Oleh: Dr. KH. M. Saad Ibrahim, MA
(Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
Para Jamaah yang dimuliakan Allah!
Melalui mimbar ini diserukan kepada kita semua agar bertaqwa kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya. Salah satu perintahnya adalah agar kita membaca, memahami, merenungkan dan mengambil ‘ibrah, mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya. Salah satu ayat-Nya di surat Al-‘Alaq ayat 1, Allah SWT berfirman:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.
Seperti diketahui ayat ini bersama 4 ayat berikutnya dari surat Al-‘Alaq, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau bertahannuts di Gua Hira’, di periode paling awal kenabian, di tahun 610 M.
Tampak sekali perhatian paling awal dari agama Islam tertuju pada dunia literasi, yang disimbolkan dengan perintah membaca. Walaupun harus dipahami perhatian utamanya bukan tertuju pada dunia literasi itu sendiri, tetapi lebih pada penyebutan nama Tuhan, sebagai keharusan memberi landasan teologis, basis imani pada dunia litersi.
Ini bisa dimaklumi karena dunia literasi telah terbangun melalui berbagai peradaban, yang salah satunya literasi yang dihasilkan oleh Yunani yang berpusat di Athena. Karya-karya literasi Yunani begitu melimpah pada waktu itu, terutama literasi filsafat. Bahkan tokoh seperti Sutan Takdir Alisyahbana pernah menyatakan bahwa bangsa manapun yang terlambat bergumul dengan falsafah Yunani akan terlambat membangun peradaban majunya.
Para jamaah yang dimuliakan Allah,
Mengapa dunia literasi harus memiliki basis teologi? Ya, karena literasi menjadi elan (semangat yang membara) vital peradaban. Dan ketika peradaban lepas dari kendali teologis, maka peradaban itu akan liar dan semakin liar, yang akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Kekuatan literasi yang wujudnya berupa ilmu pengetahuan dan teknologi, jelas memiliki daya destruksi yang sangat dahsyat.
Dua ratus ribu orang terbunuh tahun 1945 ketika Hirosima dan Nagasaki dibombardir dengan bom atum. Bom atum adalah sebuah karya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang persenjataan ketika itu. Kita tidak bisa membayangkan ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang di hari ini, betapa dahsyatnya daya destruksinya sekarang dan yang akan datang.
Berbagai peperangan yang kita saksikan belakangan ini menjadi bukti nyata yang tak terbantahkan. Tentu juga tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi juga memberikan banyak manfaat bagi umat manusia dan alam semesta. Di tangan yang benar akan berguna bahkan amat berguna, dan tentu juga sebaliknya.
Para jamaah yang dimuliakan Allah,
Kesadaran pentingnya basis teologis tersebut menariknya bahkan pernah muncul dari lisan tokoh yang notabene atheis, seorang Presiden Uni Soviet yang bernama Breznev. Dalam pertemuannya dengan Jummy Carter Presiden Amerika Serikat ketika itu, untuk merundingkan penggunaan senjata nuklear, ia mengatakan : Tuhan tidak rela jika kita gagal dalam perundingan ini.
Carter tentu amat terkejut ketika itu, bagaimana ungkapan Tuhan bisa keluar dari lisan simbol tertinggi keatheisan, Presiden Uni Soviet tersebut. Ia catat peryataan Breznev tersebut. Artinya muncul harapan ada pengendali tertinggi yaitu Tuhan, agar orang tidak sembarangan menggunakan senjata nuklear, sebuah produk ilmu pengetahuan dan teknologi, produk literasi.
Para jamaah yang dimuliakan Allah,
Di masa Habibi, Presiden RI ketika itu muncul ungkapan Iptek dan Imtaq, ilmu pengetahuan dan teknologi, Iman dan Taqwa. Ini adalah upaya serius untuk memberikan basis teologis ke dalam dunia literasi. Artinya ayat 1 surat Al-‘Alaq tersebut harus tetap dan terus menerus menjadi pegangan utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kita semua. Agar peradaban maju yang kita proyeksikan memberikan kemaslahan hakiki bagi umat, bangsa, bahkan kemanusiaan universal.
Dunia Islam pada masa lampau di abad ke tiga hijriyah memulai langkah proyektif bagi peradaban majunya dengan memberikan basis teologis pada khazanah legasi Yunani. Karya literasi Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, diulas, dikomentari. Komentator terdepan terhadap karya Aristoteles seorang failosuf Yunani tentang jiwa misalnya adalah Ibnu Sina. Sekalipun demikian justri Ibnu Sina sendiri memiliki pandangan tentang jiwa yang bertolak belakang dengan Aristoteles. Jiwa akan hancur dengan hancurnya tubuh. Tubuh yang sehat menjadikan jiwa yang sehat, Men sana in corpore sano, demikian Aristoteles.
Ibnu Sina membalik hal tersebut. Tentu berbarengan dengan itu, Ibnu Sina memberi basis imani ke dalam dunia literasi Yunani tersebut. Hal itu tampak jelas pada karya literasinya Kitab al-Syifa’ dan al-Qanun fi al-Thibb.
Implikasinya: lahirlah perdaban maju dunia Islam yang bertahan sampai dengan abad ke 8 atau bahkan ada yang menyebut sampai abad ke 11 Hijriyah. Sebuah peradaban yang dikenal dengan the golden age of moslem history, sebuah peradaban yang menebar kerahmatan bagi kemanusiaan universal dan kesemestaan. Ya ketika dunia literasi diberi basis imani.
Allah menjanjikan hal tersebut kepada mereka yang berhasil memadukan iman dengan ilmu, melalui firman-Nya dalam surat al-Mujadalah ayat 11 berikut :
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu bertingkat-tingkat”.
Janji tersebut berlaku juga untuk bangsa ini, tentu jika berhasil memberi basis iman pada ilmu sebagai elan vital proyeksi peradaban majunya.
Semoga kita ditolong dan dibimbing oleh Allah untuk mewujudkannya.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.