Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Kejujuran Sebagai Modal Hidup Dunia Akhirat

Admin 01 Nov 2024 Warta Istiqlal

(Intisari Khutbah Jum’at, 29 Rabiul Akhir 1446 H / 01 November 2024 M)

Oleh: Prof. Dr. M. Darwis Hude, M.Si. (Direktur Program Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta)


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Istilah jujur menyiratkan sebuah pengertian tentang kebenaran, kebaikan, ketulusan, keadilan, integritas dalam kondisi apapun dan dimanapun. Ia bersifat global di seluruh kolong langit ini. Kejujuran adalah sikap dan perilaku apa adanya, lurus, serta tidak mengandung kebohongan, kecurangan, menyembunyikan fakta, atau tidak menyimpang dari kebenaran. 

Sikap dan perilaku ini diperlukan dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Tak ada seorang manusia pun yang senang dengan ketidakjujuran. Betapa banyak malapetaka telah terjadi di dunia ini akibat dari ketidakjujuran, dan menyengsarakan pelakunya di dunia dan yang pasti di akhirat kelak sesuai janji Allah subhanahu wata'ala.

Rasulullah saw. adalah pembawa kebenaran dan kejujuran yang harus menjadi panutan bagi seluruh umat manusia. Tak pernah tercatat sedikitpun sepanjang kehidupannya tergores ketidakjujuran kepada siapapun, hatta kepada pembencinya sekalipun. Gelar Al-Amin sudah disandang sejak masih usia belia hingga akhir hayatnya. Para Sahabatnya pun meneladaninya dengan penuh ketulusan dan tanggungjawab. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an,

وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
 

Artinya : “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertaqwa” (QS. az-Zumar/39: 33)

Loyalitas pada kejujuran, selain memberi kedamaian dalam kehidupan individual juga menjadi modal utama dalam menjalin kehidupan sosial masyarakat. Orang yang terbiasa bersikap dan berperilaku jujur, Allah akan sematkan padanya sebagai orang jujur. Sebaliknya pun demikian, orang yang terbiasa berbohong akan disematkan padanya sebagai pembohong. Artinya, kejujuran itu harus dibiasakan dari kecil dan menjadi karakter yang mengkristal dalam pergaulan sehari-hari kapan dan dimana pun berada. Kejujuran akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan muaranya adalah surga, jannatu na’im. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
 

Artinya : “Kalian harus jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah” (HR. Muslim).

Hadirin ma’asyiral Muslimin rahimakumulla

Ada beberapa hal penting yang harus ditanamkan dalam diri kita untuk tetap setia kepada kejujuran dan menyebarkannya sebagai bentuk kebaikan abadi dalam kehidupan individu dan sosial: 

1. Meyakini bahwa kejujuran akan membawa kepercayaan diri dan ketenangan batin yang diimpikan oleh semua manusia. Kebahagiaan hanya bisa tercapai ketika dibangun di atas kejujuran.
Artinya :”Wajib atasmu berlaku jujur, karena ia selalu bersama dengan kebaikan dan keduanya menuntun ke kebahagiaan surga”.

2. Melatih diri untuk senantiasa mengatakan  kebenaran meskipun terkadang sulit dan bahkan berisiko ketika disampaikan. Tidak jarang kejujuran dan kebenaran mengandung risiko, seperti kemungkinan merugikan pihak lain, menimbulkan polemik di kalangan masyarakat, bahkan mungkin berdampak negatif terhadap diri sendiri. Menyampaikan kebenaran sejujur-jujurnya yang seperti ini perlu upaya meminimalisasi risiko-risiko yang mungkin terjadi, misalnya dengan bahasa yang santun, persuasif, sebagaimana diajarkan tatacara menegur imam dalam salat berjamaah. 
Artinya : “Sampaikanlah kebenaran itu dengan jujur meski dalam kondisi yang sangat sulit”.

3. Meyakini bahwa kejujuran dapat membangun trust atau kepercayaan dari orang lain. Kepercayaan dari orang lain, terutama dari atasan, mitra kerja, sahabat, bahkan siapapun menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan di masa depan. Dan, tentu saja ganjaran luar biasa di Yaumil Mahsyar. 
Artinya : “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya…..’.

4. Kritis terhadap pemberitaan yang beredar, terutama yang berseliwerang di dunia maya seperti media sosial. Berita-berita yang beredar di masyarakat, belum tentu adalah berita yang benar, sehingga penting untuk bertabayun, atau mentawaqufkan jika kita belum tahu pasti kebenarannya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
 

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat/49:6). 

5. Menunjukkan dan membiasakan kejujuran secara konsisten kepada anak-anak dan keluarga akan melanggengkan sikap dan perilaku ini secara konsisten dan berkesinambungan ke generasi berikutnya.

Hadirin yang mulia, kejujuran itu perlu ada pada semua aspek kehidupan umat manusia, terutama sekali dalam penegakan hukum. Karena, sungguh telah binasa umat-umat terdahulu karena mereka mempermainkan kejujuran dan keadilan. Kadangkala ketika menyangkut kepentingan pribadi dan golongan manusia berbuat tidak adil yang juga berarti tidak jujur dalam penegakan hukum. 

Surah al-Maidah ayat 8 telah menjelaskan dengan sangat gamblang. 
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

As-Sa’di dalam tafsirnya, Taysirul Karimir-Rahman fi Tafsiri Kalamil-Mannan, menjelaskan bahwa seseorang harus bersungguh-sungguh mewujudkan keadilan dan kejujuran baik secara lahir maupun batin karena Allah semata. Kejujuran itu artinya apa adanya, tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan, baik dalam perkataan maupun perbuatan, baik terhadap kerabat maupun orang lain, baik terhadap teman maupun lawan. Dan, seseorang yang berupaya sepenuh hati untuk melazimkan diri dalam kejujuran dan keadilan, mereka itulah yang sangat dekat dengan ketakwaan.

Hadirin ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Penegakan keadilan dengan sejujur-jujurnya telah ditunjukkan dengan tegas oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya yang sangat tegas.

Artinya : “Sungguh telah binasa umat-umat sebelum kamu, disebabkan karena apabila para orang-orang mulia (para pembesar) yang melakukan pencurian (tindak kriminal) mereka meninggalkan penegakan hukum. Akan tetapi, apabila orang-orang lemah yang melakukannya mereka menegakkan keadilan sejujur-jujurnya. Demi Allah, seandainya Fatimah anaknya Muhammad yang melakukan pencurian maka aku sendiri yang akan memotong tangannya” (HR. Muslim, no. 3196).

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dalam bersikap dan berperilaku jujur dalam kondisi apapun, karena dengan kejujuran itu akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.