Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Pola Amar Makruf dan Nahi Munkar Dalam Bingkai Kemajemukan

Admin 29 May 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail (Ketua Dewan Syuro Ikatan Da’i Indonesia - IKADI) 
(Intisari Khutbah Jum’at, 15 Dzulqa'dah 1445 H / 24 Mei 2024 M) 

 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma'asyiral mu'minin rahimakumullah. Anugerah terbesar Allah subhanahu wata'ala atas kita adalah Dia menjadikan kita umat Islam, dan dari umat Rasulullah, umat terbaik yang pernah dihasilkan bagi umat manusia, memerintahkan apa yang baik dan melarang apa yang munkar. 

Dan nikmat Allah subhanahu wata'ala yang diberikan kepada kita sangatlah banyak, kita tidak dapat menghitung jumlahnya dan tidak dapat kita mensyukurinya, dan sudah menjadi kewajiban kita sehubungan dengan nikmat tersebut untuk berusaha mensyukurinya kepadaku: 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrāhīm [14]:7) 

Dan tiada nikmat yang pernah harus disyukuri adalah nikmat Islam dengan cara menjaganya, bertindak sesuai hukumhukumnya, menyerukan dengan hikmah dan dakwah yang baik, serta memerintahkan yang shaleh dan melarang yang mungkar. 

Jika kita merenungkan kondisi umat Islam saat ini dan kondisi negara-negara Islam, kita akan menemukan sesuatu yang membuat kita menitikkan air mata dan lemahnya agama Islam di Tengah Masyarakat modern serta ketidakberdayaan umat Islam sebagai bangsa yang lemah dan menjadi target bangsa lain. 

Sebaliknya kaum muslimin didatangkan musibah atas perbuatan mereka sendiri, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala : 

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ 

Artinya: "Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu)." (QS. Asy-Syūrā [42]:30) 

Di antara kelalaian terbesar umat Islam pada masa ini: melalaikan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar, yang berujung pada kelalaian dalam banyak urusan agama. 

Dengan kelalaian umat Islam dalam aspek amar ma’ruf, lama kelamaan banyak orang yang mengabaikan kebaikan sedikit demi sedikit, maka perintah itu mulai meninggalkan hal-hal yang bersifat sukarela dan diinginkan, dan diakhiri dengan meninggalkan kewajiban dan kewajiban. 

Selain lalai dalam mencela kejahatan, banyak orang mulai sedikit demi sedikit melakukan hal-hal keji, dan akhirnya terjerumus ke dalam perbuatan maksiat dan kekejian. 

Hari ini kami akan membahas secara singkat manfaat besar yang diperoleh individu dan masyarakat yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, antara lain sebagai berikut: 

1. Sebab kebaikan umat 

Allah subhanahu wata'ala telah menjadikan umat ini, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bangsa terbaik yang dimunculkan bagi umat manusia, dan Dia menyebutkan di antara alasan-alasan kebaikan ini adalah mereka memerintahkan apa yang shaleh dan melarang apa yang munkar, seperti dalam firman-Nya, Maha Suci Dia Yang Maha Tinggi: 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ 

Artinya: "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Āli ‘Imrān [3]:110) 

Mujahid berkata: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia” (QS. Ali Imran: 110) sesuai dengan syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut. Syarat-syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah: memerintahkan yang shaleh dan melarang yang mungkar, serta beriman kepada Allah. 

Barangsiapa di antara umat ini yang mempunyai sifat-sifat tersebut, maka ia akan ikut memuji dan memujinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatada: Kami telah mendengar bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ketika ia sedang menunaikan ibadah haji, ia melihat bahwa orang-orang cepat untuk menunaikan ibadah haji, maka ia membacakan ayat ini: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia" (QS. Ali Imran: 110). 

Kemudian beliau SAW bersabda: “Barangsiapa yang berkenan untuk menjadi kaum terbaik , hendaklah ia memenuhi syarat-syarat Allah untuk itu.” menjauhkan diri dari kejahatan yang mereka lakukan.” (QS. al-Ma'idah: 79) ayat tersebut. 

Yang meneguhkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan alasan kebaikan adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Durrat binti Abi Lahab, yang berkata: Seorang laki-laki berdiri menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika dia berada di atas mimbar, dan berkata: 

Artinya : Wahai Rasulullah! Orang mana yang paling baik? Beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik bacaan Qurannya, dan paling bertakwa, yang mengajak kebaikan, melarang keburukan dan menyambung silaturrahim” 

2. Sebab Kebahagiaan 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

Artinya: "Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.111) Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Āli ‘Imrān [3]:104) 

Sukses adalah meraih apa yang dikehendaki, dan lepas dari apa yang ditakutkan. Sukses di dunia, dan sukses di akhirat, dengan kehidupan yang baik, termasuk rezeki yang melimpah, kesehatan jasmani, dan keamanan di dunia dan tanah air, kesalehan bagi keluarga dan anak, dan masih banyak aspek kehidupan baik lainnya. 

Di atas semua itu adalah keberhasilan di akhirat dengan mendapatkan surga seluas langit dan bumi, keridhaan Allah, kenikmatan memandang wajah mulia-Nya, dan dengan itu keselamatan dari siksa pedih. 

Betapa besar keutamaan yang diperoleh seseorang dengan amar ma’ruf dan nahi munkar. 

3. Amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai sebab keselamatan dari kehancuran 

Masyarakat hanya akan binasa dan patut mendapat hukuman, jika korupsi semakin meningkat di dalamnya, dan para hamba menjadi zalim, dan tidak ada orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang munkar (amar makruf dan nahi munkar) adalah sebab keselamatan masyarakat dari kehancuran yang mungkin menimpanya karena dosa-dosa yang dilakukannya, dan melanggar batas-batas Allah Yang Maha Kuasa dengan melakukan dosa, seperti melakukan hal-hal terlarang dan meninggalkan kewajiban. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan contoh yang luar biasa tentang hal ini ketika beliau bersabda: 

Artinya : “Perumpamaan Orang yang mentaati batasan-batasan Allah dan orang-orang terjerumus ke dalamnya, ibarat suatu kaum yang mengambil undian di kapal, lalu sebagiannya mendapat bagian tempat di atas, dan sebagian lagi mendapat bagian bawahnya, maka apabila orang-orang yang di bawahnya mengambil air, maka mereka melewati orang-orang yang berada diatas mereka. Lalu mereka berkata: kalau seandainya kami melobangi kapal dari bawah untuk mendapat air, sehingga kami tidak mengganggu yang di atas, bila tidak ada yang melarang maka mereka akan tenggelam bersama, tetapi bila ada yang melarang untuk melubangi kapal, maka mereka akan diselamatkan” (HR. Bukhari). 

4. Amar ma’ruf dan nahi munkar sebab mendapat pahala yang banyak 

Karena karunia Allah subhanahu wata'ala, Dia menjadikan amalan besar ini sebagai alasan bagi seseorang untuk memperoleh pahala atas amal ibadah yang tidak dilakukannya. 

Maka barangsiapa yang memerintahkan shalat, misalnya, maka ia akan mendapat pahala yang sama dari siapa yang mengajaknya, dan barangsiapa yang memerintahkan sedekah, puasa, haji, atau ketaatan lainnya, baik yang wajib maupun yang diinginkan, maka pahalanya sama dengan pahala orang yang mengajaknya sebagaimana yang diberitahukan kepada kita oleh orang-orang yang benar dan dapat dipercaya - semoga Allah subhanahu wata'ala dan shalawat besertanya - ketika beliau bersabda: 

Artinya : “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dialah yang mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka di dunia). Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dosanya sama dengan dosanya. Barangsiapa yang mengikutinya, maka dosanya tidak berkurang sedikitpun” (HR. Muslim). 

Juga dalam sabdanya: 

Artinya: "Barangsiaa yang memberi petunjuk pada kebaikan, aka baginya pahala yang sama dengan pelakunya." (HR Muslim) 

Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Masyarakat Majemuk 

Unsur amar ma’ruf dan nahi munkar di masyarakat majemuk: 
• Quraniyatul khithob (Bersendi dan bersumber Al-Quran)
• Umumiiyat wa Syumuliyyat al-khithob (Universalitas dan komprehensivitas dakwah)
• Zamaniyah dan makaniyah
• Maqshadiyyatul khithob
• Ma’rufiyyatul khithob 

1.Quraniyyatul khithob 

a). Aspek obyek dan permasalahan:
• Wala’ dan baro’
• Menyatukan kelompok-2 umat
• Masalah sosial secara umum : sistem hubungan sosial, amar ma’ruf dan nahi munkar, ta’awun dan takaful.
• Masalah wanita: Kedudukan wanita, perlindungan terhadap wanita, 

b). aspek bentuk dan model:
• Quraniyyatul khitob fil ahkam: bil-hikmah, taysir, mau’idzoh hasanah.
• Quraniyyatul khitob fil istilah: menggunakan istilah dalam bahasa arab atau Bahasa Indonesia yang mudah dicerna. 

2. Umumiyah wa syumuliyyah al khithob

Makna dien komprehensif : al hisab wal jaza’ (Fatihah: 4), kebangkitan (Hijr: 35) ibadah(Zumar: 11), i’tiqod (Baqarah: 256), du’a (A’raf :29), Islam(Ali Imran: 19), syariah (Syuro: 21) madzhab dan pemikiran (Taubah: 33), dakwah (mumtahanah: 8), pemerintahan dan politik (Yusuf: 40) Undang-undang (An Nur 2), jamaah (Al-mariq minaddin at-taarik lil jama’ah/muslim), nasihat (ad-diinu an-nashihah). 

Dari aspek maudlu’at/objek : aspek para du’atnya, aspek mad’unya, aspek tempat dan aspek zaman/waktu. 

3. Zamaniyah dan makaniyah 

Khitob dakwah hrs disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Alquran diturunkan sesuai dengan asbabunnuzul agar para da’I memahami fase dan realita yang dihadapi 

4. Maqshodiyyatul khitob 

Para da’i harus mengarahkan khitob dakwahnya, dan merencanakannya sesuai dengan sasaran dan tujuan yang ingin dicapainya. Langkah-langkahnya :
• Menetapkan sasaran umum dan sasaran sementara
• Menyusun prioritas dalam amar ma’ruf dan nahi munkar 

5. Ma’rufiyyatul Khitob 

Dari aspek khitob : 
• Berbicara sesuai dengan apa yang diketahui manusia,
• sesuai dengan taraf intelektualitas mereka. 
• Menjauhi kefasihan yang dibuat-buat. 

Dari aspek da’i :
• jenis kelamin yang pas untuk dakwah,
• dikenal baik prilakunya 
• dikenal baik lisannya.

 (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.