Oleh : Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. Dalam Islam, ada tiga dimensi kehidupan yang saling korelatif dan masing-masing memiliki posisi penting seorang hamba di hadapan Allah Swt.
Tiga dimensi tersebut adalah akal yang melahirkan karakter rasionalistik; hati nurani yang melahirkan karakter spiritual; dan aksiologis yang melahirkan karakter perilaku. Ketiga dimensi kehidupan itulah dalam Islam disebut dengan akhlak.
Maka, Al-Qur’an menggambarkan totalitas dimensi akhlak Islami tersebut, Allah SWT berfirman,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21)
Referensi humanis akhlak dalam Al-Qur’an tersebut dimanifestasikan dalam sunnah Rasulullah Saw meliputi sabda Nabi Saw, perilaku Nabi Saw, dan cita-cita Nabi Saw,
عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ، قَالَ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: يَا أَمْ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِي عَنْ خَلْقِ رَسُولِ اللَّهِ ؟
قَالَتْ كَانَ خُلْقُهُ الْقُرْآنَ أَمَا تَقْرَاْ الْقُرْآنَ: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلْقٍ عَظِيمٍ) (Sahih Muslim, No. 746).
Artinya: Dari Sa'd bin Hisham, ia berkata: Aku mendatangi 'Aisyah dan bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah." Beliau menjawab: "Akhlaknya adalah (sejalan dengan) al-Qur'an. Tidakkah engkau membaca firman Allah: 'Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung' (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. Universalitas akhlak Qurani dalam akhlak Nabi pasti sesuai dengan kebutuhan peradaban sekaligus menjadi formula panduan umat Islam untuk mewujudkan kehidupan yang sukses.
Misalnya bagaimana Rasulullah Saw mencontohkan akhlak mulia seorang anak terhadap kedua orangtuanya (birrul walidain) dalam spektrum kehidupan keluarga,
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: بُرُّوا آبَاءَكُمْ تَبُرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ وَعِفّوا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ.
Artinya: Nabi saw. bersabda, “Berbuat baiklah kepada orang tua-orang tua kalian maka anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian. Jagalah diri kalian (dari zina) maka istri-istri kalian akan terjaga (dari zina).”(HR. Ath-Thabarani).
Bagaimana Islam dengan indahnya mengajarkan akhlak dalam kerukunan bertetangga,
ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جارَهُ، ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Artinya: Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya (HR Muslim).
Bagaimana Islam memberikan tuntunan hidup bersatu untuk damai dalam spektrum kehidupan berbangsa dan bernegara yang multikultur sehingga perbedaan dan keragaman suatu bangsa tidak menjadikan masyarakatnya saling bertikai melainkan saling menguatkan kedamaian dan kerukunan,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Artinya: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu". (QS. An-Nisa [4]: 1)
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat di atas sebagaimana berikut:
فمعناه واتقوا الله بالتزام طاعته واجتناب معاصيه واتقوا الأرحام بوصلها وعدم قطعها فيما يتصل بالبر والإحسان والإعطاء
Artinya: “Maknanya ialah bertakwalah kepada Allah dengan selalu menaati-Nya dan menjauhi larangan-Nya, jagalah silaturahmi dengan menyambungnya dan tidak memutusnya dalam persambungan yang beriringan dengan kebaikan, perbuatan baik dan saling memberi”. (Syekh Nawawi Al-Bantani, Marah Labid, hal 181).
Begitu indahnya Rasulullah Saw menyampaikan formula akhlak yang dapat merajut kohesi dan harmoni sosial masyarakat,
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ )رَوَاهُ التِّرْمِذِي (
Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Dari betapa vital dan sentralnya posisi akhlak tersebut, dapat diambil hikmah dari sebuah istilah dari dunia Barat berikut ini,
If wealth is lost, nothing is lost; if health is lost, something is lost; But, if character is lost, we lost everything. “Jika kesejahteraaan hilang, tidak semuanya hilang; jika kesehatan hilang, sesuatu terasa hilang; namun jika akhlak hilang, maka semuanya akan hilang” (Frank Outlow)
Bisa kita saksikan bersama kondisi kontemporer saat ini berupa hilangnya akhlak hubungan antar negara yang saling menghormati.
Saat ini masih terjadi fakta suatu negara dengan arogan memerangi negara lain, merampas kebebasan dan kedaulatan negara lain sehingga negara yang diserang tersebut hancur dan korban jiwa penduduknya yang tak berdosa berguguran. Itu semua disebabkan tidak adanya akhlak dalam diri pemimpin negara yang sombong dan arogan tersebut.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Indonesia ditakdirkan Allah SWT menjadi bangsa multikultur. Rakyatnya terdiri dari berbagai ragam budaya, suku, dan agama yang bebas diekspresikan oleh penganutnya sebagai kekayaan bangsa yang sangat berharga. Maka keragaman adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari.
Sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam Al Quran:
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Artinya: "…Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan." (QS. Al-Maidah: 48).
Kondisi ini membutuhkan satu sikap dan praktik keagamaan yang bisa menempatkan keragaman sebagai kekuatan untuk menumbuhkan optimisme menuju suatu kemajuan peradaban dalam berbangsa dan bernegara. Bukan sebaliknya yaitu menjadikan keragaman sebagai alasan pertikaian dan keretakan.
Di titik inilah apa yang sering didengungkan tentang bonus demografi Indonesia 2045 penting untuk dicermati dari perspektif akhlak. Bonus Demografi tersebut menjadi peluang sebagai Elevator Sosial. Artinya, di tahun 2000 – 2045 itulah bangsa Indonesia akan memiliki kesempatan emas dan mampu naik kepada kondisi sosial kebudayaan yang dicita-citakan oleh Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Syaratnya adalah jika antara Bonus Demografi dan Elevator Sosial terjalin pola sinergi yang sistematis dan berjiwa akhlak. Jika tidak, maka akan terjadi Bencana Demografi (Demographic Disaster).
Kehidupan bangsa di masa depan yang adil, damai, aman dan tertata rapi hanya bisa diraih dengan akhlak yang mulia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,
حُسْنُ الْخُلُقِ نَمَاءٌ وَسُوءُ الْخُلُقِ شُؤْمٌ وَالْبِرُّ زِيَادَةٌ فِى الْعُمُرِ وَالصَّدَقَةُ تَمْنَعُ مِيتَةَ السَّوْءِ
“Akhlak mulia adalah kebahagiaan, akhlak yang tercela adalah kesengsaraan, amal kebaikan adalah penambah umur, dan sedekah menghalangi seseorang dari mati dalam keadaan jelek”. (HR. Ahmad).
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah,
Sikap akhlak yang matang dan dewasa dalam menyikapi perbedaan dalam keragaman adalah akhlak Qur’ani. Allah SWT telah menyiapkan resep agar dalam perbedaan dan keragaman umat manusia tetap dapat hidup dalam sikap saling toleransi, saling mengapresiasi, saling menyayangi, bahkan saling membantu. Akhlak Qur’ani tersebut terumuskan dalam Islam Wasathiyah (Wasathiyyatul Islam).
Gagasan Islam Wasathiyah yang dicirikan sebagai berislam secara moderat harus kita apresiasi bersama-sama untuk menciptakan kemajuan Indonesia. Sebab, dalam konteks keindonesiaan dan kebangsaan, akhlak Islam Wasathiyah ini akan menjadi perekat dan pemersatu di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
Negeri ini diciptakan Allah SWT dengan sungguh luar biasa, dengan kekayaan sumber daya alam, sekitar 17 ribu lebih pulau, 1.340 suku, dan 700 lebih bahasa, bangsa ini, memang membutuhkan akhlak dan pemahaman Islam Wasathiyyah yang selalu mengintegrasikan antara keislaman, kemodernan, kebangsaan dan keindonesiaan. Kalau tidak, bisa kita bayangkan konsekuensinya, saling klaim kebenaran yang ujungnya jadi perseteruan.
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah,
Allah SWT berfirman:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ
“Dan demikian (pula) kami menjadikan kalian (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143).
Ayat di atas, mengandung prinsip kehidupan yang menjadi landasan Islam, baik di ranah akidah, syariah, muamalah dan akhlak berdasarkan pilar wasathiyyah (baca: moderat, keseimbangan dan keserasian). Secara bahasa, kata Wasathiyah berasal dari kata wasatha yang berarti adil atau sesuatu yang berada di pertengahan.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa model Islam Wasathiyah menjadi formula etika akhlak utama di tengah keragaman bangsa Indonesia sebagai salah satu upaya menciptakan keutamaan berislam. Imam As-Sa’di, di dalam kitab Tafsir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, menjelaskan makna ummatan wasathan sebagai umat yang memiliki sifat adil dan terbaik; umat yang senantiasa mengambil jalan tengah di setiap permasalahan.
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah,
Dimensi akhlak dalam Islam Wasathiyah dapat dijelaskan setidaknya dalam sepuluh pilar akhlak yang dijadikan landasan bertindak bagi ummat Islam untuk menciptakan kemajuan peradaban bangsa Indonesia dalam naungan ridha Allah Swt.
Pertama, akhlak akan mengantarkan struktur atau susunan masyarakat Indonesia memiliki platform dan tujuan untuk membina perdamaian (ash-shulh wa as-salam). Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْن
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. (QS. Al-Hujurat [49] : 10)
Rasulullah Saw bersabda,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ)رواه البخاري (
Dari Abdullah bin Umar RA, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya… (HR. Bukhari)
Kedua, akhlak yang menguatkan sistem sosial berdiri di atas dasar persamaan (al-musawah) dan menolak sistem sosial piramida di mana di atas pundak yang miskin duduk yang kaya dan di atas pundak yang lemah duduk yang kuat.
Allah SWT juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Terkait ayat tersebut, Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia di dunia selalu hidup berdampingan, tidak ada status sosial yang melebihi satu sama lain. Nasab atau kekayaan tidak menjadikan seseorang lebih hebat dari yang lain, yang membedakan hanyalah ketakwaan yang dimiliki oleh tiap individu.
فَالنَّاسُ فِيمَا لَيْسَ مِنَ الدِّينِ وَالتَّقْوَى مُتَسَاوُونَ مُتَقَارِبُونَ، وَشَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ لَا يُؤَثِّرُ مَعَ عَدَمِ التَّقْوَى
Artinya: “Manusia pada selain urusan agama dan ketakwaan berada dalam kesetaraan dan kesamaan. Semua yang ada pada diri manusia tidak berharga tanpa adanya ketakwaan”. (Imam Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, hal 112).
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah,
Ketiga, akhlak akan mengembangkan sistem sosial yang empati (saling tolong-menolong dan peduli) seperti satu jasad (kaljasadil wahid) apabila satu anggota sakit atau menanggung beban yang berat, maka yang lainnya ikut merasakan dan seperti bangunan yang saling memperkuat (kal-bunyani yasyuddu ba’dhuhu ba’dha) dengan didasari prinsip cinta kasih. Rasulullah Saw bersabda,
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Allah Swt melarang umat Islam untuk saling mengejek, merendahkan, bullying, dan praktik permusuhan, Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11).
Oleh karena itu, sistem kapitalisme, imperialisme, lintah darat dan borjuisme, tidak mendapat tempat serta harus digantikan dengan sistem tauhid yang egaliter di mana kekayaan harus berfungsi sebagai kesejahteraan sosial (al-mashalih al-mujtami’), tidak boleh ada orang yang kenyang di samping orang yang lapar.
Keempat, akhlak yang semakin mengentaskan sistem sosial agar terbebas dari keterbelakangan dan kemiskinan. Nabi Saw bersabda,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran.” (HR. Al-Baihaqi)
Allah SWT menggambarkan formula pengentasan kemiskinan dan ketertinggalan melalui ajaran filantropis seperti zakat, infaq, dan sedekah dengan sebuah ilustrasi indah berupa perpaduan antara perintah bersedekah, berbuat kebaikan, dan saling menjaga kedamaian, Allah SWT berfirman:
لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. An-Nisa [4]: 114)
Kelima, akhlak yang membentuk perilaku lembaga-lembaga publik yang berfungsi untuk membina kesejahteraan sosial, harus dipimpin secara profesional oleh ahlinya. Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
"Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl [16]: 43).
Syekh Abu Bakar Syatha’ dalam I’anatu Thalibin menyebutkan akan terjadi fenomena anti sosial sebagaimana berikut,
وَصَارَ المشكورُ عند الناسٍ مَنْ وَافَقَهُم على انفسهِمْ وإنْ كان غيرُ مستقيمٍ لله .والمذمومُ عندهم مًنْ خالَفَهم وإن كان عبدا صالحا (شيخ ابى بكر شطاء في إعانة الطالبين)
“Orang yang dipuji justru mereka yang tidak memiliki kapasitas karena sikap loyalitas yang membabi buta terhadap pujaannya tersebut. Sementara orang yang dihujat adalah mereka yang berani menentang kebatilan meskipun dia orang saleh.”
Ini adalah ironi akhlak yang telah terjadi di era post truth saat ini.
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah,
Keenam, akhlak musyawarah dan demokratis semakin ditradisikan dalam memecahkan urusan bersama atau publik. Nabi Muhammad SAW dipuji oleh Allah karena kelembutan hati serta mengedepankan prinsip musyawarah dalam tiap keputusan yang diambil, sebagaimana firman-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran [3]:159)
Ketujuh, akhlak saling menghormati dan menghargai terhadap perbedaan agama dan keyakinan menjadi pesan tegas dalam Islam. Sehingga, Al-Qur’an dengan sangat gamblang melarang keras orang Islam untuk mencela atau menghina mereka yang tidak seiman dengan mereka.
Karena jika itu dianggap sebagai keabsahan, akan menimbulkan reaksi saling hina dan saling merendahkan antar pemeluk agama. Dan itu adalah kondisi yang kontradiktif terhadap diturunkannya agama Islam sebagai pembawa Rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ
Artinya: Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan… (QS. Al-An’am [6]: 108)
Kedelapan, akhlak menuntun hukum. Sehingga tidak ada diskriminasi hukum dan di atas semua anggota masyarakatnya serta hukum berlaku bagi semua warga negara menjadi sebuah kesadaran yang mendalam, Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah [5]: 8)
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah
Kesembilan, akhlak berpikir yang menuntun umat Islam menjalani kebebasan berpikir dan berekspresi selama dalam koridor manhaji termasuk dalam mengontrol (check and balance) akuntabilitas pemerintah. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.111) Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran [3]: 104).
Kesepuluh, akhlak dan etika global. Sebagai bangsa atau nation anggota dari pergaulan bangsa-bangsa, harus terlibat dalam mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan ummat manusia. Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS: Al-Anbiya’ [21]: 107).
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah,
Dalam sejarah, semasa Nabi berada di Madinah beliau mempraktikkan kesepuluh pilar akhlak yang digali dari konsepsi Islam Wasathiyah di atas sehingga Masyarakat Nabi bisa hidup bersama antar berbagai kelompok kebangsaan maupun agama secara damai dan bekerjasama sebagaimana yang bisa kita baca dalam Piagam Madinah yang berisi empat puluh tujuh pasal yang sangat luar biasa yang maknanya sama dengan yang dipakai oleh negara modern dewasa ini.
Dalam konteks keindonesiaan dan kebangsaan, kita semua makin tersadarkan untuk memperkuat akhlak Islam Wasathiyah ini, supaya Indonesia tetap menjadi Negara Bersama, Darul Ahdi was Syahadah yang aman dan tenteram serta bahagia.
Hadirin jamaah Salat Jumat rahimakumullah
Berdasarkan semua yang disebutkan di atas, maka insyaallah 10 pilar akhlak Islam Wasathiyah tersebut adalah akhlak berislam yang paling sesuai dengan karakter bangsa dan masyarakat Indonesia dan sudah dipraktikkan oleh leluhur kita sejak Islam datang ke bumi pertiwi ini dan insyaallah akan terus dianut dan dipraktikkan oleh semua ummat Islam Indonesia untuk mewujudkan Indonesia Emas. Wallahu a’lam bish shawwab.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.