Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Masjid Istiqlal: Hargai Jasa Pahlawan dengan Menjadi Pahlawan Masa Kini

Admin 10 Nov 2023 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, MA, al-Chafid (Guru Besar Hukum Islam UINSA Surabaya, Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum [UNIPDU] Jombang)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Resolusi Jihad, Berawal dari kegundahan Bung Karno karena penjajah Belanda dengan NICA-nya (Netherlands Indies Civil Administration) ingin kembali menjajah Indonesia yang baru sekitar 2 bulan memproklamirkan kemerdekaannya, dengan membonceng (nunut) tentara sekutu Inggris yang diperkuat pasukan sewaan Gurka-nya. Bung Karno minta fatwa ke mbah Hasyim (KH. M. Hasyim Asy'ary, Tebuireng) bagaimana menghadapi problem bangsa yang amat berat ini.

Berdasar musyawarah dan riyadlah beliau dengan para Kyai Khas, dikeluarkanlah resolusi jihad 22 Oktober 1945, yang sekarang kita peringati sebagai HARI SANTRI, yang intinya: 
• Pertama, kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. 
• Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. 
• Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu Inggris pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia. 
• Keempat, umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. 
• Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilo meter, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang.

Perang 10 November, Didahului beberapa hari perang sebelumnya, dan dipicu ultimatum penjajah yang akan membumi hanguskan Surabaya, terbakarlah semangat juang dan berkobarlah ruh jihad para santri, berkat resolusi jihad mbah Hasyim. Teori dan strategi perang apa pun sulit mencerna kenyataan bahwa tentara penjajah itu dapat dikalahkan oleh pasukan santri dan arek-arek Suroboyo.

Di bawah komandan mbah Abbas (KH. Abbas Abdul Jamil) Buntet, Cirebon yang ditunjuk oleh mbah Hasyim, pasukan santri yang tidak terlatih, bahkan sebagian bersarung, tidak bersenjata selain bambu runcing yang diasmai, bisa mengalahkan pasukan Inggris dan Belanda yang bersenjatakan lengkap dan canggih untuk saat itu. Bahkan 2 (dua) jendral pasukan penjajah tewas mengenaskan di medan laga Jembatan Merah.

Apa rahasianya? Ini yang tidak pernah ditulis dalam semua buku sejarah, selain kesaksian pelakunya (antara lain ayah saya, sebagai pemuda Hizbullah saat itu). Dengan mengucap:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

(cukup bagi kami Allah sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik Penguasa, dan sebaik-baik Penolong) bambu runcing itu dilempar dan mencari sasarannya sendiri. Ini 100% persis dengan firman Allah subhanahu wata'ala:

فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰىۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَاۤءً حَسَنًاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya : “Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal/ 8 : 17)

Ada yang lebih spektakuler lagi. Mbah Abbas sang komandan yang terkenal amat sakti itu, justru berjalan-jalan mencari tank pasukan penjajah. Setiap ketemu tank, tank itu ditempeleng, maka tank itu macet dan disfungsi. Bahkan beliau juga yang melontar jatuh pesawat penjajah dengan kacang hijau.

Tentu tidak boleh melupakan jasa besar Bung Tomo yang dengan pekik Allahu Akbar nya melalui radio, membakar semangat arek-arek Suroboyo melawan penjajah.

Hari Pahlawan dan Menjadi Pahlawan Kontemporer, spirit resolusi jihad 22 Oktober dan semangat tempur 10 November, yang hari ini kita peringati sebagai Hari Pahlawan, harus menjadi inspirasi generasi bangsa zaman now untuk menjadi pahlawan kontemporer. Tidak harus bertempur, juga tidak harus berperang seperti generasi awal kemerdekaan, melainkan harus bertempur melawan korupsi, kolusi dan nepotisme, berperang melawan kebodohan dan kemiskinan, serta berjuang menegakkan keadilan dan memeratakan kemakmuran.

Untuk menjadi pahlawan kontemporer, modal utamanya adalah: persatuan, kesungguhan, kejujuran, keberanian, kebenaran, dan keikhlasan, yang semuanya dimiliki oleh pasukan santri di bawah komando mbah Abbas, atas instruksi mbah Hasyim. Persatuan juga menjadi modal utama kemenangan umat Islam masa lalu dalam menghadapi agresi musuh, sejak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Khulafa Rasyidin dan seterusnya. Oleh karena itu, mari kita bersatu, rukun, saling menghargai keragaman, tidak mempermasalahkan perbedaan di antara kita. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.