oleh: KH. Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Saya ingin mengingatkan kita semua bahwa saat ini kita telah memasuki bulan Rajab. Salah satu bulan yang sangat dimuliakan salah satu bulan yang sangat diagungkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan di dalam Alquran bulan Rajab itu disebut sebagai salah satu dari bulan-bulan haram, yang kemudian dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam satu Diantara empat bulan itu adalah bulan
Rajab oleh karenanya Mari kita semua meningkatkan kualitas keimanan dan ketokan kita meningkatkan taqarrub kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala di bulan yang penuh dengan kesucian dan keberkahan ini.
Amal-amal ibadah yang bersifat sunnah baik itu puasa sedekah dan lain sebagainya amat sangat dianjurkan oleh para ulama karena pahala dari amal ibadah yang kita lakukan di bulan Rajab ini akan diberikan kelebihan dibanding bila kita amalkan di bulan-bulan yang lain.
Dalam kaitan kita memuliakan bulan Rajab ini dan salah satu cara kita memuliakannya sebagaimana dulu bangsa Arab pun saat jahiliyahnya sangat menghormati bulan Rajab mereka tidak mau berperang di bulan Rajab demi menghormati kesucian dan keagungan nya maka ada yang menyebut bulan Rajab itu sebagai bulan Al-asham yang artinya Tuli sebab kalau di bulan-bulan biasa mereka mendengar pedang terhunus lalu terdengar suara bising akibat pedang yang Saling bertabrakan satu yang lainnya saat peperangan terjadi.
Tapi di bulan Rajab hening tidak ada suara-suara dari pedang yang terhunus itu demi memuliakan bulan Rajab. Kaitan dengan itu dan kebetulan secara astronomis bulan Rajab tahun ini berbarengan dengan kita memasuki bulan Februari.
Awal Februari itu mengingatkan kita pada satu peristiwa yang peristiwa ini kemudian melatarbelakangi perserikatan bangsa-bangsa untuk menetapkannya sebagai hari persaudaran manusia Internasional tanggal 4 Februari silahkan Bapak Ibu sekalian Googling itu ada namanya hari persaudaraan manusia internasional tanggal 4 Februari.
Ini mulai pertama kali ditetapkan oleh PBB pada tahun 2020 untuk mengenang peristiwa yang bersejarah yang terjadi di tahun 2019 tanggal 4 Februari itu ada penandatanganan sebuah dokumen namanya dokumen persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup secara berdampingan.
Itu yang tanda tangan dari tokoh muslim dunia adalah Imam Besar Al Azhar Pemimpin tertinggi al-azhar Profesor Doktor Ahmad at Thoyib dengan Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus di Abu Dhabi. Peristiwa itu dilatarbelakangi karena ini yang mensponsori adalah sebuah lembaga berbadan hukum internasional di Abu Dhabi yang bernama Majelis Hukama Al-Muslimin Hukama itu dari kata hikmah. Hikmah itu adalah kemampuan seseorang untuk memadukan antara ilmu dan amal banyak orang pintar tapi amalnya keblinger. Ketika seseorang bisa memadukan antara ilmu dengan amal dia akan menjadi sangat bijak maka Hikmah itu diartikan bijak.
Oleh karenanya dalam beragama itu kita dianjurkan untuk dalam beramal kita harus berilmu dan ilmu yang kita miliki juga harus diamalkan itu yang disebut dengan ilmu Amaliah dengan amal ilmiah. Kalau itu bisa kita padukan kita akan menjadi menjadi bijak. Jadi ada sebuah perkumpulan yang disebut dengan majelis hukamah sejumlah intelektual ulama cendekiawan dunia yang bisa dinilai mereka cukup bijak kalau dari Indonesia itu tokohnya yang bergabung bersama mereka itu adalah guru kita Profesor Doktor Muhammad Quraish Shihab.
Tahun 2014 itu terutama dunia Islam yang ada di Timur Tengah sedang dirundung konflik antar warga masyarakatnya ada peristiwa yang disebut dengan Arab Spring. Mulai tahun 2010-2011-2013 mulai dari Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Suriah ada konflik antara rezim penguasa dengan rakyatnya.
Jatuh korban banyak dan sampai sekarang ada yang belum selesai negaranya itu tidak jarang konflik itu tentu ada ujaran kebencian ya banyak hoax mereka saling membunuh satu dengan yang lainnya. Itu semua tidak jarang kadang-kadang di atas namakan agama ada yang pakai takbir segala ada yang fakir fatwa fatwa keagamaan untuk menentang rezim penguasa lalu terjadi pertumpahan darah. Ini membuat risau sejumlah ulama agama yang semestinya datang untuk menciptakan kedamaian mengapa kemudian dia menjadi bagian dari konflik kemanusiaan.
Tentu hanya oknum yang menjadikan itu sebagai pemicu konflik. Kerisauan itulah kemudian yang memunculkan pertanyaan kira-kira dalam situasi yang sedemikian rupa di Timur Tengah tidak kunjung reda konflik antar warga masyarakatnya. Kemudian di barat pun ada kebencian terhadap Islam dan umat Islam sehingga muncul apa yang disebut dengan islamophobia dan di belahan dunia lainnya. Banyak sekali konflik-konflik yang bernuansa keagamaan muncul pertama belum lagi persoalan lingkungan.
Kalau kita lihat peradaban modern yang sekuler yang materialistik ini mereka merampingkan nilai-nilai moral nilai-nilai spiritual bahkan agama itu sendiri. Sehingga keserakahan itu sangat tampak. Yang terjadi apa salah satu efek yang kita rasakan adalah perubahan iklim. Cuaca jadi tidak menentu ada kerusakan lingkungan dimana-mana karena keserakahan orang.
Artinya dalam politik dalam ekonomi dalam budaya nilai-nilai etika spiritual nilai-nilai agama banyak ditingkatkan. Kalau begitu bagaimana apa peran agama dimana peran tokoh-tokoh agama di sinilah muncul kesejahuan apa yang bisa di sumbangkan agama untuk menyelamatkan umat manusia ini.
Dari situ digelar beberapa konferensi forum pertemuan tokoh-tokoh agama yang puncaknya tanggal 4 Februari 2019 ditandatangani lah dokumen sebagai bentuk pernyataan untuk mewujudkan perdamaian dunia melalui apa yang disebut persaudaraan manusia ini atau Ukhuwah Islamiyah.Itulah mengapa tanggal 4 Februari kemudian ditetapkan oleh PBB sebagai hari persaudaraan manusia internasional.
Sekarang ini banyak anak-anak muda yang ragu dengan agama, ngapain kita beragama ini itu bikin ribut aja banyak yang agnostik dia mau bertuhan tapi tidak mau beragama ada yang atheis sudah banyak yang kecenderungan oleh karenanya kita harus bisa menghadirkan agama yang bisa menjadi pelampung keselamatan bagi umat manusia ini.
Kalau kita lihat dokumen persaudaraan manusia itu di situ tampak betapa agama sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan karena kalau kita baca Alquran dengan tegas kita akan menemukan satu pernyataan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan manusia itu dalam keadaan Mulia sungguh telah kami muliakan anak keturunan Adam.
Terlepas dari perbedaan agama perbedaan budaya perbedaan warna kulit perbedaan etnik semua umat manusia ini sudah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Atas dasar kemuliaan itulah maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kita temukan begitu sangat menghormati orang lain termasuk yang berbeda agama itu ada satu riwayat ada dua orang sahabat yang bernama Sahal bin Hanif satu lagi sahat bin Qais berada di alkondisiyah sedang duduk lalu kemudian melintas jenazah seorang kafir dia berdiri teman-temannya protes kenapa Anda lakukan itu itu jenazahnya orang kafir saya dulu pernah mendengar dan melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan yang sama ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya melintas jenazah nabi berdiri memberikan penghormatan para sahabatnya bisik-bisik itu orang Yahudi apa jawab nabi Bukankah dia juga manusia.
Jadi Al Qur'an Islam mengajarkan kita untuk menghormati manusia baik dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan mati salah satu kewajiban kita kalau saudara kita meninggal dunia apa kita rawat jenazahnya mulai dari memandikan mengkafankan lalu menguburkannya itu bagian dari cara memuliakan manusia sampai pun dalam keadaan mati tanpa melihat apa agamanya.
Jadi begitu sangat mulia Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan itu oleh karenanya kalau ada paham-paham keagamaan yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan kalau ada fatwa-fatwa keagamaan yang sangat mudah merenggut nyawa manusia dengan fatwa sedikit-sedikit bunuh dan lain sebagainya halal darahnya bisa dipastikan bahwa paham-paham yang seperti itu bukan saja tidak sejalan dengan nilai-nilai agama tetapi juga bertentangan dan menolak ajaran agama yang sesungguhnya sangat memuliakan manusia itu.
Berangkat dari kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia atas dasar itu pula Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan perlakuan yang sama antara baik yang muslim maupun yang non muslim di Madinah itu banyak orang yahudinya tetangga Madinah di najran itu orang Kristen di Madinah itu ada Bani nadhir Bani orang-orang Yahudi tapi perbedaan agama tidak menghalangi nabi untuk bisa hidup damai bersama mereka.
Di buatlah satu piagam kalau sekarang ini semacam konstitusi lah undang-undang dasar yang menetapkan bahwa kita warga Madinah terlepas dari apa suku kabilah dan agamanya kita adalah Ummah satu kesatuan dan nabi menyatakan lahuma Lana wa alaihim mereka punya hak yang sama punya kewajiban yang sama dengan kita. Jadi bisa hidup damai dan Itulah salah satu kunci keberhasilan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam membangun masyarakat Islam dalam membangun peradaban Islam dimulai dari apa dimulai dari konsep persaudaraan atau yang disebut dengan Al muakhor.
Ini bagian dari strategi dakwah Rasulullah kita lihat bagaimana ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebelum hijrah ke Madinah Apa yang dilakukan di Madinah itu ada beberapa suku yang selalu yang paling kental itu adalah aus dengan khazraj ini konflik turun temurun sampai sekitar 120 tahun oleh Rasulullah antara aus dengan khazraj karena mereka ini kan selalu datang ke Mekah berhaji ditemui oleh Rasulullah sebagian ada yang menerima mereka itu berhasil dipersaudarakan dengan Islam itu direkam dalam Alquran itulah berkat umat Islam itulah kalian menjadi bersaudara jadi persaudaraan Itu adalah sebuah nikmat anugerah dari Allah subhanahu wa ta'ala
Yang kedua ketika ada perintah untuk berhijrah mereka yang datang dari disebut Muhajirin Penduduk asli kota Madinah diantaranya aus dengan khazraj disebut Al Anshor ada Ansor ada orang-orang yang datang dari Mekkah lalu tinggal di Madinah biasanya antara pribumi dengan pendatang itu kan tidak jarang sering terjadi konflik. Biasanya pribumi itu ya karena sudah merasa nyaman agak sedikit santai pendatang karena harus mengadu nasib mereka bekerja keras sehingga kemudian banyak yang sukses ada ketimpangan dari sistem mulai konflik terjadi di wilayah-wilayah transmigrasi kadang-kadang sering muncul itu
tetapi dengan semangat dengan strategi ini orang-orang Makkah dipersaudarakan dengan orang-orang Anshari dititipin tawuran kamu bersaudara dengan India begitu disatukan melebur. Bahkan dalam ayat surat al-hasyr yang saya bacakan tadi orang-orang Anshar itu
sangat mencintai saudara-saudaranya yang berhijrah itu tidak ada rasa iri sedikitpun dalam hati mereka walaupun dulu pada masa awalnya itu kalau ada peperangan orang-orang Anshar nggak diberi harta rampasan untuk orang Muhajirin saya karena mereka ini yang berkekurangan ndak ada rasa iri di hati orang-orang. Bahkan mereka itu mereka lebih mendahulukan saudara-saudara mereka ya yang datang dari datang dari Makkah
walaupun mereka jadi nggak semuanya kaya orang ansor tapi melihat saudaranya mereka bawa rumah ndak bawa hartanya hanya pakaian yang bisa dibawa rasa itu muncul sehingga apa saja mereka ingin berikan walaupun mereka juga miskin itu yang disebut dengan izhar
itu berhasil ditumbuhkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam diri sahabatnya.
Inilah yang menjadi kekuatan mempersaudarakan itu antara Muhajirin dengan Anshar selesai antara kaum muslimin dengan Penduduk Madinah yang sangat beragam selesai melalui Apa yang disebut dengan piagam Madinah. Bagaimana dengan tetangga-tetangganya yang lain dengan Kristen yang ada di najran nabi menjalin hubungan baik orang Kristen ajaran datang ke Madinah diterima Nabi diserang di masjid datang saat waktu ibadah silahkan Anda beribadah buat perjanjian bahwa mereka pun akan dilindungi akan dijamin keselamatannya kalau ada gereja-gereja yang mereka yang merusak umat Islam silahkan bantu itu tertuang dalam piagam yang saya pernah lihat piagam itu tersimpan di gereja Santrin yang ada di sini. Itu kalau kita itu tempat Wahyu yang disebut dengan. Biasanya orang ke sana itu naik jam 2 malam karena setiap hari terbitnya bagus sekali. Di bawahnya itu ada gereja menyimpan naskah dokumen.
Dan ini dilanjutkan oleh para sahabatnya ketika mereka berhasil menguasai wilayah-wilayah. Seperti Umar ketika berhasil menaklukkan Palestine Yerusalem tahun ke-15 Hijriyah. Yang dilakukan pertama kali Sayyidina Umar itu adalah mengikat perjanjian baik dengan penduduk setempat melalui sebuah dokumen yang sampai sekarang itu dikenang dengan istilah memberikan jaminan keamanan, jaminan keselamatan kepada orang-orang Kristen dan Yahudi yang ada di wilayah itu. Bahwa mereka tidak akan diganggu, rumah-rumah ibadah mereka tidak dirusak, dan sebagainya. Itu yang dilakukan oleh Rasulullah dan juga para sahabat agar masyarakat yang diciptakan itu bisa hidup secara berdampingan, terlepas dari perbedaan yang ada.
Kalau kita lihat nilai-nilai persaudaraan, nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam yang kita temukan dalam Alquran, dalam hadis-hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dalam praktik para sahabat dan Assalafus Shalih, maka kita di Indonesia yang hidup dengan keragaman yang luar biasa, mulai dari pulaunya yang berjumlah 17.500, sukunya ratusan, bahasanya juga begitu, budayanya begitu sangat kaya. Lihat saja dari Aceh sampai Papua. Sangat beragam budayanya, bahasanya, agamanya, keyakinannya, kepercayaannya. Banyak sekali.
Keragaman ini kalau kita tidak jaga dengan pemahaman keagamaan yang baik, maka kita pun hanya tinggal menunggu waktu seperti yang terjadi di banyak belahan dunia lainnya. Oleh karenanya, kita sebagai warga masyarakat Indonesia hendaknya kita melihat keragaman itu sebagai sebuah kekuatan. Bahwa kita ini bukan hanya bersaudara seiman atau seagama, tetapi persaudaraan yang dikembangkan dalam Islam itu jauh melampaui persaudaraan secara biologis keturunan, secara agama, tetapi sampai pada persaudaraan kemanusiaan.
Ada ungkapan yang sangat bagus sekali yang pernah disampaikan oleh Sayyidina Ali kepada Gubernur Mesir pada masanya. Dia mengatakan manusia itu ada dua kelompok, ada dua kategori, ada dua golongan: Ima aku antara dia itu seagama seiman denganmu atau dia itu saudara denganmu dalam kemanusiaan. Yang tidak seiman dengan kita, yang tidak seagama dengan kita, itu setara dengan kita dalam kemanusiaan.
Karena keragaman yang Allah ciptakan tidak lain hanyalah untuk kita saling mengenal, saling berkomunikasi, saling menghargai antar sesama. Apalagi kita di Indonesia ini, selain kita bersaudara seiman, bersaudara kemanusiaan, kita ini adalah warga bangsa yang harus kita jaga tumpah darah negeri kita ini. Oleh karenanya, dulu tokoh ulama tokoh NU misalnya memperkenalkan konsep persaudaraan, ada yang disebut dengan Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Insaniyah.
Bapak Ibu sekalian, pernah melihatnya dalam dokumen persaudaraan manusia yang ditandatangani di Abu Dhabi itu misalnya? Ada diperkenalkan, bukan lagi kita memperlakukan orang dalam sebuah negara itu ini minoritas ini mayoritas. Kita di Indonesia ini mayoritas Muslim. Kalau pendekatan itu yang dipakai, mesti yang minoritas ini akan terkucilkan, akan direndahkan, merasa tidak mendapatkan hak dan kewajiban yang sama. Oleh karenanya, di situ diperkenalkan konsep yang disebut dengan Al-Muwathonah.
Jadi jangan hanya kita melihat dari kewarga agama, tapi kita harus melihatnya dari kewarganegaraan. Sebagai warga negara, kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, sehingga kita harus bisa saling menghormati antara satu dengan yang lainnya. Kalau itu bisa kita wujudkan, insya Allah kita akan bisa hidup damai.
Dan tentu saja, kedamaian dalam masyarakat itu harus dimulai dari kedamaian dalam diri kita. Karena kita tidak mungkin mewujudkan perdamaian di tengah-tengah masyarakat, hidup berdampingan secara damai, kalau kita belum damai dengan diri kita. Oleh karenanya, agama itu kalau kita lihat di dalam Alquran, banyak sekali ajaran yang mengajak kita untuk berdamai. Al-Islam itu pada hakikatnya adalah kita menyerahkan diri, pasrah sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hubungan kita dengan Allah itu harus terjalin baik. Kita harus berdamai dengan Allah, kita harus berdamai dengan diri kita.
Kalau itu bisa kita wujudkan, kita akan bisa berdamai dengan manusia dan makhluk-makhluk yang lainnya. Kalau kalbu seseorang itu khusyuk, tenang, damai, maka tubuhnya pun akan damai. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang melukai atau menyakiti orang lain.
Al-Muslim Man Salim Al-Muslimuna. Muslim sejati itu adalah yang bisa menciptakan rasa aman orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatannya.
Dan kita harus bisa mewujudkan, seperti kata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seorang mukmin sejati itu adalah yang mencintai untuk dirinya apa yang dicintai bagi orang lain. Maksudnya begini: Kalau kita itu tidak suka disakiti, kita juga harus tahu bahwa orang lain juga tidak suka. Maka jangan sakiti orang lain. Kalau tidak ingin dibenci orang lain, orang lain itu tidak suka dibenci, seperti halnya kita juga tidak suka dibenci.
La yu'minu ahadukum. Seorang mukmin tidak akan dinyatakan beriman secara benar, secara sempurna, sampai dia itu mencintai orang lain seperti mencintai dirinya. Inilah, saya kira, yang bisa saya sampaikan dalam kaitan kita memperingati hari internasional persaudaraan manusia. Itu bisa kita wujudkan kalau kita semua menyadari pertama bahwa kita sebagai makhluk Allah sama-sama telah dibuat oleh-Nya. Kita semua berasal dari unsur yang sama. Kita ini tercipta dari Adam, Adam itu tercipta dari tanah. Oleh karenanya, tidak ada yang membuat kita mulia dibanding yang lainnya kecuali keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.
Mudah-mudahan kita dapat mengukuhkan persaudaraan sesama kita, sehingga antar umat manusia, perdamaian di tengah masyarakat kita dapat terwujud dengan baik (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.