Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Shalat dan Kesadaran Eko-Teologi, Refleksi Isra Mikraj

Administrator 24 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Drs. H. Andi Faisal Bakti, M.A., Ph.D 
(Majelis Muzakarah Masjid Istiqlal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan seluruh alam. Dialah Pencipta, Pemelihara, dan Pemberi rezeki bagi seluruh makhluk-Nya. Kepada-Nya semata kita menyembah, memuji, dan memohon pertolongan. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullāh,
Khutbah kita hari ini membahas tema “Shalat dan Kesadaran Eko-Teologi: Refleksi Isra Mi‘raj.” Tema ini mengajak kita merenungkan kembali makna shalat, bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai fondasi kesadaran spiritual dan ekologis manusia.

Di sini ada dua ilmu penting, yaitu ekologi dan teologi yang dineologiskan. Ekologi adalah ilmu tentang alam sekitar yang harus dipelihara agar terjamin kehidupan semua yang ada di dalamnya. Alam harus bisa disingkap rahasianya agar bermanfaat bagi penghuninya, bukan hanya untuk manusia, tapi juga saudara kandungnya, yaitu sesama makhluk, yaitu lingkungan hidup. 

Sedangkan teologi itu adalah ilmu tentang ketuhanan, yang menciptakan hidup dan menghidupkan. llmu ini berkaitan dengan perbuatan manusia yang memiliki konsekwensi duniawi dan ukhrawi.

Ekologi adalah ilmu tentang lingkungan hidup dan sistem alam, yang bertujuan menjaga agar alam tetap terpelihara untuk kehidupan. Ekologi berkaitan erat dengan: biologi, meteorologi, fisika dan geofisika, klimatologi, dan ilmu-ilmu alam lainnya. Ekologi menjelaskan bahwa alam adalah sistem yang saling terhubung, dan bahwa kerusakan di satu bagian akan berdampak pada keseluruhan. 

Sementara itu, teologi adalah ilmu tentang ketuhanan, tentang pemahaman manusia terhadap Allah subhanahu wata'ala dan implikasi perbuatan manusia di hadapan-Nya: baik dan buruk, pahala dan dosa, kesucian dan pelanggaran, yang seluruhnya diyakini memiliki konsekuensi eskatologis, yaitu nasib manusia di akhirat. 

Dengan demikian, ekologi menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan teologi menjelaskan mengapa manusia harus bertanggung jawab.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Masalah besar peradaban modern adalah pemisahan ilmu dan iman. Ekologi tanpa teologi menjadi teknokratis dan eksploitatif. Teologi tanpa ekologi menjadi normatif tetapi abai realitas. Islam tidak mengenal dikotomi ini. Karena itu, diperlukan pendekatan transdisipliner, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan berbagai ilmu dalam satu kerangka tauhid.

Ekoteologi yang merupakan Neologisme atau Silogisme Ilmu dan Iman seperti disebutkan Prof. Husein Nasr (Iran /AS), Fazlun Khaled (Inggris), Ibrahim Özdemir (Turki), Prof. Nasaruddin Umar (Indonesia). Selain itu, dari Indonesia, ada beberapa tokoh yang menyentuh soal ini, yaitu: KH. Ali Yafie dengan konsep fikih lingkungan, KH. Said Aqil Siradj dengan Islam dan krisis ekologis, Muhammadiyah dan NU dengan fatwa, fikih kebencanaan, fikih lingkungan.

Di sinilah lahir konsep ekoteologi Islam. Pak Menteri Agama/Imam Besar Istiqlal lalu dikenal dengan Bapak ekoteologi Indonesia, karena beliaulah yang membuat silogisme/atau neologisme dua kata tersebut.

Ekoteologi adalah silogisme pemikiran yang menyatakan: “Alam semesta-langit dan bumi beserta  isinya-adalah  ciptaan  Allah.  Alam  harus  dipelihara  agar  tetap  membawa  kehidupan. Perusakan, keteledoran dan eksploitasi alam adalah pelanggaran moral dan teologis”. Karena itu, merusak alam termasuk dosa terhadap sesama makhluk, yang tidak terpisah dari dosa terhadap Sang Khaliq. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Khalifah berarti pengelola dan penganggung jawab, bukan pemilik absolud. Allah subhanahu wata'ala juga berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia”. (QS. Al-Aḥzāb [33]: 72)

Amanah itu mencakup tanggung jawab ekologis.
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Alam sebagai Makhluk yang Bertasbih

Al Qur’an menegaskan bahwa seluruh alam hidup dalam kepatuhan kosmik kepada Allah subhanahu wata'ala,

وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ

“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya”. (QS. Al-Isrā’ [17]: 44)

Ada kata "sabbaḥa" (past tense, fi‘il māḍī) dan ada kata "yusabbiḥu" (present tense, fi‘il muḍāri‘). Karena itu, alam tidak boleh diperlakukan secara ugal-ugalan. Ia harus dipelajari, dipahami sunnatullah- nya, dan dimanfaatkan secara proporsional. Rasulullah SAW memberi isyarat bahwa makhluk pun “bereaksi” ketika diperlakukan tidak adil, sebagaimana kisah batang kurma yang menangis ketika ditinggalkan. Ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hubungan benda mati semata, tetapi relasi etis. Pemborosan air saat wudhu pun dilarang, meskipun air mengalir. Ini adalah etika ekologis dalam ibadah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Apa hubungan antara kesempurnaan alam dan tanggung jawab manusia ? Allah subhanahu wata'ala berfirman :

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk [67]: 3)

Allah menantang manusia untuk meneliti alam berulang-ulang, dan manusia tidak akan menemukan cacat pada ciptaan-Nya. Kerusakan lingkungan bukan bukti cacat alam, melainkan bukti cacat teologis maupun ekologis manusia.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Shalat sebagai Fondasi Kesadaran Ekoteologis

Shalat mendidik manusia: disiplin, kesucian, keseimbangan, dan anti-sikap berlebih-lebihan (israf). Allah subhanahu wata'ala berfirman :

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)

Perbuatan keji adalah kerusakan terhadap kemanusiaan. Perbuatan mungkar adalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan adalah Mungkar struktural. Jika shalat tidak melahirkan kepedulian ekologis, maka dimensi etik shalat belum sempurna. 

Adapun ekoteologi adalah silogisme/neologisme, yang menggabungkan secara cermat kedua ilmu tersebut, yaitu teologi dan ekologi. Ini bermakna, bahwa oleh karena alam raya ini diciptakan oleh Allah maka manusia harus menjaganya.

Manusia adalah khalīfatullāh fī al-arḍ, manager yang dimanahkan untuk mengelola bumi dan sekitarnya. Bila tidak dikelola dengan cermat dan saksama (secara IMTAQ dan IPTEKS), maka dapat berakibat buruk kepada penghuninya dan ini berakibat pada konsekuensi dosa duniawi dan ukhrawi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ ...
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. … (QS. Ar-Rūm [30]:41)

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kendati sekarang kita sudah di bulan Sya’ban, tapi puncak Isra’ Mi’raj baru saja beberapa hari yang lalu karena itu, masih tetaplah relevan kita bahas saat ini dalam kaitannya dengan shalat dan ekoteologi.

Allah subhanahu wata'ala berfirman :

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda- tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi‘raj adalah perjalanan fisik dan spiritual Rasulullah SAW atas kehendak Allah. Dalam peristiwa agung inilah shalat diwajibkan bagi umat Islam.

Allah juga menegaskan kemurnian risalah Nabi Muhammad Saw:

وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 1-4)

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At- Takwīr [81]: 19)

Isra Mi‘raj menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar ibadah rutin, tetapi poros hubungan antara manusia, Tuhan, dan seluruh ciptaan.

Isra Mi‘raj dan Puncak Kecerdasan Nabi SAW
Jamaah yang dirahmati Allah, Isra Mi’raj juga menunjukkan puncak kecerdasan Rasulullah SAW dalam berbagai dimensi. Peristiwa Isra Mi‘raj bukan hanya mukjizat perjalanan, tetapi juga menyingkap puncak kecerdasan Rasulullah SAW dalam berbagai dimensi kehidupan. 

Dalam peristiwa agung ini, Allah SWT memperlihatkan bahwa kenabian Muhammad SAW adalah kenabian yang utuh: kuat secara emosional, fisik, intelektual, teknologis, dan spiritual. Inilah kecerdasan paripurna yang menjadi teladan bagi umat manusia.

Pertama, kecerdasan emosional
Isra Mi‘raj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa paling berat dalam hidup beliau, yang dikenal sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan). Dalam masa itu, Rasulullah kehilangan dua penopang utama kehidupannya: Abu Thalib sebagai pelindung sosial dan Khadijah r.a. sebagai sumber ketenangan dan kekuatan batin.

Dalam kondisi duka, tekanan dakwah, dan beban psikologis yang berat, Allah SWT tidak membiarkan Rasul-Nya larut dalam kesedihan. Isra Mi‘raj dapat dipahami sebagai bentuk penguatan emosional ilahiah. Allah memperjalankan Rasulullah untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dan keindahan alam akhirat sebagai peneguhan jiwa dan misi.

Allah SWT berfirman: “Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Isrā’ [17]: 1). 

Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai realitas akhirat, seperti surga dan neraka, Sidratul Muntaha, al-Bayt al-Ma‘mur, sungai-sungai surga, serta kenikmatan dan azab. Semua itu menunjukkan bahwa di balik setiap kesulitan hidup, Allah menyiapkan keluasan rahmat, kemuliaan, dan balasan terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersabar.

Kedua, kecerdasan fisik
Isra Mi‘raj juga menunjukkan kesempurnaan kesiapan fisik Rasulullah SAW. Perjalanan tersebut terjadi secara nyata, dengan jasad dan ruh, sebagai mukjizat Allah SWT. Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengalami pembelahan (operasi) dada sampai dua kali, sekali sewaktu berumur 4 tahun dan sekali sebelum Isra Mi‘raj, sebagai bentuk penyucian dan penguatan. Ini menunjukkan bahwa

Rasulullah dipersiapkan secara fisik dan spiritual untuk menerima pengalaman kenabian yang sangat agung. Dengan kecepatan tinggi itu, Rasulullah SAW harus kuat fisiknya, karena ia bersama dengan makhluk energi. Mikail, Jibril dan Buraq (kendaraan yang terbuat dari kilat). Rasulullah harus disesuaikan kondisi jiwa raganya. Makanya harus dioperasi terlebih dahulu.

Rasulullah Saw mampu menempuh perjalanan lintas ruang dan waktu tanpa mengalami kelelahan atau kerusakan fisik. Hal ini menegaskan bahwa hukum alam sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah SWT. Allah dapat melipat ruang dan waktu. Pencipta langit dan bumi (ruang) dan pergantian malam dan siang (waktu)! Kendaraannya adalah milenial, bukan abad, menit dan detik.

Ketiga, kecerdasan intelektual
Dalam Isra Mi‘raj, Rasulullah Saw menerima wahyu dalam bimbingan malaikat Jibril yang digambarkan Al-Qur’an sebagai malaikat yang kuat dan terpercaya.

Allah SWT berfirman :

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ

“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, (QS. At-Takwīr [81]: 19–25)

Hal ini menegaskan bahwa wahyu yang diterima Rasulullah Saw bersumber dari kebenaran ilahiah yang terjaga. Isra Mi‘raj menunjukkan keselarasan antara wahyu dan akal. Islam tidak menolak akal, tetapi menempatkannya di bawah bimbingan wahyu.

Dalam khazanah filsafat Islam klasik, terutama pada pemikiran al-Fārābī dan Ibn Sīnā, malaikat Jibril dipahami secara filosofis sebagai akal aktif (al-‘aql al-fa‘āl), yang dalam sistem kosmologi mereka dikenal sebagai akal kesepuluh. 

Akal kesepuluh ini dipahami sebagai perantara limpahan pengetahuan ilahiah kepada akal manusia, sehingga manusia mampu menerima ilmu, hikmah, dan pencerahan. Dengan demikian, Isra Mi‘raj menunjukkan puncak integrasi antara wahyu dan akal

Keempat, kecerdasan teknologis
Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw diperjalankan menggunakan Buraq, makhluk yang memiliki kecepatan luar biasa. Buraq seakar dengan kata al-Barq, yaitu kilat. Kilat ini cahaya. Menurut Einstein kecepatan cahaya adalah 333 000 km per detik. 

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas ruang dan waktu (Pencipta langit dan bumi: ruang, dan pergantian malam dan siang: waktu). Sekaligus membuka cakrawala berpikir manusia tentang kemungkinan perkembangan teknologi masa depan.

Para ulama menyebutkan Isra Mi‘raj adalah mukjizat, bukan teknologi manusia. Namun mukjizat ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan iman, selama digunakan untuk kemaslahatan. Kemajuan teknologi seharusnya menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Allah dan tanggung jawab moral manusia dalam menjaga kehidupan dan lingkungan.

Isyarat ini relevan dengan perkembangan teknologi modern, mulai dari teknologi transportasi supercepat, teknologi komunikasi dan informasi (ICT) yang menembus jarak dan waktu, hingga teknologi medis yang semakin canggih dalam memahami dan menjaga kehidupan manusia. Semua itu sesungguhnya adalah bagian dari sunatullah, hukum-hukum Allah yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh manusia.

Kelima, kecerdasan spiritual
Secara spiritual, Isra Mi‘raj merupakan puncak kedekatan Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Dalam peristiwa Isra dan Mi‘raj, Rasulullah SAW berjumpa dengan sejumlah Nabi pilihan di setiap lapisan langit. Perjumpaan ini menegaskan kesinambungan risalah tauhid dan menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para rasul, sekaligus pemimpin seluruh umat manusia. 

Kita ketahui sendiri para nabi dan rasul, yang jumlahnya mencapai 124.000 nabi dan 313 rasul menurut hadis At- Tirmiżī. Pada peristiwa tersebut pula, Rasulullah Saw menerima perintah shalat yang pada awalnya diwajibkan 50 kali, kemudian diringankan oleh Allah SWT menjadi lima waktu shalat, tanpa mengurangi nilai dan pahalanya. 

Lima waktu (17 rakaat), tapi shalat sunah juga kurang lebih 34 rakaat (qabliyah, ba'diyah, tahajud, witir dan duha, dll, tergantung mazhab manapun yang diikuti).

Lebih dari itu, Rasulullah SAW dianugerahi pengalaman spiritual tertinggi, yaitu kedekatan dengan Allah SWT, sebagaimana dalam Al Qur’an :

عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm [53]: 5-18)

Ayat ini menegaskan bahwa pengalaman Isra Mi‘raj merupakan pengalaman spiritual yang benar, nyata, dan otentik, sebagai bentuk kemuliaan dan kedudukan tinggi Rasulullah di sisi Allah SWT.

Shalat sebagai Mi’raj al-Mu’min
Jamaah yang dirahmati Allah, sebagaimana Nabi SAW dimi‘rajkan menghadap Allah SWT, maka setiap orang beriman pun diberi kesempatan melakukan mi‘raj spiritual melalui shalat. Ia dapat merasakan keindahan dan kenikmatan yang amat istimewa, hiburan rekreatif yang amat menenangkan kalbu. Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)

Shalat adalah sarana penyucian jiwa, penataan akal, dan peneguhan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, para ulama kita menyebutnya denga istilah “Aṣ-ṣalātu mi‘rāju al-mu’minīn/ Shalat itu adalah mikraj bagi orang-orang yang beriman” [Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ruhul Ma’ani (9/271), tafsir Naisabur (3/192) dan Ruhul Bayan (2/213)].

Jika shalat menjadi mi‘raj seorang mukmin, maka shalat juga menjadi media komunikasi dan sekaligus sebagai ukuran kualitas hidupnya di dunia dan keselamatannya di akhirat. Karena itu Rasulullah SAW bersabda :

اَوَّلُ مَايُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَاِنْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَاِنْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ 

“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka seluruh amalnya akan baik. Dan jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya pun rusak.” [HR. Ath- Thabarani]
Juga dalam hadis disebutkan :

الصلاة عِماد الدِينِ، من أقامها فقد أقام الدِين، ومن هدمها فقد هدم الدِين

“Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agama (Islam) itu.” (HR. al-Baihaqi)

Kedua hadis ini menegaskan bahwa shalat adalah barometer seluruh kehidupan manusia. Ketika shalat terjaga dengan baik, maka akan baik pula akhlak, perilaku sosial, dan cara manusia memperlakukan sesama serta alam semesta. Sekali lagi, Allah SWT menegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)

Karena itu, shalat yang benar akan menghasilkan kesadaran teologis termasuk kesadaran ekologis. Orang yang shalatnya baik, tidak akan merusak alam, tidak menindas sesama, dan tidak berlaku zalim terhadap kehidupan.

Kesadaran Ekologis dalam Shalat

Jamaah yang dirahmati Allah, shalat yang benar harus melahirkan kesadaran spiritual, sosial, dan ekologis. Shalat bukan hanya menghubungkan manusia dengan Allah, tetapi juga menuntun manusia hidup selaras dengan ciptaan- Nya.
Dalam shalat, kita bersujud sebagai tanda kerendahan diri dan pengakuan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Karena itu, tidak selayaknya seseorang rajin bersujud, tetapi pada saat yang sama merusak tanah, mencemari air, dan merusak lingkungan hidup. Rasulullah SAW bersabda :

جعِلت لِي الرْض مسجِدا وطهورا

“Dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan alat bersuci.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa bumi bukan sekadar tempat hidup, tetapi juga ruang ibadah. Jika bumi rusak, tercemar, dan kehilangan keseimbangannya, maka manusia telah merusak sarana penghambaan kepada Allah SWT.

Karena itu, shalat yang benar semestinya menuntun kita menjadi manusia yang menjaga keseimbangan hidup, mengurangi pemborosan, serta memperbaiki lingkungan sebagai bagian dari amanah kekhalifahan. Apa yang kita saksikan hari ini dari krisis lingkungan, banjir, kekeringan, pencemaran udara, dan perubahan iklim bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga cerminan krisis teologis sekaligus ekologis.

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullāh,
Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa Allah mempertemukan Rasul-Nya dengan tanda-tanda kebesaran langit, namun kemudian mengembalikan beliau ke bumi untuk menegakkan amanah kehidupan. Bukan hanya kepada bumi, tetapi bumi dan sekitarnya, ada 18 000 alam, dan Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh alam dan manusia. 

Maka mi‘raj kita melalui shalat pun tidak boleh berhenti pada kekhusyukan pribadi, tetapi harus turun menjadi akhlak, kerja-kerja perbaikan, dan kepedulian nyata dalam kehidupan.

Ketika shalat kita benar, kita akan malu melakukan kerusakan. Kita akan merasa diawasi Allah saat berlaku boros, saat mengotori lingkungan, dan saat menzalimi makhluk lain. Shalat yang benar akan melahirkan pribadi muṣliḥ yang memperbaiki, bukan merusak. 

Alam ini adalah makhluk-Nya, bagian dari kita, saudara sesama makhluk. Inilah hakikat kesadaran eko-teologis yaitu menyembah Allah dengan menjaga amanah-Nya di bumi.

Karena itu, marilah kita perkuat shalat kita, perbaiki akhlak kita, dan hidupkan tanggung jawab kita sebagai khalifah, agar Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (raḥmatan lil- ‘ālamīn).

“Ya Allah, jadikanlah shalat kami sebagai penghubung antara kami dengan-Mu, yang menyucikan jiwa, meluruskan akhlak, dan menjadikan kami hamba-hamba-Mu yang berbuat kebaikan bumi-Mu. Kami berlindung kepada-Mu dari kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan kami sendiri.”
 

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.