Oleh: Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag
(Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya terlihat ketika kita berada di masjid, ketika sedang melaksanakan ibadah, atau ketika berada di tengah-tengah banyak orang. Ketakwaan yang sejati juga tampak dalam kehidupan sehari-hari: ketika kita bekerja, ketika menjalankan amanah, ketika berinteraksi dengan sesama, dan ketika mengambil keputusan.
Bahkan, salah satu tanda ketakwaan yang paling penting adalah ketika seseorang tetap memilih kebaikan meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya. Inilah yang berkaitan erat dengan integritas. Integritas adalah kesatuan antara apa yang kita yakini, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan. Orang yang memiliki integritas berusaha menjaga keselarasan antara hati, perkataan, dan perbuatannya.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ١١٩
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah [9] : 119).
Perhatikanlah ayat ini. Allah Swt. menghubungkan ketakwaan dengan kejujuran. Seorang mukmin tidak hanya diperintahkan untuk memiliki keyakinan yang baik, tetapi juga untuk menghadirkan keyakinan itu dalam kehidupan nyata. Kejujuran menjadi salah satu fondasi integritas. Seseorang yang jujur akan berusaha menyampaikan sesuatu sebagaimana adanya. Ia berusaha menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya. Ia berusaha menempatkan sesuatu pada tempat-nya dan menghormati hak orang lain.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kehidupan manusia membutuhkan aturan, ketertiban, dan tanggung jawab. Namun, semua itu akan menjadi semakin kuat apabila disertai dengan kesadaran dari dalam diri. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan manusia tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Islam juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap perbuatan kita berada dalam pengetahuan Allah Swt. Allah Swt berfirman:
اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ ١٤
"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?" (QS. Al-'Alaq [96] : 14).
Ayat ini singkat, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam. Allah melihat. Tidak ada satu pun perbuatan kita yang luput dari pengetahuan-Nya. Ketika berada di hadapan manusia, kita mungkin berusaha menampilkan diri dengan sebaik-baiknya. Namun, seorang mukmin menyadari bahwa nilai dirinya tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di hadapan manusia.
Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati dan mengetahui apa yang kita kerjakan. Karena itu, ukuran integritas seorang mukmin bukan hanya: “Apakah ada orang yang melihat saya?”.
Tetapi juga: “Apakah Allah melihat saya?” Dan jawabannya adalah: ya.
Jamaah rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ memberikan fondasi yang sangat kuat mengenai kesadaran ini melalui hadis Jibril. Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang ihsan, beliau bersabda:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim).
Inilah ihsan. Ihsan melahirkan kesadaran bahwa kehidupan kita senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt. Jika kesadaran ini tumbuh dengan baik, maka ia akan memengaruhi perilaku kita.
Ketika memegang amanah, kita berusaha menjaganya. Ketika mengelola harta, kita berusaha berhati-hati. Ketika mendapatkan tanggung jawab, kita berusaha menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Ketika diberikan tanggung jawab yang lebih besar, kita berusaha menunaikannya dengan sebaik-baiknya.
Ketika tidak ada yang memperhatikan, kita tetap berusaha melakukan kebaikan. Dan ketika memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar, kita mengingat bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang kita lakukan. Inilah integritas yang tumbuh dari iman.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Allah Swt. juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga amanah. Allah Swt berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa [4] : 58).
Amanah memiliki cakupan yang sangat luas.
Amanah bukan hanya berkaitan dengan harta. Amanah juga mencakup pekerjaan, ilmu, waktu, keluarga, tanggung jawab, jabatan, kewenangan, dan berbagai kepercayaan yang diberikan kepada kita.
Setiap orang memiliki amanah sesuai dengan perannya masing-masing.
Seorang pemimpin mempunyai amanah.
Seorang guru mempunyai amanah.
Seorang dosen mempunyai amanah.
Seorang pegawai mempunyai amanah.
Seorang pedagang mempunyai amanah.
Seorang anak mempunyai amanah.
Seorang kepala keluarga mempunyai amanah.
Demikian pula setiap kita mempunyai amanah dalam kehidupan masing-masing.
Karena itu, hendaknya kita tidak hanya bertanya:
“Apa yang saya dapat dari amanah ini?”
Tetapi juga bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang sudah saya lakukan untuk menunaikan amanah ini?”
Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi jalan bagi kita untuk melakukan introspeksi.
Jamaah rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan kita:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa integritas dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Kejujuran tidak selalu diuji dalam perkara besar. Kadang-kadang ia justru diuji dalam perkara yang sederhana: Menepati janji, berkata sesuai kenyataan, menghargai hak orang lain, menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, menggunakan sesuatu sesuai dengan peruntukannya. Menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.
Hal-hal yang tampak kecil inilah yang secara perlahan membentuk karakter seseorang. Karena itu, jangan meremehkan kebaikan yang kecil. Jangan pula meremehkan kesalahan yang kecil. Sebab kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat mem-bentuk karakter dan memengaruhi keadaan hati.
Maka seorang mukmin perlu senantiasa melakukan muhasabah, memperbaiki diri, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha kembali kepada jalan yang benar setiap kali melakukan kekeliruan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Membangun integritas sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan iman. Aturan tetap diperlukan. Ketertiban tetap diperlukan. Pengawasan tetap diperlukan. Sistem yang baik juga diperlukan.
Namun semuanya akan menjadi semakin kuat apabila manusia memiliki kesadaran takwa. Takwa membuat seseorang memiliki pengawasan di dalam dirinya sendiri.
Ia berusaha melakukan kebaikan bukan semata-mata karena dilihat manusia, tetapi karena mengharap rida Allah. Ia menjaga amanah bukan hanya karena takut kepada konsekuensi, tetapi karena memahami bahwa amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ia menjaga kejujuran bukan hanya untuk memperoleh kepercayaan manusia, tetapi karena kejujuran merupakan bagian dari iman dan akhlak mulia. Inilah pendidikan iman yang sesungguhnya.
Jamaah rahimakumullah,
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Ketika mendapatkan amanah, apakah kita berusaha menjaganya? Ketika diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan, apakah kita segera melakukannya?
Ketika berhadapan dengan hak orang lain, apakah kita berusaha menghormatinya? Ketika tidak ada yang mengetahui apa yang kita lakukan, apakah kita tetap memilih kejujuran? Dan ketika menghadapi berbagai pilihan dalam kehidupan, apakah kita mampu memilih apa yang diridai Allah?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu kita tujukan kepada orang lain. Pertanyaan-pertanyaan ini pertama-tama harus kita tujukan kepada diri kita sendiri. Sebab perubahan yang paling bermakna dimulai dari dalam diri.
Jamaah rahimakumullah,
Itulah integritas. Integritas bukan sekadar citra baik di hadapan manusia. Bukan pula sekadar reputasi. Integritas adalah kesungguhan untuk menjaga keselarasan antara iman, perkataan, dan perbuatan. Integritas adalah kesetiaan kepada kebenaran karena Allah.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita pribadi-pribadi yang amanah, jujur, dan berintegritas. Semoga Allah membimbing kita agar mampu menjalankan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Semoga ketika diberikan amanah, kita mampu menjaganya. Ketika diberikan tanggung jawab, kita mampu menunaikan-nya dengan baik. Ketika memperoleh rezeki, kita mampu mensyukurinya. Dan ketika memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan, kita mampu melaksanakannya dengan ikhlas.
Ahmad Hidayat
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.