SPIRIT MAULID NABI: MENEGUHKAN NILAI KEMANUSIAAN
Oleh: Dr. KH. Rahmat Hidayat, SE, MT
(Ulama dan Akademis dan Pimpinan Majelis Rasulullah)
Khutbah Pertama
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعود بالله من سرور أنفسنا ومن سياءت أعمالنا, من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا اله الا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده. اللهم صل وسلم وبارك على النبي الكريم وعلى أله وأصحابه اجمعين.
معاشرالمسلمين رحمكم الله :أصيكم ونفسى بتقواالله وطاعته لعلكم تفلحون
قال الله تعالى فى القرأن الكريم : وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ
وقال النبي صلى الله عليه وسلم: انما بعثت لاءتمم مكارم الآخلاق
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur alhamdulillah ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karuniaNya kepada kita bersama khususnya nikmat Islam, nikmat iman serta nikmat kesehatan sehingga kita dapat melaksanakan shalat jumat pada siang hari ini, semoga Allah SWT berkenan menerima seluruh amal ibadah kita, melipatgandakan pahalaNya, dan kita semua diberikan umur panjang, kesehatan, serta keberkahan sehingga kita dapat meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepadaNya. Aamiin.
Shalawat serta salam kita haturkan untuk baginda Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahahat serta pengikutnya yang setia sampai akhir zaman, semoga kita kelak mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW.
Tema khutbah Jumat pada siang hari ini adalah: “Sprit Maulid Nabi Meneguhkan Nilai Kemanusiaan”.
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun kita rayakan bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum penting bagi umat Islam untuk rasa cinta kita kepada junjungan kita Nai Muhammad SAW, manusia agung dan teladan utama kita semua. Kelahiran dan diutusya Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan tanda kasih sayang Allah kepada umat manusia sekaligus untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan (dhulumat) kepada cahaya (annur) agar manusia selamat dunia dan akhirat.
Sebagaimana sama-sama kita ketahui dari catatan sejarah, bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada zaman yang oleh ahli sejarah dinamakan zaman “jahiliyah” atau kegelapan (darkness/dhulumat). Sebutan jahilyah tersebut bukan karena masyarakat Arab pada masa tersebut bodoh atau buta huruf, tetapi lebih disebabkan karena sikap, perilaku dan kebisaan mereka bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya kebiasaan membunuh bayi peremuan hidup-hidup, kesukuan, paganisme, suka mabuk-mabukan (minum khamr), berjudi, bermaksiat ria dan lain-lain.
Oleh karena itu, kelahiran dan diutusnya beliau untuk memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan dan sekaligus menjadi rahmat bagi seluruh alamat. Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
"Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (Q.S. Al-Anbiya : 107).
Rasulullah SAW bersabda:
انما بعثت لاءتمم مكارم الآخلاق (رواه
احمد)
“Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Ahmad)
Ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi di atas menegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa rahmat yang melampaui batas-batas agama, suku, dan bangsa. Rahmat yang dimaksud mencakup seluruh aspek kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan kemanusiaan universal dan sekaligus untuk menyempurnakan akhlak. Terkait dengan akhlak ini, Rasulullah SWT menyatakan:
إن من خياركم أحسنكم أخلاقا (رواه احمد)
“Sesugguhnya yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (H.R. Ahmad)
Dalam tafsirnya, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menukil riwayat dari Ibnu Abbas bahwa "anugerah Allah adalah ilmu, dan rahmat-Nya adalah Muhammad SAW". Dengan demikian, memperingati Maulid Nabi adalah bentuk syukur atas rahmat terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia.
Landasan lain yang menjadi dasar kebahagiaan atas kelahiran Nabi terdapat dalam QS Yunus (10): 58
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨
"Katakanlah (Muhammad): 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'"
Ayat ini menjadi salah satu dalil kebolehan perayaan Maulid Nabi sebagai ekspresi kegembiraan atas rahmat Allah yang terwujud dalam diri Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad SWA juga menjadi suri teladan yang baik (uswah hasanah), sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam QS Al-Ahzab (33): 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Ayat ini menjadi fondasi utama bahwa setiap aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW patut diteladani, termasuk dalam hal kepedulian sosial, kejujuran, kesantunan, perdamaian dan kepemimpinan
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW mengajarkan kita semua untuk meningkatkan kepedulian dan solidaritas sosial. Beliau adalah sosok dengan akhlak sempurna, Dengann demikian, salah satu hikmah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah menjadi momentum untuk meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari, seperti jujur, amanah, patuh kepada orang tua, dan sifat-sifat terpuji lainnya.
Di samping itu, di era digital, tantangan moralitas semakin kompleks dengan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan krisis etika komunikasi. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga lisan (salamatul insa fi hifdhil lisan). Dalam konteks kekinian tentu termasuk dalam menggunakan teknologi secara arif. Rasulullah SAW juga teladan dalam menebarkan kasih sayang, kejujuran, kesantunan, dan senantiasa memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umatnya. Beliau juga teladan utama dalam melaksanakan tanggung jawab, kerja keras, menegakkan keadilan, serta memimpin dengan keteladan. Jika nilai-nilai mulia ini ditanamkan, terinterlisasi serta diamalkan oleh kita semua, maka yakinlah bahwa umat Islam akan bangkit-menjadi khoira ummah.
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Maulid juga memperkuat ukhuwah dan kebersamaan. Tradisi peringatan Maulid di berbagai daerah bukan hanya mempererat persaudaraan umat Islam, tetapi juga menumbuhkan harmoni dalam keberagaman bangsa. Nilai rahmatan lil 'alamin yang dibawa Nabi SAW selaras dengan cita-cita membangun Indonesia yang damai, adil, dan beradab. Nabi Muhammad SAW mengedepankan persatuan, bukan kekerasan. Beliau datang dengan cara mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, membina bukan menghina. Ini mesti dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk menjadikan Indonesia yang menghargai sesama manusia menuju Indonesia bersatu yang dirahmati dan diridhoi oleh Allah SWT-Baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur. Aamiin.
بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى وايكم بما فيه من الأ يات والذ كر الكيم إنه هوالسيع العليم
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.