Foto: Ahmad Hidayat

Khutbah Jumat Istiqlal: Berinteraksi Dengan As-Sunnah

Administrator 31 Jul 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. H. A. Satori Ismail, MA
(Ketua Dewan Syuro Ikatan Da'I Indonesia - IKADI)

Ma’asyiral Muslimin rasimakumullah, Allah Yang Maha Kuasa telah menganugerahkan karunia-Nya kepada kita umat Islam  dengan mengutus Nabi SAW, menjadikannya cahaya dan penunjuk jalan bagikita, dan memenuhi hatinya dengan kepedulian dan kasih sayang kepadakita sekalian, sebagaimana firman-Nya

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرسَلنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

Artinya: “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang bersinar.” (QS al Ahzab 45-46)

Dan Allah Yang Maha Agung berfirman:

لَقَد جَاءَكُم رَسُولٌ مِن أَنفُسِكُم عَزِيزٌ عَلَيهِ مَا عَنِتُّم حَرِيصٌ عَلَيكُم بِالمُؤمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Artinya: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Beratnya penderitaan yang kalian derita; [dia] peduli kepada kalian.” Dia Maha Baik dan Maha Penyayang kepada orang-orang beriman." ( QS: Attaubah 128)

Ma’asyiral Muslimin rasimakumullah

Dan karena Rasul yang mulia ini diutus untuk membimbing manusia ke jalan yang benar, Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan ketaatan kepadanya dan menjadikannya sebagai sarana untuk memperoleh rahmat-Nya. Allah  SWT berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ، 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (QS Annisaa’:  59)

Dan Allah SWT berfirman:

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُم تُرحَمُونَ

 Artinya: “Taatilah Rasul agar kamu mendapat rahmat.” ( QS Annur : 56)

Bahkan Allah SWT  menjadikan ketaatan kepada Rasul-Nya sebagai bagian dari ketaatan kepada-Nya, karena Dialah yang mengutusnya dengan apa yang Dia perintahkan. Maka Allah SWT, berfirman: “Barangsiapa taat kepada Rasul, maka ia telah taat kepada Allah”

Dalam kitab Sahih (Bukhari dan Muslim), diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ».

Barangsiapa taat kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa durhaka kepadaku, maka ia telah durhaka kepada Allah.”

Ketaatan kepada Nabi SAW berarti ketaatan kepadanya dalam segala hal yang beliau sampaikan, dan dalam segala hal yang beliau perintahkan atau larang. Apa pun yang beliau sampaikan harus dipercaya, apa pun yang beliau perintahkan harus dilakukan, dan apa pun yang beliau larang harus dihindari.

Berpaling dari Sunnahnya, dan melawan petunjuknya adalah penyebab kesesatan dan azab. Allah SWT berfirman:

وَمَن يَعصِ الله ورَسُولَه فَقَد ضَلَّ ضلالاً مُبيناً،

Dan barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah sesat dalam kesesatan yang nyata.”

Pedoman untuk Memahami Sunnah Nabi

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, pedoman yang paling menonjol untuk memahami Sunnah Nabi yang mulia diwakili dalam prinsip-prinsip metodologis berikut:

  1. Menggabungkan Sunnah dengan Al-Quran: Sunnah menjelaskan Al-Quran, menguraikan hal-hal umum di dalamnya, dan mengklarifikasi hal-hal yang mutlak. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan untuk memahami as sunnah  secara terpisah dari Al-Quran atau dengan cara yang bertentangan dengan hukum-hukumnya yang pasti. Hadits harus dipahami dalam cahaya ayat-ayat tersebut, untuk berfungsi sebagai penjelasan dan dukungan bagi prinsip-prinsip umumnya.  
     
  2. Membedakan antara Tujuan dan Cara: Membedakan antara apa yang Nabi SAW maksudkan demi tujuan itu sendiri (seperti perundang-undangan, etika, dan ibadah), dan apa yang beliau gunakan sebagai sarana lingkungan dan temporal (seperti pakaian, alat transportasi, dan peperangan), yang berubah seiring perubahan adat dan zaman. 
     
  3. Mempertimbangkan konteks linguistik: Memperhatikan aturan tata bahasa Arab, memahami teks berdasarkan makna dan bahasa kiasan kata-kata, dan menyelaraskan hadits-hadits yang tampaknya bertentangan agar selaras dengan maksud Sang Pemberi Hukum. 
     
  4. Mempertimbangkan Konteks dan Keadaan: Memahami hadits berdasarkan alasan turunnya dan konteks historisnya, dan tidak menggeneralisasi hal yang spesifik atau membatasi hal yang umum tanpa bukti. Mendamaikan Teks yang Bertentangan: Ketika dua hadits tampak saling bertentangan, keduanya harus didamaikan, atau hadits yang membatalkan dan yang dibatalkan harus diidentifikasi, atau harus ditetapkan preferensi terhadap salah satu hadits dibandingkan hadits lainnya. 
     
  5. Membedakan antara yang tetap dan yang berubah-ubah: Membedakan antara ibadah tetap yang tidak berubah dan sarana duniawi (seperti metode pertanian dan peperangan) yang tunduk pada perkembangan manusia, waktu, dan tempat. 
     
  6. Berkonsultasi dengan ulama hadits dan fiqih: Mematuhi prinsip "jarh wa ta'dil" (kritik dan otentikasi) yang ditetapkan oleh ulama umat Islam untuk menerima atau menolak hadits, dan menghindari deduksi sewenang-wenang tanpa penguasaan ilmu-ilmu Islam.

Ma’asyiral Muslimin rasimakumullah, di antara Kesalahan dalam Memahami Sunnah: 

  1. Ekstremisme dan Harfiah: Memahami teks secara harfiah tanpa memahami tujuan dan hubungannya, yang menyebabkan kesulitan, kesengsaraan, dan menjauhkan orang.
     
  2. Pengabaian dan Penolakan: Menolak hadits sahih dengan alasan bahwa hadits tersebut bertentangan dengan akal sehat yang terbatas atau kebiasaan kontemporer, atau dengan mempertanyakan sanadnya. Menangani Isu Ilmiah dan Sekuler:   Hadits dan Ilmu Eksperimental:
     
  3. Teks-teks Sunnah yang berkaitan dengan kedokteran, pertanian, atau fenomena alam harus dipahami dalam konteks lingkungannya dan bukan merupakan teori ilmiah yang mengikat. Inti dari Sunnah terletak pada bimbingan moral dan hukumnya.
     
  4. Hukum Universal dan Sosial: Membedakan antara firman wahyu ilahi Nabi ﷺ dan pernyataan pendapat serta penalaran independennya tentang masalah duniawi dan militer.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.