Oleh: KH. Muhammad Sukrillah, M.Ag
Pada kesempatan ini disampaikan kajian kitab tafsir Sirajul Munir yang ditulis oleh Al Imam Al-Khatib Asy-Syarbini, membahas tafsir surah An-Nur/24: 36. Allah berfirman di dalam surah Annur ayat 36:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Dalam surah Annur ini Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa sesungguhnya cahaya itu ada di rumah-rumah Allah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut di dalamnya nama-Nya. Di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
Orang-orang yang tidak dilalaikan hatinya oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi goncang itu pada hari kiamat agar Allah Subhanahu wa ta’ala membalas amal yang mereka lakukan itu jauh lebih baik dari apa yang pernah mereka lakukan. Karena sesungguhnya dan Allah menambahkan fadilahnya dan Memberi rezeki tanpa batas.
Pertama berkenaan dengan firman Allah, fi buyutin adinallah fi buyutin, albuyut hiyal masajid. Di dalam rumah-rumah, yaitu almasajid: masjid. Berdasarkan riwayat dari Said bin Zubair dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu:
«إِنَّ الْمَسَاجِدَ بُيُوتُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، تُضِيءُ لِأَهْلِ السَّمَاءِ كَمَا تُضِيءُ نُجُومُ السَّمَاءِ لِأَهْلِ الْأَرْضِ»
"Sesungguhnya masjid-masjid adalah rumah-rumah Allah di bumi. Masjid-masjid tersebut menyinari penduduk langit sebagaimana bintang-bintang di langit menyinari penduduk bumi."
Begitulah penduduk langit melihat dari jauh keberadaan masjid-masjid, karena masjid memiliki nur yang bisa menyinari. Jemaah rahim rahimakumullah. Karena Allah memulai dengan kalimat fi buyutin di dalam rumah-rumah, berarti ada kalimat lain yang tidak tersebut. Asy-Syarbini bahwa ayat ini memiliki keterkaitan dengan ayat yang sebelumnya, ketika Allah menjelaskan bahwa Allah adalah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah itu adalah seperti lubang yang tidak tembus. Yang di dalamnya ada pelita yang besar ,… dan seterusnya.
Masjid adalah tempat cahaya Allah di atas muka bumi ini. Allah meletakkan cahayanya di atas bumi, di di tempat yang paling mulia, paling Allah cintai. Seperti kita saat ini berada, yaitu di rumah-rumahnya. Yataqu ya dengan apa? dengan kalimat ya miskah ya at miskat dan ini juga yang dijelaskan oleh para ulama lain seperti Abu Lais As-Samarqandi dalam kitab tafsir Bahrul Ulum bahwa masjid itu adalah al-qindil al-mudhi: pelita atau lentara yang bercahaya. Cahaya ilmu, cahaya hidayah, cahaya iman, cahaya ibadah, cahaya Al-Qur'an bersinar di rumah Allah Subhanahu wa ta’ala.
Boleh jadi kalimat fi buyutin memiliki makna yang terkait dengan kalimat yang sesudahnya yaitu: yusabbihu rijalun fi buyutin, beberapa laki-laki yang bertasbih di rumah Allah. Sebagai bentuk pengulangan, karena nanti di bagian berikutnya Allah menyebutkan yusabbihu lahu fiha, senantiasa bertasbih kepada-Nya. Pengulangan yang menunjukkan makna: penegasan, penguatan, dan mengingatkan betapa urusan ini adalah masalah penting untuk kita pahami. Ada sebuah perintah yang tidak tersebut secara eksplisit namun secara implisit termaknakan yaitu sabbihu fi buyutin, perintah untuk bertasbih di rumah-rumah Allah itu. Penyebutan diawal fi buyutin untuk kita memberikan perhatian, bahwa ini urusan penting bukan hal sepele. Keutamaan masjid ini disebutkan dalam banyak dalil.
Dalam Al-Qur'an disebutkan:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )١٨ (
Masjid adalah milik Allah. Kemudian juga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan; Orang-orang yang datang ke rumah Allah, berikan kabar gembira kepada mereka, terutama mereka yang berjalan menuju masjid di kegelapan malam bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kemuliaan di antara tujuh golongan manusia yang istimewa, di antaranya adalah laki-laki yang dia hatinya terpaut dengan masjid. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa tempat yang paling Allah cintai dari seluruh tempat yang ada di muka bumi adalah masjid. Yang dimaksud dengan masjid apakah seluruh masjid yang ada di atas muka bumi ataukah masjid-masjid tertentu? Ada yang mengatakan bahwa masjid yang dimaksud di dalam ayat ini yaitu masjid yang tiga: Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Masjid Al-Aqsa. Kemudian ada waqila. Ada juga yang mengatakan empat, ditambahkan dari tiga satu lagi yaitu masjid Quba, karena juga dibangun oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah perbedaan pendapat para ulama. Namun pendapat yang paling kuat yaitu seluruh masjid yang ada di muka bumi. Ini merupakan pendapat umum para ulama tafsir.
Allah memerintahkan untuk an turfa’a, meninggikan atau memuliakan masjid . Ulama menafsirkan ini dalam dua sisi: Pertama, membangun fisik masjid secara nyata. Kedua, memuliakan masjid secara maknawi, yakni menjaga kesuciannya dari hal-hal kotor dan menggunakannya untuk dzikir serta kajian ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai keutamaan memakmurkan masjid:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa membangun masjid, maka Allah akan bangunkan rumah untuknya di surga."
Bukan hanya dibangun secara fisik tapi juga mengagungkan, memuliakan. Mengagungkan syiar agama Allah termasuk masjid adalah merupakan tanda-tanda ketakwaan dalam hati. Maka di dalam rumah Allah dilarang mengucapkan kata-kata kotor. Kita bersihkan masjid dari sampah, kotoran-kotoran dan najis, dijaga kebersihan dan kesuciannya.
Di samping itu kita diperintahkan untuk kita menyebut nama Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalamnya mengkaji hukum-hukum Allah. Ada majelis ilmu sebagaimana dalam tafsir Ibnu Abbas: kitab Allah dibacakan di rumah Allah. Yang kedua, belajar tafsirnya dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk mengagungkan nama Allah di dalamnya. Kemudian yang ketiga kita melaksanakan salat, terutama salat yang fardu.
Barang siapa yang ingin gembira berjumpa Allah nanti pada hari kiamat dengan status sebagai seorang muslim maka menjaga salat-salat di mana salat itu dipanggil. Kalau dipanggil di masjid maka datang ke masjid. Kalau dipanggil di musala, kita datang di manapun azan salat dikumandangkan, karena merupakan syariat dan sunah nabi kita. Meninggalkan sunah menurut Abdullah bin Mas'ud, merupakan bentuk kesesatan.
Sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, " Maukah kalian aku tunjukkan satu amalan yang kalau kalian kerjakan maka Allah akan mengangkat derajat kalian dan Allah akan menghapuskan dosa-dosa kalian. Kemudian kemudian para sahabat menjawab, " Ya Rasulullah, tentu saja kami mau ditunjukkan apa amalan itu." Kemudian Rasulullah menyebutkan, " Engkau perbanyak langkah menuju masjid.” Dan masih banyak lagi hadis tentang ini.
Satu peringatan Nabi tentang kondisi akhir zaman untuk kita perhatikan., “Akan datang suatu zaman di mana manusia berbangga-bangga dengan masjidnya. Tidak akan terjadi kiamat sampai manusia adu pamer tentang masjidnya paling indah, paling megah… Yaitu ketika masjid tidak dimakmurkan kecuali sedikit saja.”
Mendengarkan kajian merupakan kesempurnaan dari apa yang Allah perintahkan dari memakmurkan masjid. Para pemakmur masjid adalah para laki-laki yang hatinya tidak dilalaikan oleh urusan dunia, transaksi duniawi, pekerjaan dan perdagangan. Hatinya adalah hati yang takut dengan hari ketika berjumpa dengan Allah, bergetar hatinya. Dia mengerjakan salat dengan sempurna di awal waktu. Mereka mengeluarkan zakat dari kewajiban sesama manusia, dari hak-hak orang miskin atau para orang yang berhak untuk mendapatkan zakat. Allah menjanjikan, pasti Allah balas dengan hal yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.