Oleh: Dr. KH. Mulawarman Hannase, Lc.,MA.Hum.
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah Jum’at yang berbahagia. Saat ini, umat Islam dan masyarakat, khususnya di Indonesia masih menghadapi masalah dekadensi moral, akhlak dan integritas. Keserakahan, ketamakan, individualisme, krisis integritas dan krisis etika masih menjadi jalan buntu dalam Pembangunan bangsa kita.
Kita kerap melupakan bahwa hidup ini hanyalah sementara. Kita juga kurang merenungi bahwa esensi dari kehidupan ini adalah kebermanfaatan kepada sesama. Kita jauh dari nilai tauhid. Kita jauh dari perenungan atas kekuasaan Allah. Padahal tanda-tanda kekuasaan Allah itu setiap waktu mengelilingi kita.
Salah satu fenomena alam yang luar biasa, yang bisa membuat kita sadar akan kekuasaan Allah, bisa membuat kita menyadari pentingnya berbakti kepada Allah, menghindari keserakahan dalam hidup, adalah Gerhana Bulan total atau blood moon. Peristiwa ini telah menghiasi langit pada 7 September 2025 lalu. Fenomena ini dapat dilihat langsung di seluruh wilayah Indonesia.
Gerhana bulan adalah fenomena alam saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, menyebabkan bayangan Bumi menutupi sebagian atau seluruh permukaan Bulan. Peristiwa ini hanya terjadi saat fase bulan purnama, ketika ketiga benda langit tersebut sejajar, dan mengakibatkan Bulan tampak lebih redup karena cahaya Matahari yang seharusnya memantul ke Bumi terhalang oleh Bumi itu sendiri.
Ahli Tafsir, Syeikh Ibnu Asyur menjelaskan من كشوف القمر المعنى القرآني والإيماني
القرآن الكريم ذكر القمر في مواضع متعددة (نحو 27 مرة
من الآيات:
"وَالقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتّىٰ عَادَ كَالعُرجُونِ القَدِيمِ" (يس: 39) → إشارة إلى المراحل الشهرية للقمر.
"وَجَعَلَ القَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا" (نوح: 16).
هذه الآيات تعدّ كشوفًا إيمانية تُظهر نظام القمر ودقّة حركته كآية على قدرة الله.
Jamaah Jum’at yang berbahagia. Bukan Hanya Gerhana Bulan, banyak sekali Fenomena alam yang ditampilkan Allah yang perlu kita renungi, sehingga kita bisa membangun kekuatan spritulitas dan integritas dalam kehidupan kita sehari-hari.
Fenomena Astronomis ظاهرة فلكية
Di dalam al-Qur’an, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan langit. Allah menegaskan bahwa tidak ada yang tidak seimbang pada ciptaan-Nya. Kemudian dia menantang manusia berkali-kali untuk sekali saja membuktikan adanya kecacatan dalam cipataan-Nya. Kemudian sekali lagi dia menegaskan, tak ada yang cacat dalam ciptaan-Nya. Dalam tantangan itu, secara halus Allah mengajak manusia untuk mempelajari langit karena ada sesuatu yang luar biasa dibalik penciptan langit.
لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Q.S. Al-Mu'min/40:57)
Kondisi langit yang terdiri dari bintang dan materi antar bintang selalu "disempurnakan" sesuai keterangan dalam surah An-Nazi'at ayat 27 dan 28. Penyempurnaan ini dapat terjadi dengan pemadatan materi kabut dan debris yang masih tersisa sehingga membentuk benda angkasa baru dll. Ini menunjukan betapa fenomena astronomis yang ditunjukkan Allah kepada kita sungguh sangat luar biasa.
ءَاَنۡتُمۡ اَشَدُّ خَلۡقًا اَمِ السَّمَآءُ ؕ بَنٰٮهَا
رَفَعَ سَمۡكَهَا فَسَوَّٮهَا ۙ
"Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya." (Q.S. An-Nazi'at/79:27-28).
Begitupula dengan gaya gravtasi. Gaya gravitasi merupakan suatu anugrah luar biasa yang memungkinkan anggota tata surya tidak tercerai-berai dan memiliki orbit tersendiri. Gravitasi menyebabkan kita dapat berjalan di Bumi, benda-benda yang dilemparkan kembali jatuh ke Bumi, hujan turun ke Bumi, dll. Allah menjelaskan tentang gravitasi pada Surah Fatir ayat 41 dan Surah Al-Hajj ayat 65.
"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Q.S. Fatir/35:41)
Fenomena Geologis الظواهر الجيولوجية
Dalam berbagai ayat yang berbeda, Al-Qur'an menguraikan konsep dasar geologi, khususnya penjelasan tentang al-Jabal sebagai berikut:
Bahwa gunung bukan sekadar elevasi tinggi yang terlihat di permukaan Bumi, melainkan perpanjangannya yang menurun di litosfer Bumi (dalam bentuk pasak atau tiang pancang) sangat ditekankan. Sebagaimana sebagian besar tiang pancang (atau pasak) tersembunyi di dalam tanah atau batu untuk menahan salah satu ujung tenda ke permukaan tanah, sebagian besar gunung pasti tersembunyi di dalam litosfer Bumi. Istilah "pasak" atau "pasak" secara harfiah dan ilmiah lebih tepat daripada istilah "akar" yang saat ini digunakan untuk gunung. Dalam Surah 78 (I), ayat 6 dan 7, Al-Qur'an berbunyi:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung sebagai pasak?”
Isostasi yang dapat menjelaskan bagaimana gunung-gunung terbentuk di permukaan Bumi. Al-Qur'an berbunyi:
اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ
“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (XII);
Meteorologis الظواهر الجوية
Salah satu elemen alam yang sering disebut dalam Alquran adalah “angin”. Dalam berbagai ayat, angin digambarkan dengan beragam fungsi: membawa rahmat, menjadi tanda peringatan, bahkan sebagai alat penghancur. Akan tetapi, apakah konsep ini relevan dengan pengetahuan modern? Bagaimana kita memahami angin dalam perspektif Alquran, tafsir ulama, dan ilmu meteorologi?
Allah berfirman:
وَاَرْسَلْنَا الرِّيٰحَ لَوَاقِحَ فَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَسْقَيْنٰكُمُوْهُۚ وَمَآ اَنْتُمْ لَهٗ بِخٰزِنِيْنَ
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tanaman), dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengannya; dan bukanlah kamu yang menyimpannya (Q.S. Al-Hijr: 22).
Ayat ini menggambarkan angin sebagai rahmat, salah satunya melalui proses “anemogami” (penyerbukan oleh angin). Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebut angin sebagai instrumen penting dalam keberlanjutan kehidupan. Dengan meniupkan serbuk sari dari satu bunga ke bunga lain, angin memastikan siklus reproduksi tanaman tetap berjalan.
Namun, angin juga bisa menjadi alat azab. Dalam kisah kaum ‘Ad, Allah mengirimkan angin yang sangat kencang sebagai hukuman atas kesombongan mereka: “Adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang.” (Q.S. Al-Haqqah: 6).
Tafsir Al-Jalalayn menjelaskan bahwa angin ini bertiup selama tujuh malam delapan hari, menghancurkan segalanya tanpa ampun. Angin, yang biasanya membawa kehidupan, dalam kasus ini berubah menjadi alat kehancuran. Ini berarti bahwa fenomena metereologis merupakan salah tanda kebesaran Allah.
Hidrologis الظواهر الهيدرولوجية
Konsep hidrologis dalam Al-Qur'an merujuk pada penjelasan siklus air, yaitu proses penguapan (evaporasi) dari bumi menjadi uap, pembentukan awan, lalu turunnya air hujan melalui proses kondensasi, serta peresapan air ke dalam tanah yang menjadi sumber mata air.
Al-Qur'an juga menekankan bahwa proses ini merupakan bentuk rezeki dan rahmat dari Allah, yang mengatur turunnya air sesuai dengan kadar yang dibutuhkan, tidak berlebihan atau kekurangan, untuk menghidupkan bumi dan makhluk di dalamnya
Dalam beberapa ayat-ayat al-Qur'an telah menginformasikan kepada kita tentang hakikat asal usul kehidupan di dunia ini tercipta dari unsur utama kehidupan yaitu air (QS. AlAnbiya’:30).
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?”
Ayat ini menunjukkan eksistensi air sebagai materi utama dalam kehidupan ekosistem. Sebagai materi utama kehidupan tentu ia memiliki urgensi dalam menentukan kelestarian ekosistem di muka bumi ini. Di ayat lain, (QS. Al-Hud: 7) Allah menegaskan bahwa keberadaan unsur air merupakan sudah ada sebelum Allah menciptakan kehidupan di muka bumi. (Mochamad Imamudin, 2012).
Fakhruddin al-Rozi memberikan komentar atas ayat-ayat tentang penciptaan kehidupan dari materi air dengan menyatakan bahwa dengan ayat tersebut Allah hendak menjelaskan kepada manusia tentang kedudukan air sebagai materi utama dalam proses pembentukan kehidupan dibumi ini.
Fenomena Optik (Cahaya) الظواهر البصرية
Allah memberikan perumpamaan tentang kegelapan yang amat sangat hingga tak ada cahaya sedikit pun yang terpancar atau terpantul. Tanpa cahaya itu, tak satu benda pun akan tampak, termasuk tangan sendiri, badan sendiri dan bahkan yang paling dekat dengan kita.
Allah saja yang mempunyai cahaya dan barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allah tidak akan mempunyai cahaya sedikitpun. Dengan cahaya itu kita bisa melihat, mendengar atau menerima sesuatu (Q.S. An Nur: 40).
اَوْ كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَّغْشٰىهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَابٌۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍۗ اِذَآ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰىهَاۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍࣖ
Artinya:”Atau, (amal perbuatan orang-orang yang kufur itu) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang yang di atasnya ada awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya, ia benar-benar tidak dapat melihatnya. Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”
Dalam agama Islam, Al-Qur’an menyebutkan cahaya sebagai simbol rahmat dan petunjuk yang diberikan oleh Tuhan kepada umat manusia. Cahaya dipandang sebagai penuntun menuju keselamatan dan pencerahan, serta sebagai representasi kebenaran yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia.
Dalam Al-Qur’an, cahaya sering dijadikan metafora untuk memperjelas petunjuk Tuhan dan peran-Nya dalam mengarahkan manusia menuju jalan yang benar. Tentunya fenomena optik ini diharapkan memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Ciptaan Allah sungguh besar dan mengagungkan. Sebagai makhluk, tidak ada sesuatu yang bisa kita sombongkan. Tidak adalah alasan bagi kita untuk bersikap serakah dan tidak peduli kepada yang lain, karena pada saatnya nanti kita akan kembali kepada Allah SWT.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.