Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Jihad Merawat Negeri

02 Nov 2026

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

Setiap Oktober berlalu menuju November, sejarah seperti mengetuk nurani bangsa. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan pertempuran Surabaya 10 November mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari pemberian, melainkan dari keyakinan, persatuan, dan pengorbanan. Ketika Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama menyerukan pembelaan tanah air, para santri dan rakyat menjawabnya dengan keberanian. Mereka menjaga kemerdekaan bukan demi satu golongan, melainkan demi rumah besar bernama Indonesia.

Dahulu, cinta tanah air menuntut keberanian menghadapi penjajah. Kini, ia meminta keteguhan menghadapi kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, serta perpecahan. Mengisi kemerdekaan berarti menjaga amanah para pahlawan melalui kejujuran, ilmu pengetahuan, kerja sungguh-sungguh, dan kepedulian kepada sesama. Bendera yang berkibar belum sepenuhnya bermakna apabila di bawahnya masih ada hati yang mudah membenci dan tangan yang tega merusak.

Indonesia berdiri di atas kenyataan indah: kita tidak dilahirkan seragam. Beragam suku, bahasa, budaya, dan agama menjadikan negeri ini kaya, sekaligus menuntut kedewasaan dalam hidup bersama. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” bukan ajakan menghapus perbedaan, melainkan ikrar bahwa perbedaan tidak boleh meruntuhkan persaudaraan. Persatuan sejati lahir ketika setiap insan merasa aman menjalankan keyakinannya dan dihargai martabat kemanusiaannya.

Al-Qur’an menyampaikan pesan mendalam: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”. (QS. Al-Hujurat/49: 13). Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, “lita’aarafuu” agar saling mengenal. Bukan agar saling merendahkan, apalagi bermusuhan. Ayat tersebut juga menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ketakwaan, bukan asal-usul atau kedudukan. Karena itu, keteguhan beragama semestinya melahirkan kerendahan hati, sementara perjumpaan dengan perbedaan menjadi kesempatan memperluas pengertian.

Pesan ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Pada Oktober 2026, Kementerian Agama mengangkat ikhtiar “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri” menjelang Hari Toleransi Internasional. Tetapi kerukunan tidak cukup menjadi tema perayaan. Ia mesti tumbuh dalam percakapan keluarga, lingkungan sekolah, ruang digital, dan rumah ibadah: dengan tidak menyebar prasangka, menghormati tetangga, serta membela hak sesama untuk hidup tenteram. Toleransi bukan melemahkan iman, melainkan memuliakan manusia tanpa harus menyamakan semua keyakinan.

Surah Al-Hujurat juga melarang sikap mengolok-olok, mencari-cari kesalahan, dan berprasangka buruk. Pesan ini semakin penting ketika sebuah kabar dapat melintasi ribuan gawai sebelum sempat diperiksa kebenarannya. Menjadi pahlawan pada zaman digital kadang sesederhana menahan jempol, menimbang informasi, dan memilih kata yang menyembuhkan, bukan melukai. Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika tidak berhenti sebagai semboyan, melainkan menjadi adab kebangsaan.

Namun rumah bersama ini bukan hanya dihuni manusia. Tanah, air, pepohonan, dan udara merupakan anugerah yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Di sinilah Al-Qur’an mengajak kita merenungi: “Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam? Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?” (QS. Al-Waqi’ah/56: 63-64). Allah SWT bertanya tentang benih yang ditanam: siapakah sesungguhnya yang menumbuhkannya? Pertanyaan itu menumbuhkan kesadaran bahwa manusia mampu mengolah tanah, tetapi tidak berhak berlaku sewenang-wenang terhadap sumber kehidupan.

“Apakah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Apakah kamu yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkan? Seandainya Kami berkehendak, Kami menjadikannya asin. Mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqi’ah/56: 68-70). Allah SWT mengajak manusia memperhatikan air yang diminum, bahkan mengingatkan bahwa air dapat dijadikan asin. Betapa rapuh kehidupan apabila sungai tercemar dan sumber air mengering. Lalu ayat “Apakah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan? Apakah kamu yang menumbuhkan kayunya atau Kami yang menumbuhkan? Kami menjadikannya (api itu) sebagai peringatan dan manfaat bagi para musafir” (QS. Al-Waqi’ah/56: 71-73). Ayat tersebut mengajak kita memikirkan api dan asal kayunya, sebagai peringatan sekaligus manfaat. Tanaman, air, dan api bukan benda tanpa makna; semuanya tanda kemurahan Tuhan yang menuntut rasa syukur serta tanggung jawab.

Karena itu, menjaga lingkungan adalah wujud nyata cinta tanah air dan bagian dari pengamalan iman. Menanam pohon, mengurangi sampah, menghemat air wudu, menggunakan energi dengan bijak, serta mencegah kebakaran hutan adalah tindakan sederhana dengan akibat besar. Kita tidak pantas mengaku mencintai negeri sambil membiarkan tanahnya gersang, airnya tercemar, dan udaranya sesak. Kesalehan yang hidup mestinya terasa pula oleh sungai, hutan, dan generasi yang belum lahir.

Alam pun mengajarkan persaudaraan. Hujan tidak bertanya siapa yang akan meminumnya, dan pepohonan tidak memilih siapa yang boleh berteduh. Demikian pula kepedulian kepada lingkungan seharusnya mempertemukan orang dari berbagai latar. Bergotong royong membersihkan sungai atau menanam pohon menjadi cara sederhana merawat toleransi: tangan bekerja bersama, sementara hati belajar bahwa kebaikan tidak mengenal sekat. Itulah pengabdian yang menjangkau semua makhluk ciptaan Allah.

Pada akhirnya, semangat Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan mengajarkan bahwa perjuangan selalu memiliki wajah sesuai zamannya. Dahulu para pendahulu mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa; hari ini kita mengisinya dengan merawat kemanusiaan, persatuan, dan alam. Jika keberagaman kita jaga sebagai rahmat, lingkungan kita rawat sebagai amanah, dan kemerdekaan kita isi dengan pengabdian, insyaallah Indonesia tetap menjadi rumah yang layak dicintai, dihuni, serta diwariskan. Wallaahu a’lam.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.