Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Membangun Peradaban Islam di Akhir Zaman

Admin 31 Jul 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Segala puji milik Allah SWT, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, Islam dan Ihsan. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat, pewarisnya di setiap zaman beserta seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,

Isyarat Kebangkitan di Tengah Keterpurukan

Kita menyaksikan hari ini, kondisi dunia yang carut marut. Kelemahan penegakan hukum, ketidakadilan yang merajalela, serta berbagai krisis moral dan sosial seolah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh terjebak dalam keputusasaan dan pesimisme. Justru, kondisi ini adalah isyarat (petunjuk) dari Allah SWT dan nubuwwah (ramalan kenabian) di akhir zaman, bahwa umat ini akan dibangkitkan kembali.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا.

“Bumi akan dipenuhi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi dengan kebohongan dan kezaliman.” (Hari. Abu Daud)

Ini justru menjadi sinyal bahwa kebangkitan umat Islam akan tiba ketika kezaliman telah mencapai klimaksnya. Artinya, semakin parah kerusakan yang terjadi, semakin dekat pula janji Allah untuk membangkitkan kembali umat yang berpegang teguh pada kebenaran.

Adalah merupakan Sunnatullah, kehidupan ini bagaikan roda yang berputar sesuai Firman-Nya:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (Q.S. Ali-Imrān: 140)

Generasi terbaik umat (khayru ummah) akan berulang, dan di zaman akhir akan mengalami masa kegemilangannya. Hal ini diisyaratkan oleh Nabi Saw,

خَيْرُ أُمَّتِـيْ أَوَّلُـهَا وَآخِرُهَا وَفِيْ وَسْطِهَا الْكَدَرُ.

”Sebaik-baik umatku adalah (umat) yang awal dan yang akhir, sedangkan (umat) yang ada di pertengahan terdapat kekeruhan” (H.R. Tirmidzi)

مَثَلُ أُمَّتِيْ كَالْمَطَرِ لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ.

“Perumpamaan umatku bagaikan hujan, tak diketahui yang awal itu yang lebih baik ataukah yang terakhir.” (H.R. At Tirmidzi).

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Khilafah Islamiyah beratus abad lalu pernah mencapai masa keemasannya, semuanya pernah menjadi mercusuar peradaban dunia. Mereka memimpin dalam inovasi, ilmu dan sains, teknologi dan tata kelola. Namun, seiring waktu, ada yang mengalami kemunduran internal, diserang dari luar, atau gagal beradaptasi, sehingga "roda" berputar. Peradaban yang dulunya maju atau berkembang kemudian mengambil kemunduran.

Salah satu kemajuan paling dahsyat yang dibawa Nabi Muhammad Saw adalah perubahan sosial dan moral (akhlak) yang mendalam. Masyarakat Arab yang sebelumnya dikenal dengan fanatisme kesukuan, perbudakan, praktik keji (seperti mengubur hidup-hidup bayi perempuan), dan konflik antar kabilah yang tiada henti, diubah menjadi sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan (ukhuwah), kesetaraan, dan keadilan. Di antara pencapaiaan di masa Nabi Saw di antaranya.

⦁ Pembentukan Ukhuwah Islamiyah: Nabi Muhammad SAW berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) dengan Anshar (penduduk asli Madinah) atas dasar iman, menghapus batasan-batasan kesukuan yang kaku.

⦁ Penghapusan Diskriminasi: Beliau mengajarkan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah, kecuali dalam hal ketakwaan. Ini menghancurkan sistem kelas dan diskriminasi berdasarkan nasab atau kekayaan.

⦁ Penghormatan Hak Asasi: Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw menekankan pentingnya kebebasan berkeyakinan, kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, dan kebebasan kepemilikan. Ini adalah fondasi hak asasi manusia yang sangat progresif pada masanya.

Tidak hanya sisi moral, ilmu pengetahuan dan sosial, Beliau Saw juga meletakkan fondasi politik kenegaraan melalui Piagam Madinah dan penyatuan Jazirah Arab.

Kemajuan peradaban di masa Nabi Muhammad Saw adalah sebuah transformasi holistik yang mengubah masyarakat Arab dari keterbelakangan dan kekacauan menjadi sebuah entitas yang terorganisir, bermoral, adil, dan berorientasi pada ilmu pengetahuan. Fondasi yang diletakkan beliau menjadi landasan bagi masa keemasan peradaban Islam di abad-abad berikutnya.

Ke semua langkah peradaban itu berawal dari sikap perilaku (moral) yang dibangun oleh Nabi Saw. Beliau mengajarkan nilai-nilai moral pertama kali kepada kaumnya dan orang-orang di Jazirah Arab. Beliau Saw tidak hanya menanamkan nilai-nilai Aqidah berupa larangan syirik, tapi juga menekankan aspek moral (tasawuf) seperti kejujuran (Shidq), Zuhud, Sabar, Syukur, dan pilar spiritual lainnya kepada penduduk Mekah ketika itu. Bahkan muatan tersebut ditanamkan sebelum fase penegakkan hukum.

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,

Peradaban, Bukan Sekadar Pencapaian Sains dan Teknologi

Membangun peradaban Islam bukanlah sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi semata. Meskipun keduanya penting, inti dari peradaban Islam yang hakiki terletak pada hati yang disinari cahaya Allah. Tanpa cahaya itu, ilmu dan teknologi bisa menjadi pedang bermata dua, membawa kemajuan material namun mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas, seperti yang kita saksikan pada peradaban Barat saat ini yang cenderung timpang.

Di sinilah ilmu tasawuf memegang peranan krusial. Tasawuf adalah ilmu yang mampu mentazkiyah (mensucikan jiwa), membeningkan akal pikiran, dan mengarahkan hati untuk senantiasa tunduk kepada Allah SWT. Peradaban Islam tidak hanya dibangun dengan kemajuan intelektual dan material, tetapi yang lebih penting adalah hakikat ketundukan (ubudiyah) kepada Allah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."
Ayat ini menegaskan tujuan utama penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Ibadah dalam konteks luas bukan hanya ritual semata, melainkan seluruh aspek kehidupan yang dilandasi ketundukan dan ketaatan kepada syariat-Nya.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Teladan Peradaban Gemilang dalam Sejarah Islam

Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Islam mencapai puncak kegemilangannya ketika para pemimpin dan umatnya disinari oleh cahaya Allah. Mereka bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak yang mulia. Mari kita renungkan beberapa tokoh yang hatinya disinari hatinya:

⦁ Rasulullah Saw: Beliau adalah prototipe teladan pemimpin Islam yang sempurna. Dengan akhlaknya yang agung dan bimbingan wahyu, Beliau mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik yang memancarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

⦁ Khalifah Ar-Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Ra. Mereka melanjutkan estafet kepemimpinan Rasulullah Saw dengan kebijaksanaan, keadilan, dan ketakwaan yang tinggi, sehingga wilayah Islam meluas dan keadilan ditegakkan.

⦁ Khalifah Umar bin Abdul Aziz: Dikenal sebagai "Khalifah Kelima" karena keadilannya yang luar biasa. Di masa kepemimpinannya, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat tercapai hingga kesulitan menemukan orang yang berhak menerima zakat. Ini adalah buah dari kesalehan dan kepemimpinannya yang disinari cahaya Allah.

⦁ Muhammad Al-Fatih: Sang penakluk Konstantinopel yang termasyhur. Kecerdasannya dalam strategi perang diimbangi dengan ketaatannya yang tinggi kepada Allah dan keimanan yang kokoh. Penaklukan tersebut bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga kemenangan spiritual.

⦁ Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam yang berhasil merebut kembali Baitul Maqdis. Kecakapannya sebagai panglima perang disandingkan dengan kedermawanan, kesabaran, dan akhlak mulianya, yang bahkan diakui oleh musuh-musuhnya.

Mereka semua adalah para pemimpin yang disinari oleh cahaya Allah. Di balik syariat (lapisan luar) yang mereka tegakkan, ada hakikat (substansi) yang mendalam, yaitu ketundukan total kepada Allah, keikhlasan, dan akhlak yang mulia.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Fondasi Akhlakul Karimah

Peradaban yang hakiki, yang membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, dibangun melalui akar akhlakul karimah (akhlak mulia). Akhlak ini diperoleh lewat tazkiyah (penyucian jiwa), tashfiyah (pemurnian hati), dan tadzhibul akhlak (penyempurnaan akhlak). Ini adalah proses spiritual yang tak terpisahkan dari pembangunan peradaban.

Jika kita hanya mengandalkan ilmu dan teknologi tanpa diimbangi dengan cahaya spiritual dan akhlak yang luhur, maka yang akan terjadi adalah ketimpangan. Kita akan melihat kemajuan fisik yang pesat, namun dibarengi dengan kerusakan moral, jiwa yang hampa, dan berbagai problematika sosial yang tak berkesudahan. Ini adalah pelajaran berharga dari peradaban lain yang mengabaikan dimensi spiritual.

Mengapa di akhir zaman membutuhkan terapi tasawuf untuk penyucian dan pembeningan jiwa? Karena Isyarat Rasulullah Saw kelak umat Islam akan terjangkit penyakit hati yang berbahaya yang melemahkan kekuatan Islam itu sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis,

عَنْ ثَوْباَنَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ  يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلٰكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللّٰهُ مِنْ صُدُوْرِعَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللّٰهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ, فَقَالَ قَائِلٌ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟  قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

Dari Tsauban Ra, (dia) berkata: “Rasulullah Saw telah bersabda: ‘Umat-umat hampir saja mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang kelaparan mengerumuni sebuah hidangan (lezat).’ Lalu seseorang bertanya: ‘Apakah karena kami sedikit saat itu? Rasulullah Saw menjawab:  ‘Justru kalian ketika itu berjumlah banyak. Akan tetapi keadaan kalian seperti buih di tengah lautan. Allah benar-benar mencabut kehebatan kalian dari dada-dada musuh kalian dan Allah lemparkan ke dalam hati-hati kalian sifat Wahn.’ Lalu orang tersebut bertanya lagi: ‘Wahai Rasulullah apakah Wahn itu?’ Rasulullah menjawab: ‘Wahn adalah cinta dunia dan takut mati.” (H.R. Abu Dawud, Al Bazzār, Ahmad, Ibn Hibban, Abu Nu’aim dalam Hilyah al Awliyā [I/182])

Penyakit batin hanya akan diselesaikan oleh disiplin Ilmu yang mempelajarinya, yakni Tasawuf. Dengan tasawuf telah lahir pribadi-pribadi yang tahan uji, berani berkorban, membela kebenaran, melawan kebatilan, melepaskan ego, menerapkan sikap kedermawanan hingga berani menyumbangkan nyawa yang satu-satunya. Tasawuf-lah yang mampu menyebarkan Risalah Allah ke seluruh permukaan bumi.

Dengan tasawuf Islam berpadulah sisi ajaran zahir dan batin, syariat dan hakikat. Dialah Ruh Islam, sebagaimana diungkapakan oleh Ulama Mesir yang bernama Sayyid Sabiq:

اَلتَّصَوُّفُ عِلْمٌ مِنَ الْعُلُوْمِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَهُوَ فِيْ حَقِيْقَةِ أَمْرِهِ رُوْحُ الْإِسْلَامِ وَجَوْهَرُهُ.

“Tasawuf adalah satu ilmu dari ilmu-ilmu Islam, ia pada hakikatnya adalah ruh Islam dan berliannya”. (Anāshir al Quwwah fil Islām, hlm. 91)

Dan seorang cendekiawan Timur Tengah abad 19, Amir Syakib Arsalan, mengatakan dalam bukunya Hadhir al ‘Alam al Islami:

وَأَكْثَرُ أَسْبَابِ هٰذِهِ النَّهْضَةِ الْأَخِيْرَةِ رَاجِعَةٌ إِلَى التَّصَوُّفِ وَالْاِعْتِقَادِ فِى الْأَوْلِيَاءِ.

“Kebanyakan sebab kebangkitan zaman yang akhir ini adalah kembali kepada Tasawuf dan meyakini (eksistensi) wali-wali Allah”. (Hādhir al ’Ālam al Islāmiy, Kebangkitan Islam di Afrika dan sebab-sebabnya, juz 1 hlm. 301)

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Peradaban Berawal Dari Hati yang Disinari Cahaya Allah

Dalam ilmu tasawuf, hati hanya akan disinari cahaya jika telah menempuh 3 proses, yakni tazkiyah (penyucian jiwa), tashfiyah (pemurnian hati), dan tadzhibul akhlak (penyempurnaan akhlak) adalah tahapan fundamental dan saling berkaitan dalam perjalanan spiritual seorang Muslim menuju kedekatan dengan Allah SWT.

Ketiga tahapan ini seringkali dijelaskan dalam konsep yang lebih umum dikenal sebagai takhalli, tahalli, dan tajalli. Berikut adalah penjelasan tahapan-tahapan tersebut:

⦁ Tazkiyah (Penyucian Jiwa) / Takhalli
Pengertian secara harfiah, "tazkiyah" berarti penyucian atau pembersihan. Dalam konteks tasawuf, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) adalah upaya membersihkan jiwa dari segala kotoran, penyakit hati, dan sifat-sifat tercela yang menghalanginya untuk mencapai kesucian dan kedekatan dengan Allah. Tahap ini sering disebut juga dengan takhalli, yang berarti "mengosongkan diri" atau "membersihkan".

Tujuannya mengidentifikasi dan menghilangkan sifat-sifat buruk (madzmumah) seperti: Sombong (ujub, takabur), Riya' (pamer ibadah), Hasad (iri hati), Dengki,  Bakhil (pelit), Marah yang berlebihan, Cinta dunia brelebihan (hubbud dunya), Haus Kekuasaan (Hubbur Ri-asah), Tamak, Ghibah (menggunjing), Namimah (adu domba).

⦁ Tashfiyah (Pemurnian Hati) / Tahalli
Pengertian: "Tashfiyah" berasal dari kata shafa yang berarti jernih atau murni. Tashfiyatul qalb (pemurnian hati) adalah tahap setelah tazkiyah, yaitu mengisi hati yang telah dibersihkan dengan sifat-sifat mulia dan terpuji (mahmudah) serta menumbuhkan cinta kepada Allah. Tahap ini sering disebut juga dengan tahalli, yang berarti "menghiasi diri" atau "mengisi".

Tujuannya menanamkan sifat-sifat terpuji dalam hati, seperti: Taubat, Ikhlas (murni karena Allah), Sabar (tahan uji), Syukur (berterima kasih), Tawakal (meenyandarkan urusan kepada Allah), Ridha' (rela terhadap ketentuan Allah), Khauf (takut kepada Allah), Mahabbah (Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya), dan sebagainya. Dalam Ilmu Tasawuf upaya ini disebut juga dengan menegakkan maqam-maqam (maqamat) atau pilar-pilar ruhani agar permanen di dalam hati.

Jika maqam ini mendarahdaging dalam diri seorang pedagang maka ia akan menjadi pedagang yang jujur dan amanah, tidak mengurangi takaran atau timbangannya. Jika ia seorang pejabat, tidak akan melakukan korupsi, jika ia seorang karyawan maka ia akan menjadi sabar dan disiplin, jika menetap pada diri seorang anak ia akan berbakti kepada orang tuanya, jika ia seorang pelajar tidak akan tawuran di jalanan, dan sebagainya.

⦁ Tadzhibul Akhlak (Penyempurnaan Akhlak) / Tajalli

Pengertian: "Tadzhibul akhlak" berarti penyempurnaan atau pembentukan akhlak. Ini adalah hasil akhir dari proses tazkiyah dan tashfiyah, di mana sifat-sifat terpuji telah mengakar kuat dalam diri dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Tahap ini sering disebut juga dengan tajalli, yang berarti "penyingkapan" atau "manifestasi". Pada tahap ini, keindahan sifat-sifat ilahiah mulai termanifestasi dalam diri seorang hamba karena meniru Sifat-sifat-Nya (al Ittishaf bi Shifat al-Ilahiyyah).

Ketiga tahapan ini bukanlah proses linier yang terpisah, melainkan siklus yang saling menguatkan dan berulang. Semakin seseorang membersihkan jiwanya (tazkiyah), semakin mudah baginya untuk mengisi hati dengan kebaikan (tashfiyah), dan pada akhirnya, hal ini akan tercermin dalam akhlaknya yang sempurna (tadzhibul akhlak).

Begitu pula sebaliknya, akhlak yang baik akan semakin memperkuat proses penyucian dan pemurnian hati. Ini adalah perjalanan seumur hidup seorang salik (penempuh jalan tasawuf) untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Menemukan Peradaban Yang Hilang
Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Peradaban Islam, terutama pada masa keemasannya, seringkali digambarkan sebagai puncak pencapaian manusia dalam berbagai bidang: ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, filsafat, dan tata kelola.

Namun, jauh sebelum kemajuan-kemajuan material ini terwujud, fondasi utamanya terletak pada pemurnian hati para pembangunnya. Ini bukan sekadar omong kosong spiritual, melainkan prinsip fundamental yang membentuk etos dan arah peradaban tersebut.

Berbeda dengan banyak peradaban lain yang mungkin dibangun di atas penaklukan, eksploitasi, atau ambisi pribadi, kejayaan peradaban Islam awal justru berakar pada hati yang bersih dan tulus. Para pemimpin, ilmuwan, dan masyarakat umum pada masa itu didorong oleh motivasi yang melampaui kepentingan duniawi semata:

⦁ Bukan Haus Kekuasaan, Melainkan Tanggung Jawab: Para pemimpin seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta para khalifah yang mengikuti jejak mereka tidak memandang kekuasaan sebagai tujuan akhir untuk memperkaya diri atau menumpuk kehormatan. Sebaliknya, kekuasaan adalah amanah besar yang diemban dengan rasa takut kepada Allah dan tanggung jawab penuh kepada umat. Mereka hidup sederhana, mengutamakan keadilan, dan mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Kekuasaan itu bukan untuk dinikmati, melainkan untuk melayani.

⦁ Bukan Ingin Memperkaya Diri, Melainkan Berbagi: Konsep zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan cerminan dari hati yang tidak terikat pada harta benda. Para sahabat Nabi dan generasi setelahnya banyak yang mewakafkan kekayaan mereka untuk kepentingan umum, mendirikan masjid, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya.

Ekonomi Islam mendorong keadilan distribusi dan melarang praktik-praktik eksploitatif seperti riba, karena tujuannya bukan akumulasi kekayaan di tangan segelintir orang, melainkan kesejahteraan bersama.

⦁ Bukan Senang Dipuji, Melainkan Mencari Ridha Ilahi: Ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Haitham, dan lainnya, mendedikasikan hidup mereka untuk mencari ilmu demi kebenaran dan kemajuan umat manusia, bukan semata-mata untuk popularitas atau penghargaan. Banyak penemuan besar mereka lahir dari semangat penelitian yang tulus dan ikhlas, seringkali dengan motivasi keagamaan untuk memahami ciptaan Allah. Mereka menempatkan ilmu di atas ego, dan berkontribusi tanpa pamrih.

Sebaliknya, peradaban yang dibangun di atas hati yang kotor dan tercemari oleh kesenangan duniawi, haus kekuasaan, keserakahan, dan keinginan untuk dipuji, cenderung memiliki ciri-ciri berikut:

⦁ Korupsi dan Kezaliman: Kekuasaan menjadi alat untuk menindas dan memperkaya diri, bukan untuk menegakkan keadilan.
⦁ Kesenjangan Sosial: Kekayaan terakumulasi di tangan segelintir orang, sementara sebagian besar masyarakat hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan.
⦁ Kemerosotan Moral: Nilai-nilai luhur tergerus, digantikan oleh hedonisme dan pengejaran materi semata.
⦁ Perpecahan dan Konflik: Ambisi pribadi dan kelompok memicu perselisihan, melemahkan persatuan, dan pada akhirnya dapat menyebabkan keruntuhan peradaban itu sendiri.

Ketika hati bersih menjadi pondasi, hasilnya adalah peradaban yang berlandaskan keadilan maka Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Pengetahuan dianggap sebagai kunci kemajuan dan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Perbedaan dihormati, karena keragaman dianggap sebagai bagian dari ciptaan Ilahi. Rasa solidaritas dan saling tolong-menolong menjadi ciri khas masyarakat.

Kemajuan peradaban Islam di masa keemasannya bukanlah hasil dari ambisi duniawi, melainkan buah dari hati yang bersih, tulus, dan terarah pada tujuan Ilahi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa pembangunan sejati dimulai dari dalam diri, dari pemurnian niat dan motivasi.

Melalui hati yang bersih itulah akan muncul kepemimpinan yang benar-benar lurus dan diridhai Allah SWT, yakni kepemimpinan Manhaj Kenabian yang menjadi nakhoda peradaban di akhir zaman sebagaimana dijanjikan oleh Nabi Saw:

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.  Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya [jika Dia berkehendak mengangkatnya]. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (H.R. Ahmad dan Al-Bazzār).

Kepemimpinan Manhaj Kenabian merupakan kepemimpinan dari Allah, atas bimbingan lahir dan batin, yang menggabungkan nilai-nilai syariat dan hakikat.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Marilah kita kembali menyadari bahwa tanda-tanda akhir zaman yang kita saksikan hari ini adalah isyarat bagi kita untuk bangkit. Peradaban Islam tidak akan tercapai hanya dengan teknologi atau ilmu semata, melainkan dengan membenahi hati dan pikiran kita agar senantiasa disinari cahaya Allah. Mari kita aplikasikan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, membersihkan hati, dan membangun akhlakul karimah sebagai fondasi peradaban Islam yang kita impikan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, menguatkan iman kita, dan menjadikan kita bagian dari generasi yang membangkitkan kembali peradaban Islam yang gemilang. Amin ya Rabbal Alamin.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.