Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Masjid Istiqlal: Menjadi Muslim Yang Kuat Dengan Penghayatan Nilai-nilai Ajaran Islam

Admin 19 Dec 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Mayjen TNI (Pur) Dr. H. Ahmad Yani Basuki, M.Si
(Anggota Lembaga Sensor Film RI dan Waketum PP. IPHI)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kaum muslimin, jamaah shalat Jum'ah rahimakumullah. Marilah tidak henti-hentinya kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana tidak henti hentinya pula Allah subhanahu wata'ala menurunkan karunia nikmatNya kepada kita semua. Dan dengan penuh rasa syukur pula marilah kita manfaatkan nikmat-nikmat Allah subhanahu wata'ala tersebut untuk sebesar-besarnya jalan menuju taqwa. Yang demikian ini, karena kita sama-sama memahami dan meyakini, bahwa ketakwaan menjadi ukuran kemuliaan manusia dihadapan Allah subhanahu wata'ala.


اِنَّ اَكُرَ مَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰكُمْ 
Artinya : “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”.

Karena begitu mulianya kedududkan orang yang bertakwa, maka kitapun diperintahkan untuk saling tolong-menolong dalam meraih ketakwaan.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah : 2).

Tema khutbah Jumat hari ini adalah “Menjadi Muslim Yang Kuat dengan Penghayatan Nilai-nilai Ajaran Islam”. Berkaitan dengan itu dalam muqadimah khutbah tadi saya kutip firman Allah subhanahu wata'ala dalam Surat Ali Imran ayat 102, yang tentunya ayat ini sudah sangat populer bagi umat Islam,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim”.

Pesan yang terkandung dalam ayat tersebut sudah sangat jelas. Pertama hendaklah kita benar-benar menjadi orang yang bertaqwa, dan pesan kedua, janganlah kita meninggal dunia, kecuali dalam keadaan muslim. Pesan yang kedua itu tentunya juga mengandung peringatan, bahwa bisa jadi tidak semua orang islam meninggal dalam keadaan Muslim. Na'udzubillahi min dzaalik. Dengan demikian maka sesungguhnya menjadi muslim itu adalah karunia Allah subhanahu wata'ala yang sangat berharga bagi manusia. Oleh karena itu menjadi muslim yang kuat sehingga terjaga keislamannya sampai akhir hayat merupakan sesuatu yang penting untuk menjadi perhatian setiap muslim.

Untuk menjadi muslim yang kuat tentu kuncinya adalah memahami dan menghayati nilai-nilai ajaran Islam, dan kemudian mampu mengamalkannya. Apa yang dimaksud dengan nilai-nilai ajaran Islam, tentunya sangat luas aspeknya. Namun para ulama berpendapat, ada tiga pokok ajaran Islam yang menjadi sumber nilai-nilai ajaran Islam. Yaitu iman, Islam dan ihsan, yang dalam kajian keilmuannya dikenal dengan akidah, syariat, dan akhlak. Oleh karena itu untuk menjadi muslim yang kuat haruslah mampu memahami, menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tiga hal tersebut.

Yang pertama adalah akidah. Akidah merupakan cabang ilmu untuk memahami pilar iman, yang berisi 6 (enam) rukun iman. Yaitu beriman kepada Allah, kepada para MalaikatNya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir dan iman kepada takdir baik dan buruk-Nya. Dalam hal ini sumber ajaran keimanan adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul. Oleh karena itu Iman adalah keyakinan dalam hati yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya. Pemahaman dan keyakinan atas rukun iman yang enam ini akan melahirkan sikap dan perilaku seseorang yang menjadikannya memperoleh petunjuk dan pertolongan Allah subhanahu wata'ala untuk senantiasa hidup diatas jalan yang lurus, jalan kebenaran. Sebagaimana Allah subhanahu wata'ala tegaskan dalam firmanNya :

اِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Artinya : “Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” (QS. al-Hajj : 54).

Ketika orang-orang yang beriman melakukan sesuatu kebaikan karena Allah dan mencari ridho Nya, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik, dan akan dilipatkan pahala kebaikannya. Itulah jaminan dari Allah subhanahu wata'ala kepada orang-orang yang beriman. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 97).

Allah subhanahu wata'ala juga akan mengangkat dalam beberapa derajat kemuliaan bagi orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya :
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah : 11).

Dari uraian singkat tersebut dapat ditegaskan bahwa keimanan adalah merupakan karunia Allah subhanahu wata'ala, sebagai kekuatan batiniah yang akan membuka pintu-pintu kebaikan bagi umat manusia.

Yang kedua ajaran tentang syariat. Syariat merupakan cabang ilmu agama untuk memahami pilar Islam, yang berisi 5 (lima) rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya :

بُنِيَ الْإِ سْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ، وَ إِقَامِ الطَّلَاةِ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ، وَ صَوْمِ رَمضَانَ.(رواه البخاري ومسلم)
Artinya : “Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji, dan puasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lima hal yang tercantum dalam hadits tersebut sering disebut sebagai pilar tegaknya seorang muslim. Artinya tidak akan tegak dan utuh keislaman seseorang jika belum menjalankan kelima rukun islam tersebut.

Dengan dilandasi aqidah atau keyakinan atas ke-Maha Besaran Allah subhanahu wata'ala, seperti yang tersebut dalam asmaulhusna, orang-orang yang beriman akan sanggup untuk mentaati dan menjalankan perintah-perintah Allah subhanahu wata'ala, khususnya empat amaliah yang terkandung dalam rukun Islam tersebut. Yaitu kewajiban mengerjakan ibadah Shalat, Zakat, Puasa dan ibadah Haji bagi yang mampu.

Menjalankan empat macam ibadah ini, disamping sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala (sebagai wujud ketaatannya), bagi orang-orang yang beriman juga wujud kesungguhan membangun jati dirinya sebagai seorang muslim yang kuat. Amaliah ini pula yang membedakan performance antara orang Islam dan orang kafir. Dari empat amal ibadah tersebut orang-orang yang beriman akan memetik hikmah kebaikan dan keberuntungan bagi dirinya. Orang yang mengerjakan shalat misalnya, dia akan terjaga dari perbuatan jahat dan munkar. Sebagaimana Allah subhanahu wata'ala tegaskan dalam firmanNya :
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya : “Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut 45).

Jika dengan shalatnya secara individu orang islam telah menjaga dirinya dari perbuatan jahat dan munkar, maka secara sosial, ia juga telah berperan menjauhkan kejahatan dan kemungkaran di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Allah subhanahu wata'ala juga menempatkan shalat sebagai pintu meraih pertolongan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya :
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
Artinya : “Dan mintalah tolong kalian dengan sabar dan salat, dan sesungguhnya salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al-Baqarah 45).

Berikutnya, tentang Zakat. Dengan membayar zakat, seseorang menunjukkan kepatuhan dan kecintaannya kepada Sang Pencipta, serta mengakui bahwa semua harta benda yang dimiliki adalah titipan dari-Nya. Dengan menunaikan Zakatnya orang-orang yang beriman telah berupaya menjaga kesucian dirinya dari sifat kikir, serakah dan cinta harta yang berlebihan. Allah telah menjelaskan dalam firmannya :
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya : “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah : 103).
Tindakan memberikan sebagian dari harta yang dimiliki kepada yang berhak menerima mengajarkan sikap kesederhanaan, kerendahan hati, dan rasa empati terhadap sesama. Oleh karena itu pembayaran zakat memiliki dampak sosial yang luar biasa, yaitu dalam menjaga keseimbangan sosial, mengurangi angka kemiskinan, menguatkan solidaritas umat islam dan menumbuhkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Menumbuhkan kesejahteraan hidup masyarakat Berikutnya ibadah puasa. Tujuan Ibadah puasa adalah agar yang menjalankannya menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan yang antara lain ditandai dengan semakin taqarrubnya kepada Allah subhanahu wata'ala dan semakin tinggi pula kepedulian sosialnya. Puasa ramadhan melatih orang-orang yang beriman untuk terbiasa menahan diri dari perbuatan tercela dan melatih ketulusan dalam beramal serta memperbanyak amal kebaikan.

Berikutnya ibadah Haji. Sesuai syariahnya, seseorang yang melaksanakan ibadah Haji, ia telah menunjukkan kesanggupan dan ketulusannya menafkahkan sebagian hartanya untuk memenuhi panggilan Allah subhanahu wata'ala beribadah haji di tanah suci. Ibadah yang insya Allah akan semakin menambah dalamnya keimanan, karena dapat langsung menapak tilasi jejak dakwah para Nabi, khususnya jejak Nabi Muhamad dan Nabi Ibrahim alaihimassalam. Bertemu dan berkumpul dengan saudara-saudaranya, umat Islam dari seluruh penjuru dunia, disamping menambah dalam dan luasnya silaturrahmi juga wawasan dalam kehidupan beragamanya. Berkumpul dan berdesakan dengan orang banyak tanpa menimbulkan kegaduhan dan permasalahan dalam interaksinya. Yang demikian itu karena mereka dipersatukan niat dan tekad yang sama dalam ibadah haji, yaitu mendekatkan diri dan mencari ridha Allah semata. Dalam hal ini Allah subhanahu wata'ala telah memberikan petunjukNya : 
فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ
Artinya : “Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji” (QS. Al-Baqarah : 197).

Dari uraian diatas jelas tergambar, bahwa keseluruhan rukun Islam itu memiliki keterpaduan antara yang dengan yang lain dalam fungsi meneguhkan keislaman umat Islam.
Yang ketiga ajaran Islam tentang akhlak. Akhlak adalah bagian penting dari ajaran Islam yang melibatkan hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia dengan sesama manusia. Akhlak mencakup aspek etika, moralitas, dan tata krama yang diatur oleh ajaran agama Islam, yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah Rasul.

Jika aqidah atau iman merupakan modal kekuatan batiniah seseorang untuk mau dan mampu menegakkan lima rukun islam yang menjadikannya sebagai seorang muslim, maka keterpaduan Akidah (Iman) dan Syariah (Islam) akan menjadikan umat islam memiliki Akhlaqul-Karimah (Ihsan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang Ihsan, yaitu : “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatNya maka Dia melihatmu“ (HR. Muslim).

Dengan demikian maka akhlak adalah sikap dan perilaku seseorang yang terpuji, baik dalam hubungan hablunminallah maupun hablumminannas. Yaitu sikap dan perilaku yang dilandasi oleh keyakinannya bahwa setiap perbuatan manusia itu selalu dalam pengawasan Allah subhanahu wata'ala. Atas keyakinan inilah, maka umat Islam yang telah mempertaruhkan hidup dan matinya karena Allah, maka dia akan selalu memancarkan akhlaqul karimah dalam setiap tindakanNya. Berkaitan dengan dalam Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 21 diterangkan : 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Dengan demikian maka sesungguhnya akhlaqul-karimah itu lahir dan terpancar dari kuatnya akidah dan khusyuknya ibadah hamba Allah yang didasarkan karena Allah subhanahu wata'ala semata dan mengharap rahmat-Nya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menjadi muslim yang kuat adalah suatu keharusan bagi umat Islam, karena hanya muslim yang kuat yang akan terjaga keistiqamahan keislamannya sampai akhir hayat. Kekuatan keislaman yang dibangun dari pemahaman, penghayatan dan implementasi yang utuh dari iman, islam dan ihsan-nya. Dalam diri muslim yang kuat akan terpancar keshalehan pribadi dan keshalehan sosialnya. Mereka inilah insya Allah yang tergolong sebagai sebaik-baik umat, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah subhanahu wata'ala: 
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
Artinya : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali 'Imran : 110).

Kita semua menyadari betapa lemahnya diri kita dihadapkan dengan tidak ringanya tantangan dan ujian dalam hidup ini. Oleh karena itu untuk menjadi muslim yang kuat, istiqamah sampai akhir hayat tentulah diperlukan adanya kesabaran untuk saling ingat-mengingatkan dan tolong menolong diantara sesama umat islam, dengan senantiasa memohon bimbingan, petunjuk dan pertolongan-Nya. Semoga kita senantasa dalam lindungan Allah subhanahu wata'ala. Amiin Yaa Rabbil Alamin. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.