Oleh: Dr. KH. Ali Nurdin, MA. (Wakil Rektor III PTIQ - Jkt, Dewan Pakar PSQ, Ketua Pembina PSAQ)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Pada kesempatan khutbah kali ini, marilah kita merenungkan satu tema yang sangat penting bagi keutuhan umat Islam, yaitu: Karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah bukan sekadar nama, bukan pula simbol, tetapi manhaj hidup, cara berpikir, cara beragama, dan cara bersikap yang diwariskan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, para sahabat, dan generasi terbaik umat ini. Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda: َ
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: َ
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi)
Inilah yang disebut Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
1. Berpegang Teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah
Ahlussunnah menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam, Allah SWT berfirman: ِ
فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ
“Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) ...” (QS. AnNisa': 59)
Bukan hawa nafsu, bukan emosi, dan bukan kepentingan kelompok yang dijadikan standar kebenaran. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah menjadikan wahyu sebagai kompas hidup. Bukan perasaan, bukan opini, bukan suara mayoritas tetapi firman Allah dan sunnah Rasul-Nya.
Di Indonesia, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah tidak hanya menjaga kemurnian akidah, tetapi juga membangun peradaban dan menjaga negara. Para ulama Ahlus Sunnah di negeri ini mengajarkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari tanggung jawab keimanan, karena menjaga negeri berarti menjaga kemaslahatan umat. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian.” (QS.An-Nisa': 59)
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah memahami bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam hal kebaikan adalah pilar stabilitas bangsa.
2. Moderat dan Seimbang (Wasathiyyah)
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah berada di tengah: tidak ekstrem ke kanan, tidak pula menyimpang ke kiri. Allah SWT berfirman: ً
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا
“Dan demikianlah Kami jadikan kalian umat yang wasath (moderat).” (QS. Al-Baqarah: 143).
Dalam ibadah tidak berlebihan, dalam akidah tidak menyimpang, dalam muamalah penuh keseimbangan. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah umat tengah, adil, dan seimbang. Dalam akidah: lurus tanpa keras. Dalam ibadah: khusyuk tanpa berlebihan. Dalam muamalah: tegas tanpa zalim. Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda: َ
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” (HR. Muslim).
Ahlus Sunnah menolak sikap ekstrem yang mengkafirkan, menolak sikap longgar yang meremehkan syariat. Islam bukan agama marah, bukan pula agama tanpa aturan. Islam adalah rahmat yang berpijak pada kebenaran. Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia hadir sebagai Islam rahmah, toleran, dan menyejukkan, tanpa kehilangan prinsip.
Inilah Islam yang mampu hidup berdampingan dalam masyarakat majemuk, menjaga kerukunan antarumat beragama, dan menolak kekerasan atas nama agama.
خَيْرُ الْأُمُورِ أَوْسَطُهَا
“Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”
Ahlus Sunnah menolak ekstremisme yang merusak citra Islam, dan menolak liberalisme yang mengikis nilai syariat.
3. Menjaga Persatuan dan Menolak Perpecahan
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah sangat menjaga ukhuwah dan keutuhan umat. Allah SWTberfirman: ُ
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ
“Berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah, dan jangan bercerai-berai.” (QS. Ali 'Imran: 103)
Perbedaan tidak dijadikan alasan permusuhan, khilaf tidak dijadikan bahan kebencian. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah sangat sadar: perpecahan adalah pintu kehancuran umat. Karena itu, mereka mendahulukan ukhuwah, mengelola perbedaan dengan ilmu, dan menyikapi khilaf dengan adab. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۙ
"Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang sangat berat." (QS. Āli ‘Imrān [3]:105)
Ahlus Sunnah tidak menjadikan perbedaan furu' sebagai alasan permusuhan, tidak menjadikan mimbar sebagai alat provokasi, karena mereka tahu: persatuan adalah kekuatan umat. Bagi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, menjaga persatuan umat adalah bagian dari menjaga persatuan bangsa. Indonesia berdiri karena persatuan, dan akan runtuh karena perpecahan. Allah SWTberfirman: َ
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati."(QS. Al-Ḥujurāt [49]:10)
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah menolak narasi kebencian, menolak politisasi agama yang memecah belah, karena ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan insaniyah harus berjalan seiring.
4. Mengedepankan Akhlak Mulia
Ahlus Sunnah dikenal dengan akhlak sebelum perdebatan, dengan adab sebelum dalil. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: َ
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Lemah lembut dalam dakwah, bijak dalam menyampaikan kebenaran, tegas tanpa kekerasan, santun tanpa kompromi pada kebatilan. Ciri paling tampak dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah akhlaknya. Ilmunya tinggi, tetapi tetap rendah hati. Pendapatnya kuat, tetapi disampaikan dengan santun. Berbeda, tetapi tetap menghormati.
Allah SWT berfirman tentang Rasulullah SAW,
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]:4)
Ahlus Sunnah berdakwah dengan keteladanan, menasihati tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa menghina. Karena mereka yakin: kebenaran tanpa akhlak akan kehilangan cahaya. Islam Indonesia dikenal dunia karena akhlaknya.
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah menghadirkan Islam yang ramah, santun, dan beradab - bukan Islam yang marah dan mencaci. Allah SWT berfirman: ِ
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
"Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS. Fuṣṣilat [41]:34)
Akhlak inilah yang menjaga Indonesia tetap damai di tengah keberagaman.
5. Menghormati Ulama dan Ilmu
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah menghormati ulama sebagai pewaris para nabi, tanpa mengkultuskan, dan tanpa merendahkan. Allah SWT berfirman: َ
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
"(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.635) Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Fāṭir [35]:28)
Ilmu dijaga dengan adab, perbedaan pendapat disikapi dengan hikmah. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah memuliakan ulama, karena merekalah penjaga agama. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: َ
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud)
Namun, Ahlus Sunnah juga adil tidak mengkultuskan ulama secara berlebihan dan tidak pula merendahkan mereka. Jika ada perbedaan pendapat ulama, disikapi dengan ilmu dan adab, karena mereka sadar, merusak wibawa ulama berarti merusak fondasi umat. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah, ulama, umara, dan umat bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disinergikan.
Masjid bukan tempat provokasi, bukan panggung ujaran kebencian, tetapi pusat ibadah, ilmu, dan persatuan bangsa. Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda: ُ
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
"Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Nasihat disampaikan dengan hikmah, bukan dengan kemarahan.
Jamaah Jumat rahimakumullah, Sebagai penutup:
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah bukan hanya identitas, tetapi jalan hidup. Lurus dalam akidah, seimbang dalam beragama, kuat dalam persatuan, indah dalam akhlak, dan kokoh dalam tradisi keilmuan. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sejati--bukan hanya di lisan, tetapi nyata dalam sikap dan perbuatan.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.