Oleh: Ust. H. Irfan Hussaini, ME
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Setelah sebelumnya mengkaji fadilah wudhu, hal-hal yang, disunahkan dalam wudhu, pada pembahan kali ini masuk kepada bab yaitu wudunya Nabi.
Kajian ini adalah Syarah Sahih Muslim yang ini disyarah oleh Imam Nawawi Ad-Damasyqiy mengenai Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Matan hadis yang dibahas:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ الْأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه – وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ قَالَ قِيلَ لَهُ تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshari -semoga Allah meridhainya-. Dikatakan kepada beliau: “Contohkan kepada kami wudhunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka ia pun meminta air dalam bejana, lalu ia pun menuangkan dari bejana tersebut kepada kedua tangannya, dan beliau pun mencucinya tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengeluarkannya, maka beliau pun berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan, beliau melakukan itu tiga kali.
Kemudian beliau masukkan tangannya ke dalam bejana, lalu beliau mengeluarkannya, maka beliau mencuci wajahnya tiga kali. Kemudian beliau memasukkan kembali tangannya ke dalam bejana dan beliau pun mengeluarkannya, maka beliau pun mencuci dua tangannya sampai siku-siku dua kali dua kali.
Kemudian beliau memasukkan kembali tangannya dan mengeluarkannya, dan beliau pun mengusap kepalanya dengan cara dua tangannya datang dan pergi. Kemudian beliau mencuci dua kakinya sampai mata kaki. Kemudian beliau berkata: “Demikianlah tata cara wudhunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Muslim).
Ada seseorang ada sahabat bertemu sahabat lainnya. Salah satunya beliau masih belum tahu bagaimana tata cara berwudhu. Zaid bin ‘Ashim yang sudah bertetemu Rasulullah, diminta untuk mengajarkan temannya untuk menjelaskan tata cara wudhu Nabi.
Zaid bin ‘Ashim meminta temannya untuk mengambilkan air dalam wadah. Zaid bin ‘Ashim mencontohkan. Tata cara ibadah memang harus dicontohkan langsung, karena ibadah itu memang harus seperti yang dilihat langsung dari Nabi, bagi yang tidak bertemu Nabi, maka melihat tradisi sahabat terdahulu.
Dalam hal ini sahabat bertanya kepada sahabat yang lain. Dengan bertanya kepada para guru ini adalah termasuk salah satu cara melestarikan sunah-sunah sahabat sunah-sunah yang baik di dalam beribadah menuntut ilmu.
Zaid mulai praktikberwudhu, pertama sahabat minta tolong untuk dialirkan air untuk membasuh tangan. Karena tidak ada gayung maka wadah berisi air dimiringkan sedikit. Zaid itu sambil membasuh tangannya tiga kali.
Setelah tangannya bersih tangan itu dimasukkan ke dalam wadah sebagai gayung. Menggunakan tangan untuk mengambil air. Dalam bahasa kitabnya niat gurfah, menjadikan tangan sebagai gayung.
Setelah itu berkumur-kumur, setelah berkumur-kumur Zaid memasukkan air ke dalam hidung. Mengambil, berkumur-kumur dibuang. Kemudian memasukkan air itu ke dalam hidung dengan dihirup. Semua dilakukan tiga kali.
Zaid bin ‘Ashim memberikan contoh kepada temannya tiga kali mencuci tangan, berkumur-kumur juga dan menghirup air. Selanjutnya mengambil air lagi dan membasuh wajah. Dalam syarah dijelaskan dimulai dari manabiti sya’ri, tempat mulai tumbuh rambut yang kecil-kecil. Batasannya mulai dari tempat tumbuh rambut sampai dagu di bawah jadi kalau kita mau basuh air wajah Kemudian mengambil air untuk membasuh tangan kanan. Mengambil dengan tangan kiri dua kali. Membasuh tangan kiri dengan tangan kanan untuk membasuh tangan dua kali.
Zaid mengambil air lagi dengan memasukkan tangan ke dalam wadah kemudian beliau mengusap kepala. Aqbala, menyapu dari depan dan adbara lalu kembali ke depan, ini dihitung satu kali. Ini yang bagus dan sempurna.
Kemudian membasuh kakinya kedua kakinya sampai ke mata kaki. Kemudian Zaid bin ‘Ashim berkata " Seperti inilah wudhunya Rasulullahi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Ringkasnya, pertama mencuci tangan, kedua berkumur-kumur sekaligus menghirup air, ketiga membasuh muka dari atas ke bawah, keempat membasuh tangan kanan tangan dan kiri, kelima kemudian mengusap kepala mengusap kepala dari depan ke belakang kembali kedepan dan keenam membasuh kedua kaki samapai mata kaki.
Menyapu kepala dengan menaruh tangan di depan ke belakang lalu kembali ke depan lagi itu cara yang yang paling sempurna, namun dalam boleh mengambil batasan minimal membasuh kepala. Menigalakikan basuhan dikecualikan pada membasuh tangan yang hanya dua kali.
Dijelaskan di sini bahwa hal itu menunjukkan, bila kita melakukan tiga kali itu bagus tetapi kalaupun hanya dua kali atau bahkan satu kali karena kita terburu-buru itu cukup.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.