Oleh: KH Faried F Saenong, Ph.D
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Puasa Ramadhan adalah satu-satunya ibadah mahdhah yang diganjar langsung dengan tujuan “la‘allakum tattaqun,” agar kamu senantiasa bertaqwa. Dari enam kali penyebutan “la‘allakum tattaqun” dalam al-Qur’an, hanya puasa Ramadhan ini, sebagai ibadah mahdhah, yang mendapatkan jaminan taqwa jika puasa dilaksanakan di level sesungguhnya. Dalam lima ayat lainnya, “la‘allakum tattaqun” disebut-sebut sebagai konsekuensi ibadah kepada Allah Yang menciptakan manusia (QS. Al-Baqarah [2]: 21), konsekuensi berpegang teguh pada kitab Taurat (QS. AlBaqarah [2]: 63 dan al-A‘raf [7]: 171), konsekuensi pelaksaan qishash (QS. AlBaqarah [2]: 179), dan konsekuensi mengikuti jalan Allah.
Seringkali, terjemahan al-Qur’an dalam bahasa apapun, termasuk bahasa Inggris, Perancis dan Indonesia, bahkan tafsirnya sekalipun, tidak dapat meakili nilai, spirit dan pesan yang dikandung dalam kata-kata al-Qur’an. Redaksi-redaksi itu mesti dijelaskan sedemikian rupa agar menjadi representatif untuk menjelaskan makna sesungguhnya. Potongan akhir QS. Al-Baqarah [2]: 183 ini biasa diterjemahkan dengan “agar kamu bertaqwa,” atau “so that you may become righteous” atau “ainsi atteindrez-vous la piété.” Meski sudah membantu pembaca memahaminya, ketiga terjemahan ini tentu tidak menjelaskan maknanya secara baik.
Beberapa mufassir kemudian menjelaskan makna “la‘allakum tattaqun” dengan berbagai ekspresi kebahasaan untuk menangkap makna sesungguhnya. Al-Syarbini dalam al-Siraj al-Munir menjelaskan maknanya dengan “agar kamu berbaris di kelompok muttaqin” atau orang-orang yang bertaqwa, “karena puasa merupakan syiar para muttaqin.”. Di tempat lain, Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fi Zhilal alQur’an menegaskan bahwa taqwa hidup di dalam hati yang membuat umat Islam melaksanakan perintah puasa. Menurut mufassir ini, hanya taqwa yang dapat menjaga hati dari rusaknya puasa akibat maksiat.
Senada dengan itu, Ibn Katsir dalam tafsirnya mengemukakan alasan bertaqwa sebagai tujuan puasa, yaitu karena puasa dapat menghasilkan badan yang suci dan mempersempit gerak setan untuk menggoda manusia. Begitu pun al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan tujuan puasa adalah agar umat Islam mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah, dengan cara meninggalkan hawa nafsu yang halal dan mudah dipenuhi demi menjalankan perintah Allah dan mencari ridha-Nya.
Secara sederhana, taqwa jamak dipahami sebagai imtitsal awamir Allah wa ijtinab nawahih, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mengikuti makna etimologisnya, yaitu memelihara dan menghindari, taqwa sejatinya memelihara seseorang dalam menjalankan ketaatan pada Allah dan menghindarkan seseorang dari dosa-dosa kecil apalagi dosa besar. Dalam taqwa, ada makna tawadhu’ (rendah hati), qana’ah (merasa cukup atau ridha, wara’ (menjaga diri dari asumsi negatif orang lain), dan yaqin (keyakinan yang kuat pada jaminan Allah atas hidup manusia.
Kata “tattaqun” diungkapkan dalam bentuk kata kerja bentuk masa sekarang dan akan datang, yang dalam bahasa Arab disebut fi‘l mudhari‘ atau present dan future tense. Ini memberi indikasi bahwa pekerjaan atau aktivitas yang disebutkan dalam kata kerja tersebut semestinya berlaku untuk masa kini dan masa depan. Ketika taqwa yang disebutkan, maka taqwa itu mesti berlaku dan bekerja di masa sekarang dan akan dating. Jika konteksnya QS. Al-Baqarah [2]: 183, maka konsekuensi atau hasil atau tujuan puasa Ramadhan agar kamu senantiasa bertaqwa di masa kini, atau setelah berpuasa, dan di masa-masa berikutnya.
Sebuah kaidah tafsir yang terkait dengan bahasa, menegaskan jika Allah menggunakan fi’l mudhari dalam al-Qur’an terkait dengan aktivitas kebaikan, makan sejatinya itu akan berlaku sejak sekarang (saat dicetuskan) hingga di masamasa berikutnya. Dalam sebuah ayat yang sangat populer, Allah menggunakan fi’l mudhari’ Ketika Allah berfirman: “inna Allah wa malaikatahu yushalluna ‘ala alnabiyy,” bahwa Allah dan para malaikat-Nya saat ini dan selanjutnya di masa-masa berikutnya akan selalu dan senantiasa bershalawat kepada Nabi.
Terkait dengan intensitas kerja dalam sebuah kata kerja, memang, makna fi’l mudhari’ selalu sedikit lebih rendah dari makna isim fa‘il-nya. Jika kita ambil contoh kata taqwa, maka penggunaan fi’l mudhari’ (yattaqi) memiliki intensitas kerja yang sedikit lebih rendah dari penggunaan isim fa’il-nya (kata benda subyek), yaitu muttaqun (pentaqwa atau orang yang bertaqwa). Yattaqi mengandaikan perbuatan taqwa yang berlangsung terus-menerus, sedangkan muttaqun menunjukkan bahwa taqwa telah menjadi dirinya sendiri atau “profesi”-nya. Muttaqun mengandaikan orang yang telah memiliki taqwa atau mengejawantahkan taqwa dalam dirinya dan tak terpisahkan. Dalam diri muttaqun, taqwa telah terinternalisasi dalam dirinya secara total.
Jika dibandingkan dengan kata lainnya, misalnya bernyanyi (sebagai fi’l mudhari’, kata kerja sekarang dan akan datang) dan penyanyi (sebagai ism fa’il, kata benda subyek), maka bernyanyi hanya dilakukan sekali atau dua kali atau beberapa kali dalam hidup seseorang. Sebaliknya, makna seorang penyanyi mengandaikan bahwa bernyanyi merupakan rutinitasnya setiap saat hingga menjadi profesinya. Dalam hal ini, intensitas bernyanyi lebih tinggi jika diungkapkan dalam bentuk kata benda subyek (isim fa’il) dari pada dalam bentuk kata kerja sekarang dan akan datang (fi’l mudhari’).
Meski tujuan puasa diekspresikan dengan fi’l mudhari’ (tattaqun), yang sedikit lebih rendah dari jika diekspresikan dalam bentuk isim fa’il atau kata benda subyek (muttaqun), aktivitas taqwa telah mampu diwujudkan terus-menerus. Bentuk tattaqun sejatinya mengandaikan intensitas taqwa yang selalu mengalami pembaruan, penyegaran bahkan surplus dalam diri seseorang yang menjalankan puasa dengan baik. Ini merupakan salah satu konteks pemaknaan fi’l mudhari’ dalam ayat lainnya bahwa:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ (2) وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)
Siapa yang senantiasa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkasangkanya. (QS al-Thalaq [65]: 2-3)
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa puasa dan tujuannya (taqwa) sejatinya berlaku sepanjang hayat. Ramadhan merupakan bulan latihan dan kawah candra dimuka yang menjadi media pelatihan bagi siapapun untuk menjadi lebih baik. Karenanya, perjuangan dan nilai yang dirasakan dan dilaksanakan selama Ramadhan, juga dapat diejawantahkan dalam 11 bulan lainnya. Sehingga kemudian kita dapat merasakan Ramadhan sepanjang hayat, di mana kita akan selalu menjaga diri, mengandalikan diri, berintrospeksi seperti yang kita lakukan selama Ramadhan.
Dalam konteks ini pula, Ramadhan sepanjang hayat mengandaikan peningkatan kualitas taqwa dari satu waktu ke waktu lainnya. Selama Ramadhan, kita tinggalkan dosa-dosa kecil, begitu pun di luar Ramadhan. Selama Ramadhan, kita merasakan penderitaan orang yang tidak punya makanan, begitu pun di luar Ramadhan. Selama Ramadhan, kita menahan diri dari hal-hal yang halal. Begitu pun di luar Ramadhan, kita bisa menahan diri dari nafsu duniawi meski itu dapat dan boleh kita lakukan. Inilah yang membawa kita dari yattaqun menjadi muttaqun yang akan mendapatkan maghfirah (ampunan) dan surga dari Allah SWT:
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ (133) الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ (134)
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al ‘Imran [3]: 133-134).
Ramadhan sepanjang hayat sejatinya membawa kita untuk mengejar dan menjaga kualitas taqwa yang disebut sebagai salah satu kualitas tertinggi dalam Islam.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al-Hujurat [49]: 13.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.