Khutbah Jumat ke 36:
Dr. H. Saiful Bahri, Lc, M.A
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Jumat rahimakumullāh,
Pada hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak dan mengingatkan pada diri dan kita semua untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Karena takwa merupakan tujuan besar dari syariat Allah kepada manusia. Perintah puasa, bekal terbaik haji serta anjuran berkurban, semuanya berujung pada target ketakwaan. Demikian halnya pada saat sulit dan krisis, ketakwaan adalah kendali utama dan pegangan kuat dalam menghadapi kondisi yang tersulilt. Surah ath-Thalaq menjelaskan urgensi ketakwaan dalam menghadapi krisis dan konflik keluarga.
Hadirin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Setiap muslim yang mendirikan shalat dibuka dengan ikrar keagungan Allah, pengakuan akan kebesaran Allah. Takbir ini dibaca berulang-ulang dalam shalat, di setiap perubahan Gerakan di dalamnya. Hal tersebut agar Allah selalu hadir dan besar dalam diri kita.
Sayangnya, selepas shalat tak sedikit dari orang yang melaksanakan shalat bahkan kemudian kehilangan pengaruh dari ikrar yang diucapkannya berkali-kali di saat shalatnya. Ketika datang masalah dan problematika hidupnya, Allah tidak menjadi yang pertama yang diingatnya. Cenderungnya, Allah menjadi yang terakhir yang diingat Ketika sudah tak ada lagi pihak yang membantu atau dijadikan gantungan pertolongan. Hal demikian terjadi pada saat seseorang meraih kesuksesan atau keberuntungan dalam hidup. Tak sedikit yang merasa bahwa hal itu merupakan jerihpayahnya, karena kecerdikannya serta karena usaha maksimalnya, sehingga Allah pun tidak terlihat.
Menjaga konsistensi keimanan kepada Allah diperlukan kekuatan internal dan kestabilan qalbu. Shalat ini menjadi salah satu sarana sekaligus indikator konsistensi dan keistiqamahan seseorang.
Orang yang istiqamah diberikan ketenangan hidup di dunia dan akhirat. Mereka dibebaskan dari rasa takut dan cemas serta rasa sedih. Allah yang menjadi penjamin hidupnya di dunia dan di akhirat.
Hadirin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Malaikat akan turun kepada mereka yang istiqamah dan membawa kabar gembira berupa jaminan: "Janganlah kamu takut danjanganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka denganjannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Titah Allah kepada Malaikat untuk mengatakan: "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta". Mereka juga dijanjikan mendapatkan jamuan serta hidangan (kemuliaan dan kebahagiaan) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Orang yang istiqamah dalam mengatakan "Allah Tuhan Kami" adalah mereka yang selalu mengatakan dan menanamkan dalam diri mereka hal tersebut dalam keadaan apapun dan di mana pun. Pada saat sendiri maupun berkelompok, Ketika sepi atau ramai, di saat sedih atau gembira, di kala susah atau lapang.
Di dalam masjid, di rumah, di sekolah/majelis ilmu, di pusat perbelanjaan, di kantor, di lapangan, di jalan. Ketika sedang mukim atau bepergian, di Tengah kondisi berkecukupan atau miskin, tua atau muda, sehat atau sakit, sibuk atau sedikit longgar. Di semua kondisi dan di waktu serta situasi yang berbeda-beda.
Ilustrasi tentang ketenangan dan jaminan ini bisa divisualisasikan seperti ini:
Jika ada seseorang yang sakit terbaring di rumah sakit kemudian datang kepadanya seseorang yang dermawan mengatakan, "Tenanglah Anda. Fokuslah pada pemulihan dan beristirahatlah dengan tenang. Segala konsekuensi keuangan dari perobatan Anda kami yang menanggungnya semua!" Maka, setidaknya orang yang sakit tadi menjadi tenang dan tidak terhantui oleh biaya pengobatan dan rumah sakit. Padahal dia tak tahu sejauh apa jaminan tersebut, siapa orang itu dan bagaimana ia menjaminnya, apakah sang penjamin tetap sehat atau hidup sampai dirinya selesai perawatan di rumah sakit. Namun, faktanya hal tersebut bisa memberikan dampak ketengan bagi seseorang.
Lalu bagaimana jika yang menjamin adalah Allah? Dzat yang tak pernah ingkari janji-Nya, Dzat yang memiliki kekuasaan dan kepemilikan yang tidak ada batasnya.
Hadirin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Konsistensi iman dan amal shaleh merupakan wujud terintegrasinya keshalehan personal yang berdimensi teologis (hubungan vertikal), sosial humanis (hubungan horizontal sesame manusia) serta ekologis (hubungan dengan makhluk lain dan alam).
Selain bersifat integratif, iman juga bersifat transformatif, yaitu nilai-nilai keimanaan bertransformasi menjadi amal dan aksi yang nyata dari keyakinan yang mendalam. Hal ini terlihat dalam beberapa ayat al-Quran yang menghubungkan antara iman dan amal shalih (amanu wa ‘amilu ash-shalihat).
Pendusta agama pun disebutkan ciri-cirinya yang bersifat sosial yaitu menghardik anak yatim dan menolak memberi pertolongan kepada orang miskin. Shalat nya pun tidak berpengaruh dan berdampak, kehilangan ruh dan tidak transformatif menjadi kebaikan di luar shalat. Mencegah benda-benda bermanfaat di dalam rumah dan membiarkannya rusak tanpa bisa dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya.
Orang-orang yang istiqamah adalah orang yang ringan menjalankan hidupnya dipenuhi dengan panduan dan bimbingan hidayah dari Allah. Tidak terjebak dengan kehidupan materi dan standar kebendaan atau hawa nafsu. Dipenuhi kesibukan dalam kebaikan dan mengajak kepada kebaikan.
Para nabi dan ulama serta orang shaleh yang istiqamah hidupnya dipenuhi kontribusi untuk umat dan membimbing manusia. Adapun manusia yang disibukkan dengan standar kehidupan materinya pasti akan terbebani sepanjang hidupnya. Bisa jadi ia diperbudak pekerjaan, jabatan dan obsesi matrealistiknya.
Bisa juga ia terjebak dengan gaya hidup hedon dengan standar materi yang tinggi. Bisa juga ia terperangkap dalam pergaulan yang memasang gengsi tinggi-tinggi. Maka, hidupnya akan kelelahan karena ia merasa hidup ini hanya untuk menumpuk materi. Mengumpulkan pengaruh dan kekuasaan. Mengoleksi jaringan-jaringan orang-orang penting yang kaya atau berkuasa. Hidupnya diibaratkan tangga-tangga panjang yang menjulang.
Manusia yang disibukkan dengan standar materi -saja- seperti ini, biasanya akan cenderung kehilangan dimensi spiritual yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan hidup di dunia. Jebakan setan berikutnya adalah bernama pelampiasan.
Ada kalanya pelampiasan dari kepenatan hidup ini dengan maksiat dan menjauhkan diri dari aturan-aturan Allah. Hawa nafsunya lah yang mengendalikan hidupnya. Setan bahkan sudah menjelma dan menyatu dalam dirinya. Pada akhirnya ia akan benar-benar kecewa. Tak jarang cerita pilu orang-orang seperti ini berakhir dengan bunuh diri dan frustasi. Stres dengan tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan yang intimidatif.
Pada akhirnya semua manusia mesti memilih kesibukannya. Jika ia memilih sibuk dengan standar materi -saja-, maka konsekuensinya ia akan kehilangan aspek spiritual yang penting untuk membuatnya menikmati kebahagiaan di dunia sebelum di akhirat.
Jika manusia memilih keseimbangan dua dimensi hidupnya, ia akan menjadikan aspek spiritualnya menunjang ilmu dan kepahaman serta sebaliknya, ilmu dan pemahamannya membuatnya meningkatkan kualitas aspek spiritualnya.
Ia menjadi pribadi yang sangat khusyuk ketika shalat, ia menjadi orang yang sangat terpengaruh dengan lantunan ayat al-Quran, mendapatkan kenikmatan huruf demi huruf dan makna demi makna ayat-ayat al-Quran, dan di saat yang sama ia memiliki mental kontributif dan mudah tersentuh untuk terlibat dalam berbagai proyek kebaikan dan sosial seperti memberdayakan kaum dhuafa dan yatim serta senang dalam membantu dan menolong orang lain dan berbagai proyek dan kegiatan lainnya.
Orang-orang yang sibuk di dunia dengan standar keseimbangan aspek materi dan spiritual adalah orang yang layak bahagia di dunia sebelum di akhirat. Nantinya, kesibukan di akhirat atau tepatnya di surga akan digambarkan sebagai kesibukan yang membahagiakan. Demikian penuturan Allah SWT dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan lagi bersenang-senang.” (QS. Yasin/36:55)
Penduduk surga adalah orang yang berada dalam kesibukan yang membahagiakan, sibuk menikmati berbagai fasilitas surga. Itulah kenikmatan yang benar-benar nyata, “(Surga adalah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal (saleh).”
Tertarik untuk sibuk yang terus membahagiakan dan menyenangkan? Itu akan terjadi di surga. Maka, nikmatilah kesibukan tetap konsisten dalam kebaikan di dunia dan bahagialah dengannya. Kelak kesibukan di surga tidaklah melelahkan dan membuat letih, tetapi kesibukan yang membahagiakan dan menyenangkan.
Muh. Asdar
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.