Oleh: Prof. Dr. KH.M. Asrorun Ni'am Sholeh, MA
Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama | Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah. Segala puji dan syukur marilah senantiasa kita haturkan kepada Allah yang telah melimpahkan banyak nikmat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam semoga tetap teruntuk Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, tabi’in, tabiit tabi’in, dan kepada umat Islam hingga akhir zaman.
Selanjutnya marilah kita bertaqwa kepada Allah kapanpun dan dalam kondisi apapun dengan senantiasa berusaha untuk mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan serta menjauhi segala larangan larangan Allah. Mari kita tingkatkan amal ibadah, serta senantiasa meneladani kehidupan baginda Rasulullah saw, dengan akhlaknya yang mulia, senantiasa menjaga kejujuran, dan memberi jalan keluar setiap permasalahan, dengan semangat keadilan, kemaslahatan, dan kebijaksanaan.
Khutbah Jum’at pada hari ini akan membahas tentang upaya Mendorong Peran Pemuda sebagai Generasi Penerus Yang Tangguh dengan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan rela berkorban.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah. Pada bulan ini, Bulan Oktober, tepatnya 28 Oktober kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, di mana 97 tahun yang lalu, ada peristiwa bersejarah dalam kehidupan kebangsaan kita, yaitu Kongres Pemuda yang melahirkan tekad dan komitmen persatuan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia. Sebelumnya, di 22 Oktober ada peringatan Hari Santri, ada heroisme semangat keagamaan kaum muda santri dalam mengartikulasikan semangat cinta tanah air melalui Resolusi Jihad.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah.
Wajah kita hari ini adalah buah perjuangan para pendahulu kita. Kita bisa menikmati kemerdekaan karena perjuangan dan pengorbanan pendahulu kita, dengan jiwa dan raga. Kita bisa menikmati indahnya perdamaian adalah buah perjuangan para pendahulu yang terus membangun dan menebarkan semangat persatuan di seluruh anak bangsa.
Wajah kita ke depan, ditentukan oleh investasi kita hari ini, apakah terus tetap bersatu atau tercerai berai. Hari ini kita punya tugas sejarah, punya kewajiban merawat warisan luhur tersebut, komitmen bersatu di tengah perbedaan, guna mewujudkan generasi penerus bangsa yang tangguh dan tetap dalam harmoni di tengah perbedaan.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah. Setidaknya ada tiga nilai penting dari Semangat Sumpah Pemuda, Hari Santri, dan keteladanan nabi, dalam mengartikulasikan semangat dan peran generasi muda dalam menapaki sejarah masa depan yang gemilang.
Pertama¸al-shidqu, integritas diri dan kejujuran. Nabi Muhammad saw adalah teladan kejujuran dan menekankan pentingnya nilai kejujuran. Sejak muda sudah ditempa oleh Allah SWT, dan dikenal sebagai sosok yang jujur dan dapat dipercaya.
Salah satu akhlak yang diteladankan oleh Rasulullah adalah kejujuran. Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan kualitasnya sebagai manusia berakhlak mulia jauh sebelum menjadi Rasul. Sebagai pedagang, Nabi Muhammad tidak pernah berkata dusta demi keuntungan. Beliau selalu mengatakan dengan jujur tentang barang yang dijualnya, termasuk tentang kerusakan atau kejelekan barang tersebut.
Selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan sesuai dengan kualitas yang diminta pelanggan. Reputasi kejujuran dan akhlak yang baik yang dimiliki sosok muda Rasulullah Muhammad tersebut telah dikenal publik, dan memunculkan kepercayaan publik kepada sosok beliau.
Nabi Muhammad menekankan sifat kejujuran baik dalam bentuk lisan maupun dalam perbuatannya sehari-hari, sebagaimana dalam sabdanya:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hendaklah kalian menjauhkan diri dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)
Spirit Sumpah Pemuda juga mengajarkan pesan kejujuran dan integritas diri. Jujur atas komitmen untuk bersama dan bersatu. Semua memiliki keinginan dan cita-cita yang sama, terwujudnya identitas tunggal, Indonesia. Masing-masing kelompok saling mengakui dan menghargai perbedaan yang ada.
Akan tetapi, perbedaan itu tidak ditonjolkan sebagai identitas primordial. Semua komponen berkomitmen untuk menyepakati identitas tunggal sebagai “kalimatun sawa’”, identitas yang menyatukan semua, Indonesia. Konsentrasi seluruh elemen yang berbeda tersebut adalah mencari persamaan dan titik temu, bukan mencari titik perbedaan, apalagi menonjol-nonjolkan.
Kejujuran melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan menjadi modal besar yang bersifat intangible untuk berbagai investasi, baik yang bersifat material maupun immaterial. Di tengah era digital seperti hari ini, kita bisa merasakan betapa pentingnya sifat kejujuran dan integritas diri. Kejujuran adalah modal untuk melahirkan kerjasama dan kolaborasi berbasis digital.
Banyak platform digital, baik yang berbasis sosial maupun berbasis komersial, seperti e-commerce dan e-banking, yang didesain atas dasar kepercayaan dan integritas. Reputasi dan integritas harus dijaga, terlebih bagi generasi muda yang merupakan native digital.
Begitu terjadi fraud, kecurangan, atau ketidakjujuran dalam transaksi digital, maka akan tercatat dan diblack list, yang berdampak pada ketidakpercayaan publik.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah. Kedua, al-amanah. Salah satu sifat utama pemuda sebagai prototype pemuda tangguh ideal adalah sifat al-amanah. Ketika terjadi pembangunan kembali Ka’bah setelah diterjang banjir, saat rampung, terjadi perselisihan sengit mengenai siapa yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya.
Semua kabilah berebut untuk bisa meletakkan Hajar Aswad yang menyebabkan konflik dan ketegangan. Kemudian Abu Umayyah bin Mughiroh sebagai orang tertua di antara semua kabilah menawarkan jalan keluar dengan menetapkan bahwa yang pertama kali masuk melalui pintu as-Shofa maka ialah yang berhak untuk mengambil kebijakan tentang peletakkan Hajar Aswad tersebut.
Allah SWT menakdirkan bahwa orang yang pertama kali memasuki pintu masjid adalah Nabi Muhammad SAW. Ketika melihat sosok Muhammad, maka semua bersepakat dan menyatakan bahwa sosok tersebut adalah al-Amin dan karenanya semua ridho terhadap keputusan yang dibuatnya.
Lantas apakah beliau langsung meletakkan hajar aswad itu sendiri? Tidak, beliau bukanlah sosok egois dan gila hormat. Yang beliau lakukan adalah mengajak beberapa tokoh secara bersamaan dengan cara membentangkan kain dan hajar aswad itu diletakkan diatasnya kemudian diangkat secara bersama-sama.
Hal ini membuat para tokoh yang ada menjadi puas dan tidak merasa ditinggalkan ataupun direndahkan. Alhasil dengan keputusan yang bijaksana ini, hilanglah perselisihan di antara kaum Quraisy.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah. Keindahan akhlak yang di miliki Nabi saw saat menyelesaikan perselisihan yang mengarah pada konflik adalah teladan utama, terlebih di tengah situasi sosial politik kita yang cenderung mengedepankan egoisme, selfis, dan mengabaikan nilai-nilai kebersamaan dan rekonsiliasi.
Di tengah tradisi jahiliyyah, tradisi di mana kehormatan diukur dengan dominasi dan kekuasaan, serta keunggulan kabilah dan golongan, meski harus dengan menaklukkan dan merendahkan yang lain, Rasulullah hadir membangun harmoni dan kebersamaan, menundukkan ego untuk harga mahal persatuan dan kebersamaan.
Di tengah tradisi tanpa adab dan nir-moral muncul sosok mulia menjadi teladan. Gelar al-Amin, disematkan kepada beliau sejak beliau muda. Sebuah gelar yang dikenal bukan hanya di kalangan kaum muslimin saja, tetapi juga di kalangan orang-orang kafir Quraisy. Gelar al-amin disematkan karena investasi Nabi dan langkahnya dalam resolusi konflik yang rekonsiliatif, yang menyatukan dan membangun kebersamaan.
Kisah ini memberi teladan bagi kita agar senantiasa bisa menjadi rekonsiliator ketika terjadi pertikaian atau konflik di tengah masyarakat. Spirit dan semangat Sumpah Pemuda juga mengajarkan jiwa rekonsiliatif di tengah perbedaan yang ada. Bukan menjadikan perbedaan sebagai ajang berlomba untuk menunjukkan kekuatan dan kehebatan.
Sikap rekonsiliasi Nabi Muhammad tersebut sejalan dengan penyampaian Al-Qur’an. Dalam banyak ayat, Allah sangat menekankan agar menempuh jalan rekonsiliasi dalam penyelesaian konflik. Di antaranya Firman Allah SWT dalam QS. al-Hujarat [49]: 9-10:
وَاِنۡ طَآٮِٕفَتٰنِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَهُمَاۚ فَاِنۡۢ بَغَتۡ اِحۡدٰٮهُمَا عَلَى الۡاُخۡرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِىۡ تَبۡغِىۡ حَتّٰى تَفِىۡٓءَ اِلٰٓى اَمۡرِاللّٰهِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَهُمَا بِالۡعَدۡلِ وَاَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الۡمُقۡسِطِيۡنَ
Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zhalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zhalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah.
Ketiga, adalah al-itsar, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri dan kelompok. Itsar adalah sikap mengutamakan orang lain di atas diri sendiri, bahkan ketika kita sendiri membutuhkan bantuan. Teladan sikap itsar bisa dilihat dalam praktek relasi antara Kaum Muhajirin dan Anshar, yang saling mendukung membengun kebersamaan.
Kaum anshar sebagai “pribumi”, menyambut dan memberikan hak prioritas pemenuhan kebutuhan kaum muhajirin, yang telah berjuang mendampingi Rasulullah saw hijrah, meninggalkan sanak saudar dan harta benda. Bagaimana keramahan kaum Anshar yang merupakan pribumi Madinah dalam menyambut dan memfasilitasi kedatangan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Mekkah atas dasar ketaatan.
Sikap al-itsar tersebut diabadilakan dalam al-Quran sebagaimana firman-Nya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (al-Hasyr [59]: 9)
Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan khasasah dalam ayat tersebut ialah keperluan, di mana Kaum Anshar lebih mementingkan kebutuhan kaum Muhajirin daripada kebutuhan diri mereka sendiri; mereka memulainya dengan kebutuhan orang lain sebelum diri mereka, padahal mereka sendiri membutuhkannya. Mereka mencintai orang-orang Muhajirin dan menyantuni mereka dengan harta bendanya.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah.
Peristiwa Sumpah Pemuda mengajarkan nilai penting bagi kita generasi penerus, kesiapan menanggalkan ego diri dan kelompok, dan mengedepankan kepentingan bersama yang lebih besar. Hal itu sangat nampak ketika terbangun konsensus menjadikan bahasa Indonesia yang berasal dari Bahaya Melayu sebagai bahasa Persatuan. Padahal, dari sisi jumlah penutur, bahasa Melayu kalah dengan bahasa Jawa dan Bahasa Sunda.
Pada masa Sumpah Pemuda Tahun 1928, bahasa Jawa dan Sunda memiliki jumlah penutur terbanyak, namun bahasa Melayu tetap dipilih sebagai bahasa persatuan. Pemilihan bahasa Melayu ini merupakan keputusan strategis yang didasarkan pada pertimbangan sosial, politik, dan linguistik untuk mempersatukan bangsa yang sangat beragam.
Keputusan Sumpah Pemuda untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menunjukkan adanya kesadaran para pemuda saat itu untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan atau suku. Dengan mendeklarasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mereka membangun fondasi komunikasi yang kuat untuk mempersatukan berbagai keragaman suku, budaya, dan bahasa yang ada di Nusantara.
Pemilihan dan kesepakatan untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan karena alasan yang rasional, dan semata mengedepankan kebersamaan. Bahasa Melayu dipilih menjadi bahasa nasional di Indonesia karena sudah lama menjadi lingua franca atau bahasa perhubungan dan perdagangan di seluruh Nusantara, bukan karena jumlah penuturnya.
Komitmen untuk bersatu, bersama dan mencari titik temu lebih dikedepankan daripada menuruti ego dan kepentingan kelompok yang bisa mengorbankan kebersamaan.
Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai sebuah teladan komitmen untuk terus mencari titik temu di tengah perbedaan. Perbedaan adalah sunnatullah, sesuatu yang given yang tidak layak untuk jadi faktor pemisah. Tugas kita adalah mencari titik temu, mewujudkan konsensus, dan mewujudkan kesatuan, persatuan dan kebersamaan.
Bukan mengeksploitasi perbedaan menjadi jurang pemisah, meski atas nama keragaman. Mencari syiar persamaan, bukan menonjolkan perbedaan, meski atas nama identitas. Identitas masing-masing budaya, suku, kelompok, dan antar-golongan, larut menjadi identitas nasional. Jika upaya penyatuan belum membuahkan hasil, atau karena karakter identitas tersebut tidak mungkin disatukan, maka tugas kita adalah membangun kesepahaman (al-tafahum) untuk menjamin terwujudnya harmoni, toleransi di tengah perbedaan. Ujunganya adalah kebersamaan.
Apa yang dilakukan oleh para pemuda yang berkumpul dalam Kongres Pemuda Tahun 1928 tiada lain kecuali karena jiwa al-itsar. Jiwa al-Itsar perlu terus dihidupkan di tengah situasi masyarakat yang cenderung individualistik, egois, selfis, dan mengedepankan kepentingan kelompok jangka pendek, eksis di depan publik tanpa menghiraukan rasa kepatutan dan keadilan publik. Jiwa al-itsar perlu terus kita internalisir, kita arusutamakan, kita jadikan sebagai way of life, dalam pikiran dan cara pandang, serta perilaku keseharian.
Hadirin Jamaah Jumu’ah rahimakumullah.
Sikap mental yang seperti ini, al-shidqu, al-amanah, dan al-itsar adalah ajaran universal yang harus terus ditumbuhkan untuk mewujudkan generasi penerus unggulan; generasi tangguh untuk mewujudkan peradaban. Nilai-nilai universal ini, dalam implementasinya akan beririsan dengan adat, budaya, dan kebiasaan masyarakat yang bersifat dinamis, dan partikular.
Seperti halnya nilai universal keharusan anak muda menghormati orang yang lebih tua dan keharusan orang tua untuk menyayangi anak muda, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw:
ليس منا من لم يرحم صغيرنا،ويوقّر كبيرنا
“Bukan termasuk dari golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang tua (orang dewasa) kami'” (HR. At Tirmidzi)
Dalam implementasinya, bentuk penghormatan dan kasih sayang tersebut bisa beragam sesuai konteks ruang dan waktu. Ada komunitas yang memiliki tata cara pengormatan dengan cara mencium tangan orang yang lebih tua jika bertemu, membungkukkan badan jika berpapasan, berada di belakangnya jika berjalan, dan sejenisnya.
Ada juga yang dengan cara berpelukan sebagai ganti cium tangan, memberi isyarat tangan jika berpapasan, berada di samping beriringan jika berjalan. Itu semua kebiasaan yang bersifat partikular untuk menerjemahkan nilai penghormatan yang diperintahkan Nabi, yang bersifat universal.
Terhadap nilai-nilai yang seperti ini, tidak boleh ada dominasi tafsir, yang dibutuhkan adalah kesepahaman (al-tafahum), untuk mewujudkan harmoni dan kebersamaan. Jika tidak ada kesepahaman dan kemampuan membangun toleransi di tengah keragaman, maka akan terjadi konflik dan perselisihan. Di sinilah relevansi statemen:
من عرف لغة قوم سلم من أفاته
“Barang siapa mengetahui bahasa (adat istiadat, kebudayaan dan kebiasaan) suatu komunitas, maka dia aman dari masalahnya”
Karena itu, pemhaman mengenai keragaman kultur, budaya, bahasa, dan adat istiadat menjadi penting dalam implementasi nilai-nilai luhur yang bersifat universal, agar tujuan utama dalam membangun masyarakat mutamaddin dapat tercipta tanpa menyisakan masalah sosial yang justru bisa menyebabkan keretakan, perselisihan dan konfil.
Di antara pelajaran penting dalam momentum Sumpah Pemuda ini adalah pentingnya kepeloporan pemuda dalam mewujudkan kesatuan dan persatuan, jangan terjebak pada konflik akibat eksploitasi dan mempertentangkan terhadap realitas adanya perbedaan. Perbedaan adalah sunnatullah, sebagaimana perbedaan suku, bangsa, dan juga bahasa serta budaya.
Bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dengan membangun kesepahaman, dan sebanyak mungkin mencari titik temu dengan komitmen persatuan.
“Persatuan Indonesia”, sebagaimana dirumuskan dalam sila ketiga Pancasila memuat prinsip integrasi dan persatuan. Allah SWT telah menegaskan persatuan di tengah perbedaan ini dalam Al-Qur’an yang termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Jama’ah Jum’at yang terhormat.
Semoga kita semua termasuk orang yang dapat meneladani baginda Rasulullah saw, mengambil spirit Sumpah Pemuda dan Hari Santri, dengan membiasakan akhlakul karimah, berkomitmen untuk jujur dan memegang janji, menjadi solusi atas masalah sosial yang muncul dengan penuh harmoni, mewujudkan sejarah masa depan Indonesia yang bersatu dalam harmoni, baldah aminah muthmainnah.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.