Foto: Dok. Media Istiqlal

Hawamisy Istiqlal: Membaca Sifat Qudrat Allah Melalui Kosmos

Administrator 16 Jul 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Kopri Nurzen, MA | Kitab Al-Iqtisad fil I'tiqad karya Imam Al-Ghazali


Pernahkah Anda memandangi langit malam yang penuh bintang, atau memperhatikan keteraturan matahari yang terbit setiap pagi tanpa pernah terlambat semenit pun? Bagi orang yang mau merenung, semua harmoni ini bukanlah sebuah kebetulan yang mekanis. 

Mengetahui pentingnya hal ini, Dr. KH. Kopri Nurzen, MA dalam kajian rutin di Masjid Istiqlal, membahas hakikat kekuasaan Ilahi bersumber dari kitab klasik Al-Iqtisad fil I'tiqad karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali.

Dalam kajian ini, kita diajak menyelami pilar penting dalam akidah Islam, yaitu sifat Qudrat (Maha Kuasa) bagi Allah SWT, sekaligus merawat nalar agar tidak terjebak dalam logika pergaulan ataupun ketuhanan yang keliru.

Logika Al-Wahdaniyah: Mengapa Tuhan Mustahil Berbilang?

Sebelum melangkah pada sifat kekuasaan Allah, Ustadz Kopri mengulas kembali fondasi dasar tentang keesaan Allah (Al-Wahdaniyah). Dalam pengalaman hidup bermasyarakat, jika ada dua pemimpin atau dua tokoh yang memperebutkan satu wilayah kekuasaan yang sama, yang terjadi adalah perseteruan, konflik ego, dan kehancuran.

Logika sederhana ini juga berlaku dalam ketuhanan. Jika ada dua tuhan yang sama-sama kuat, lalu berselisih kehendak (yang satu ingin hujan, yang satu ingin kemarau), maka kehancuran total adalah kepastian. Logika rasional ini sejalan dengan Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 22:

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Allah, Tuhan pemilik ʻArasy, dari apa yang mereka sifatkan.”

Fakta bahwa alam semesta ini tetap berdiri dengan begitu rapi dan harmonis adalah bukti nyata bahwa penguasanya tunggal. Jika ada "tuhan" lain yang kekuatannya di bawah Allah, maka dia tidak layak disebut tuhan karena tuhan sejati pastilah yang maha segalanya.

Membaca Sifat Qudrat Lewat Ciptaan yang Muhkam

Imam Al-Ghazali menyodorkan sebuah premis logika yang sangat indah: setiap perbuatan atau ciptaan yang kokoh, indah, dan profesional (muhkam), pasti lahir dari pencipta yang memiliki kemampuan dan kuasa (qadir).

Di era modern, kita mengenal istilah smart building—di mana lampu bisa menyala sendiri atau pintu terbuka secara otomatis. Bisakah teknologi secanggih itu lahir dari orang yang tidak mengerti apa-apa? Tentu mustahil.

Ustadz Kopri mencontohkan lebah. Makhluk kecil ini selalu membangun sarangnya dalam bentuk segi enam yang presisi tanpa pernah keliru menjadi segitiga atau lingkaran. Konsistensi arsitektur lebah ini adalah titipan sifat qudrat berskala makhluk. Begitu pula matahari yang tidak pernah "kesiangan" terbit. Keteraturan kosmis ini digambarkan Allah dalam Surah Ali 'Imran ayat 190:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”

Ironi Manusia: Sindrom Qarun dan Keraguan Hari Akhir

Sayangnya, manusia sering kali mengidap penyakit "terbiasa". Karena setiap hari menikmati oksigen gratis dan melihat fajar, kita menganggapnya sebagai hal biasa tanpa peran Tuhan di dalamnya. Kita lupa melihat ke dalam diri sendiri, padahal Allah berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 20-21: 

وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَ(ۙ20) وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ( 21)

“Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. (20) (Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?(21)”

Ustadz Kopri mengutip ungkapan bijak dari ulama nusantara, Raja Ali Haji: "Barang siapa mengenal diri, tahulah ia akan Tuhan yang bahari." Manusia awalnya hanya berasal dari setetes air yang dianggap hina, lalu dibentuk utuh, diberi mata, telinga, dan hati.

Namun, ketika sukses dan kaya, manusia sering kali mengidap "sindrom Qarun"—merasa semua keberhasilan itu murni karena kecerdasan bisnis dan kerja kerasnya sendiri ("Ini semua karena ilmu yang aku punya"), sembari melupakan andil doa. Bahkan, saking angkuhnya, sebagian manusia meragukan kuasa Allah untuk membangkitkan mereka kembali setelah mati menjadi tulang belulang. 

Padahal secara logika, mengulangi atau menduplikasi sesuatu yang sudah pernah dibuat jauh lebih mudah daripada menciptakan sesuatu pertama kali tanpa contoh sebelumnya.

Menjawab Syubhat: Posisi Ikhtiar Manusia vs Kuasa Allah

Di akhir kajian, pembahasan masuk ke wilayah teologi yang krusial tentang posisi usaha (ikhtiar) manusia di hadapan takdir Allah. Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah mengambil jalan tengah di antara dua pemikiran ekstrem:

• Kaum Mu'tazilah: Merasa manusia punya kuasa mutlak atas dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah. Pemikiran ini keliru karena menafikan kemahakuasaan Allah.

• Kaum Jabariyah: Merasa manusia pasrah total bagai robot atau daun kering yang ditiup angin, sehingga saat berbuat maksiat pun menyalahkan takdir. Pemikiran ini berbahaya karena menggugurkan fungsi tanggung jawab.

Jalan tengahnya, manusia memang diberikan ruang untuk berkehendak dan berikhtiar (semi kekuasaan). Namun, berdasarkan keyakinan ahlussunnah wal jamaah, ruang ikhtiar kita itu tidak pernah lepas dari keputusan mutlak Allah SWT. 

Seseorang bisa saja punya niat dan modal kuat untuk melangkah, namun jika Allah menahannya dengan rasa sakit atau memanggil ajalnya, maka ikhtiar manusia langsung lumpuh. Apa yang kita inginkan, kehendak Allah-lah yang memegang ketukan palu terakhir.

Mengenal sifat Qudrat Allah mengajarkan kita satu hal besar: menjadi manusia yang tahu diri. Di balik segala pencapaian, kecerdasan teknologi, dan kemewahan yang kita genggam, ada Zat Maha Kuasa yang memegang detak jantung kita. 

Tugas kita adalah mengetuk pintu langit dengan ikhtiar terbaik, lalu melenturkan ego kita di atas sajadah, berserah diri kepada Sang Pemilik Kuasa. (ASMA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.