Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Muslimah Inspiratif : Kisah Pelajaran dan Pembelajaran Untuk Ummat

Administrator 17 Jul 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Drs. KH. Hasanuddin Sinaga, M.A.

Dalam Al Qur’an dan Hadis serta Kitab kitab Sirah diceritakan banyak kisah – kisah. Al Qur’an sendiri lebih dari seperempat, sebagian ada yang menyatakan lebih dari sepertiga  isi kandungan Al Qur’an tersebut berisi kisah-kisah. Bahkan surah Yusuf isinya dari awal sampai akhir adalah kisah Nabi Yusuf a.s. sehingga Allah SWT mensifati surah Yusuf tersebut dengan اَحْسَنَ الْقَصَصِ 

" نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ........ (يوسف 3)"

Teori pendidikan mengungkapkan bahwa kisah merupakan salah satu metode yang efektif dalam menyampaikan pesan, dikenallah istilah metode “Story Telling”. Metode kisah ini dapat memberikan dampak psikologi maupun edukatif yang sempurna, tanpa merasa diperintah atau diberi instruksi. Melalui penyampaian kisah diharapkan terbangun karakter dan semangat dalam jiwa manusia.

معاثرالمسلمين

Kisah-kisah dalam Al Qur’an, hadis dan kitab-kitab Sirah tidak melulu menceritakan Tokoh/ Figur laki-laki. Dalam Al Qur’an diceritakan kisah tokoh Perempuan Mukminah seperti : Ummi Musa, Saudari Nabi Musa, Kisah dua putri Nabi Syu’aib, kisah Maryam, kisah Hannah istri Imran/ Ibu Maryam a.s. kisah Aasiah binti Muzahim istri Fir’aun, kisah Ratu Saba’ (Balqis), kisah Ummahatul Mu’minin istri-istri Nabi SAW, dan banyak kisah yang lain.

Dalam khutbah singkat ini, mari kita renungkan kisah beberapa tokoh/ figur Muslimah-muslimah untuk diambil pelajaran dan pembelajaran dalam kehidupan.

Yang pertama, kisah Maryam a.s.

Maryam adalah putri Imran (ayahnya) ibunya bernama Hanna. Siti Maryam adalah wanita suci yang dipilih Allah SWT. allah SWT berfirman :

وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ ........ (ال عمر : 42)

Bahkan sejak dalam kandungan, Ibunya bernazar, berjanji kepada Allah jika anak yang dikandung lahir maka anaknya tersebut akan dia serahkan ke Baitul Maqdis, untuk menjadi pengabdi kepada Allah dan penolong agama Allah.

اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ  ........ (ال عمر : 35)

Kata مُحَرَّرًا artinya orang yang merdeka. Tapi dalam ayat ini maksudnya adalah hamba yang shaleh dan berkhidmat kepada Allah. Artinya, seseorang yang ingin menjadi manusia merdeka maka syaratnya adalah jadilah hamba Allah saja. Bukan hamba harta, hamba dunia ! Hamba apa saja selain Allah membuat seseorang tidak merdeka dan terpenjara.

معاثرالمسلمين

Siti Maryam, Perempuan Shalehah, taat beribadah, menjaga kehormatan diri, apalagi terhadap lawan jenis, hidupnya hanya dihabiskan untuk mengabdi kepada Allah harus menghadapi kenyataan hidup, diejek, diolok-olok, difitnah. Menghadapi tekanan dan ujian sosial yang sangat berat saat melahirkan Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa, Siti Maryam juga merasa sakit, sedih dan tertekan sebagaimana disebutkan Beliau sampai dititik nadir ; titik terendah dalam jiwanya :

 قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا.......  (مريم : 23)

Siti Maryam meskipun merasa sakit, tertekan, berkeluh kesah akan nasibnya. Tapi keluh kesahnya hanya ia sandarkan kepada Allah. Bahkan Siti Maryam bernazar untuk tidak berkata-kata apapun kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah :

اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ  ……….   (مريم : 26)

Siti Maryam tidak berkata kepada siapapun, apalagi curhat (di Medsos), Beliau pasrah tawakkal, Allah yang akan menjawab semuanya, karena dia yakin bahwa dia adalah hamba Allah yang shalehah yang menjaga diri dan kehormatannya. Ada ungkapan bijak : “Ada saatnya diam itu lebih baik daripada membantah”. “Jangan katakan apapun kepada siapapun, karena sahabatmu tidak membutuhkan itu dan musuhmu tidak mempercayai itu”. Akhirnya, atas izin Allah, bayi anak Maryam yaitu Nabi Isa a.s. yang masih dalam ayunan berkata: 

قال إنى عندالله اتنى الكتب وجعلنى بــــيا 

Jawaban bayi dalam ayunan (Nabi Isa a.s.) menjadi bantahan dan bukti bahwa Siti Maryam adalah wanita suci yang dipelihara Allah SWT.

Kisah Siti Maryam ini mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan diri, integritas, dan memiliki tawakkal kepercayaan penuh yang mutlak kepada Allah di tengah tekanan stigma negatif masyarakat.

Nabi SAW bersabda : “Sebaik baik wanita di dunia pada zamannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik baik wanita adalah Khadijah” (HR. Bukhori dan Muslim).

خيرُنِسَا ئها مريم بنــــت عمران, وخيرنسا ئها خديجة بنت خُوَيلِدٍ

معاثرالمسلمين

Yang kedua, Kisah Aasiyah binti Muzahim/ istri Fir’aun.

Aasiyah ini hidup dalam istana Fir’aun, dilayani oleh ratusan pengawal dan ratusan pelayan, Aasiyah hidup dalam gemilang harta kalau ukurannya harta, hidup dalam prestise gengsi yang sangat tinggi kalau ukurannya adalah gengsi Aasiyah hidup serba berlebih dengan seluruh fasilitas. Karena beliau adalah istri penguasa yang bisa berbuat apa saja, kalau tolak ukurnya adalah kekuasaan. Akan tetapi Aasiyah tidak bahagia, tidak bahagia dalam seluruh ukuran itu. Dia tidak bahagia dengan hartanya, dia tidak bahagia dengan kekuasaan yang ada. Dia tidak bahagia dengan fasilitas, dia tidak bahagia dengan prestise dan gengsi yang sangat tinggi karena dia punya tolak ukur sendiri. Karena tolok ukurnya adalah ImanItu artinya Iman mengalahkan semua yang ada itu; harta, kekuasaan, prestise, jabatan. Berada dilingkaran kekuasaan dan kekayaan tidak membuat Aasiyah buta mata hati. Beliau diam-diam mengimami ajaran Nabi Musa as dan berani menentang kezaliman suaminya hingga akhir hayatnya. Allah SWT menceritakan kisah Aasiyah di antaranya dalam Surat Attarhim ayat 11 :

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ ۝١١

Kisah Aasiyah ini mengajarkan dan membuktikan bahwa seorang wanita mampu mempertahankan keimanan dan prinsip kebenaran secara mandiri, meskipun hidup dibawah tekanan lingkungan yang zalim dan korup.

معاثرالمسلمين

Yang ketiga, kisah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW

Khadijah adalah istri sekaligus pendukung utama dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. khadijah adalah seorang pebisnis yang jenius, kaya raya, namun mempertaruhkan seluruh harta, jiwa dan pengaruh sosialnya demi mendukung dakwah Nabi SAW yang sangat berat.

Pada zaman Nabi SAW dan Khadijah diasingkan (diboikot) oleh kafir musyrik Makkah. Tidak boleh memberi apapun kepada Nabi dan Khadijah, tidak boleh menjual apapun, tidak boleh membeli apapun dari orang-orang kafir Quraisy. Khadijah hanya berharap pemberian dari orang yang beriman. Dan itupun orang beriman yang mau mengasih sesuatu harus bertaruh nyawa. 

Nabi Muhammad diasingkan di lembah Abu Thalib. Itu yang membuat Sayyidah Khadijah berjalan bermi-mil untuk mencari daun-daun hijau pengganjal lapar. Jika ada yang berhasil memberikan minuman susu kepada Khadijah, Khadijah mempersilahkan Nabi Muhammad SAW yang duluan untuk meminumnya, untuk Beliau nanti saja jika memang ada sisanya. Khadijah mendampingi Nabi pada periode pengasingan (diboikot) tersebut lebih kurang selama 3 tahun (dari tahun ke 7 kenabian s/d tahun ke-10 kenabian), bukan sehari, bukan sebulan, bukan setahun. Tapi hampir 3 tahun di boikot.

Pada suatu malam, saat Sayyidah Khadijah berbaring akan tidur Nabi memperhatikan wajah Khadijah, yang kurus tinggal tulang dibalut kulit, Nabi berkata kepada Khadijah “Khadijah, aku malu sama kamu”. Khadijah : “Mengapa kau berkata begitu ya Rasulullah ?” Nabi berkata : “Khadijah, Aku dulu menikah dengan mu sedangkan kamu perempuan kaya raya, tapi sekarang kamu untuk makan saja tidak ada, maafkan aku Khadijah. Aku menikahi kamu sedang kamu orang yang paling dimuliakan kaummu, sekarang bahkan terlihat lebih tua dari usiamu. Khadijah tersenyum sambil berkata: Jangan berkata seperti itu ya Rasulullah, 

إنّى أنا وَمَالي وَنَفسي وَرُوحي وَحَيَاتى لك يا رسول الله

seluruh hartaku, seluruh waktuku, seluruh jiwaku, seluruh hidupku untukmu Ya Rasulullah, untuk perjuangan dan dakwah Nabi SAW untuk Allah lewat perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Cinta dan iman itu perlu pembuktian, dan sayyidah Khadijah telah membuktikan cinta dan Imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah SAW. Khadijah adalah guru cinta kita.

معاثرالمسلمين

Kisah sayyidah Khadijah memberikan pelajaran tentang kesabaran dan kesyukuran. Yang kita perlukan bukan healing (jalan-jalan); yang kita perlukan tambahan syukur dalam hati. Yang kita perlukan bukan shopping, yang kita perlukan adalah tambahan sabar dalam hati, yang kita perlukan bukan jalan-jalan atau piknik, yang kita perlukan adalah tambahan iman dan keyakinan di dalam hati. Itulah obat mujarab dari kesedihan, kesempitan, ujian hidup yang kita hadapi. Kisah sayyidah Khadijah mengajarkan juga tentang simbol kemandirian finansial wanita, kecerdasan emosional dalam mendukung pasangan, serta totalitas dalam memperjuangkan keyakinan.

معاثرالمسلمين

Rasulullah SAW bersabda : (dalam salah satu riwayat/ matah hadis)

سَيِّدَاتُ نِسَآءِ اَهْلِ الجَنَّةِ : مَرْيَمْ بِنْتِ عِمْران, وفاطمه بنت رسول لله, وخَدِيجة بنت خُوَيْلِدِ, وَاسية (روه الحاكم)

 Pemuka wanita ahli surga ada empat : Maryam binti Imran, Fathimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan Aasiyah (binti Muzahim)

Mudah-mudahan kisah-kisah muslimah mukminah ini menjadi pelajaran dan pembelajaran serta menjadi inspirasi berharga dalam aktivitas yang kita geluti sehari-hari, Aamin.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.