beda. Piagam Madinah yang dideklarasikan Nabi pada tahun 622 M telah menjadi bukti bahwa Islam melindungi HAM termasuk kebebasan beragama, sejak abad ke-7 M di saat ،belahan dunia lain masih menjadikan manusia sebagai budak dan kebebasan beragama tidak diberi tempat hingga abad ke-20.
Akhlak qur'ani Rasulullah Saw. dalam dakwah juga sangat agung. Dakwah Nabi, sebagaimana dinyatakan dalam surat An Nahl ayat 125, adalah dakwah penuh hikmah dan mauidhah hasanah dengan jiwa rahmah dan uswatun hasanah. Jika ada perbedaan, bukan kekerasan, persekusi, atau penghinaan yang digunakan, melainkan dialog dengan menggunakan argumentasi yang logis (wa jadilhum billati hiya ahsan). Firman Allah dalam Surat An Nahl [16] Ayat 125 :
﴿ اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ﴾
Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Begitulah dakwah Nabi yang Qur'ani ; dakwah yang berbudi pekerti dan sekaligus dakwah yang menggunakan akal budi.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah. Dalam muamalah atau hubungan antar manusia, baik relasi sosial, hubungan bisnis, atau lainnya, akhlak Nabi juga teladan bagi kita umatnya. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang kerjasama antara muslim dengan non muslim, sejauh kerjasama itu didasari oleh tujuan yang baik, dilakukan dengan saling menghormati dan melindungi keyakinan masing-masing, tidak ada peperangan, pengusiran, dan kezaliman yang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mumtahanan [60] ayat 8.
﴿لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٨ ﴾
Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.
Dari Sirah Nabawiyah kita tahu bahwa Nabi melakukan kerjasama yang baik dengan saudara non muslim. Antara lain, penunjuk jalan Nabi saat hijrah ke Madinah bukan seorang Muslim. Saat hijrah ke Habasyah (Ethiopia), para sahabat Nabi diberikan suka politik oleh Raja an-Najasyi yang kala itu beragama Nasrani. Fakta-fakta sejarah ini menunjukkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang kerjasama selagi sesuai dengan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam surat Al-Mumtahanan ayat 8 di atas.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah. Mengapa perbedaan agama tidak boleh menghalangi ukhuwah insaniyah atau basyariyah ? Karena semua manusia adalah Bani Adam yang dimuliakan Allah, dan Allah memerintahkan kita untuk memuliakan Bani Adam sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Isra’ [17] Ayat 70 :
﴿۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ ٧٠ ﴾
Artinya : Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.
Kemuliaan setiap Bani Adam telah menjadi dasar perumusan ukhuwah insaniyah dan juga Maqashidus syariah yang pertama kalinya diteruskan oleh Imam as Syatibi, yakni bahwa syariat ada dengan tujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan/kehormatan, serta harta. Semua itu dalam rangka melindungi manusia karena mereka makhluk yang mulia. Atas dasar ini pula KH Abdurrahman Wahid berkata, ”Islam hadir untuk memuliakan kemanusiaan, bukan untuk menghapus kemanusiaan.”
Maasyiral muslimin rahimakumullah. Dengan menjalankan rahmah yang menjadi sifat utama Allah dan tujuan risalah Rasulullah, serta mencontoh akhlakul karimah Rasulullah dalam ukhuwah insaniyah termasuk dengan saudara kita yang berbeda agama, kita sejatinya telah menjalankan Islam yang rahmatan lil alamin, demi keluhuran Islam itu sendiri atau izzul Islam wal muslimin, menjaga keutuhan bangsa, dan sekaligus menjaga keberlanjutan kemanusiaan.
Dengan mengamalkan rahmah dan akhlakul karimah, in sya Allah hidup kita akan selamat dunia akhirat, dan sekaligus berkontribusi bagi dunia yang damai, umat beragama yang rukun, bangsa yang kuat dan bersatu, serta kemanusiaan yang terjaga. Semoga Allah SWT memberikan rahmat, pertolongan, dan hidayahNya untuk kita semua untuk istiqamah menjalankan ajaran-ajaran Allah dan mengikuti jejak langkah Rasulullah. Aamiin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.