Oleh: Dr. KH. Imam Addaruqutni, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Marilah tak henti-hentinya kita bersyukur atas rahmat Allah SWT dan karunia-Nya yang tak terhitung dan terus menerus seraya berdoa kiranya para muassis, pemrakarsa pembangunan masjid nasional Istiqlal yang megah ini serta Imam Besar sekaligus pimpinan pelaksana amanat pemakmurannya termasuk kita semua yang memakmurkan masjid ini senantiasa mendapat barakah kemudahan hidup dunia dan akherat. Semoga kita tercatat sebagai hamba Alah yang mampu bersyukur karena iman dan ihsan yang aktif menjiwai amal perbuatan dan menjadi hamba yang bertaqwa.
Dalam kesempatan ini juga, marilah berseru untuk Aktualisasi Iman dan Ihsan dalam Era Permisif sekarang ini. Di era permisif ini desakan pragmatisme atau keinginan memenuhi kesenangan sesaat begitu intens. Karena itu, seringkali sikap kesalehan sengaja ditampak-tampakkan di tengah khalayak demi publisitas semata sementara di balik itu merusak nilai dan tatanan dan memberangus kemanusiaan.
Secara sederhana, maksud Era Permisif itu adalah zaman di mana semua tingkah laku kehidupan tidak ada standar moral/akhlak. Bagi kaum permisif tidak memperdulikan apa yang dikatakan sebagai maksiat itu. Baginya tidak perlu mengenal apa yang disebut baik secara moral ataupun buruk secara moral karena baginya semuanya adalah hal yang normal karena semuanya dikatakan hanya dengan standar netralitas etik atau etika yang netral.
Selanjutnya, dari anggapan netralitas etik dan moral itu pandangan hidup pun juga hanya duniawi atau hedonis. Ekstremnya adalah bahwa baginya hidup itu juga pada dasarnya sangat individualis dan tidak juga usah terlalu difikirkan apakah kebersamaan terlalu dibutuhkan atau tidak, dst. Standard pandangan hidup orang-orang penganut permisif yang paling orisinal Adalah mengejar KESENANGAN DUNIAWIYAH yang sekaligus menjadi semangat hidupnya.
Setelah merenungkan sejenak adanya realita budaya era permisif ini, maka jika diperturutkan, masih adakah arti manusia dan kemanusiaan? Jika demikian, maka bukankah yang demikian hanya ingin menjadi layaknya makhluk binatang dengan jenis dan ragamnya yang hanya memiliki kelebihan bicara dan bisa pamer tentang kesenangannya yang dikira?
Saat ini, fenomena hidup serba permisif itu di sebagian kelompok masyarakat benar-benar ada dan nyata dengan multi bias yang destruktif. Beberapa kenyataan seperti praktek korupsi yang merata, LGBT, penyalahgunaan NARKOBA, perjudian dengan segala bentuknya, perselingkuhan, dan sebagainya telah dinyatakan sebagai perbuatan yang diancam dengan undang-undang.
Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah 57 (al-Hadid); ayat 20 mengingatkan manusia yang beriman agar benar-benar mengenali kehidupan dunia sehingga tidak larut dalam keduniaan:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ ...
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan.”
Karena itu, janganlah sampai memperturutkan selera kehidupan duniawi sehingga larut mengikuti kelompok permisif sebagaimana disebutkan. Yang sudah larut dalam kehidupan duniawi ini sebagai tujuannya, bahkan bersikap ngeyel, keras kepala, dan keras sikap jika pun diperingatkan dengan cara santun dan pelan sekalipun sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2); 11:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ١١
Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,”7) mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Namun, hanya yang lemah iman dan tidak adanya kadar ihsan dalam kalbu, jiwa, dan fikiran yang tidak lagi memperdulikan petuah kebaikan (maw’izhah hasanah).
Karena itu, aktualisasi iman dan ihsan akan memastikan identitas kemuliaan manusia yang menyadari akan arti hidupnya sendiri di satu sisi, dan di sisi lain adalah menjalankan tugas atau misi kekhalifahan dan amanah Rabbaniyah atau Rubbbubiyah yang berarti kesadaran untuk menegakkan terbangunnya dan terbinanya kebaikan di atas bumi. Dalam Surah An-Nahl; 90 Allah berfirman:
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ٩٠
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”
Pada akhirnya, misi tersebut sekaligus merupakan pernyataan syukur atas kanuria Allah SWT dan itu adalah sikap adil sebagaimana disebut dalam Tafsir al-Thabarity bahwa pesan ayat itu disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang diteruskan kepada umat manusia dan kita semua.
الإقرار بمن أنعم علينا بنعمته, والشكرله على إفضاله وتولي الحمد أهله.
Jadi, yang menganut permisivisme berarti yang tidak adil dan zalim bahkan pada diri sendiri sekalipun, itu berarti zalim bertumpuk atau (ظلم مركب) zhulmun murakkabun.
Dengan menghayati pengajaran Allah SWT dan seturut ayat di atas (يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ), yang selalu yang beriman dan ber-ihsan kiranya selalu dirasakan hadirnya kesempatan untuk berbuat demi menorehkan sumbangsihnya bagi kelangsungan sejarah kemuliaan sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul Allah dengan berbagai macam perjuangannya. Allah menunjukkan dan Allah juga yang melihatnya. Demikian difirmankan Allah SWT dalam Surah Al-Taubah; 105:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ ١٠٥
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”
Pada akhirnya, aktualisasi iman dan ihsan di era permisif ini akan tampak nyata dalam fenomena yang bisa disebut di antaranya:
Pertama, iman itu sendiri fungsional merupakan fondasi moral atau akhlaq dan spiritualitas; tataran berikutnya bahwa iman melahirkan integritas, amanah, dan keteguhan prinsip; dan bagi karakter iman yang aktual juga membentuk daya tahan menghadapi godaan zaman sebagaimana disebutkan.
Kedua: Ihsan yang aktual pada dasarnya merupakan kesadaran akan kehadiran di hadapan Allah sebagai kualitas dalam pelaksaan ibadah atau setidaknya dirasakan akan kehadiran Allah dalam ibadahnya dalam arti luas ketika bekerja juga dimaknai sebagai ibadah; pada gilirannya adalah ihsan kepada sesama manusia mewujud dalam kejujuran, empati, keadilan, toleransi yang proporsional; ihsan berkehidupan dalam spektrum lingkungan budaya, kerja, maupun alam sehingga kehadirannya selalu membawa kebaikan.
Muh. Asdar
Ahmad Hidayat
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.