Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan ceramah keagamaan, membaca penjelasan tentang suatu hukum Islam, hingga memperoleh jawaban dari kecerdasan buatan. Kemudahan ini membuka peluang besar bagi siapa pun untuk memperluas wawasan, termasuk para santri. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak kalah penting. bagaimana memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan adab, tanggung jawab, dan kehati-hatian dalam mencari ilmu?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan dalam peringatan Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober 2026. Dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, santri diharapkan tidak hanya menjaga tradisi keilmuan yang diwariskan pesantren, tetapi juga mampu berkontribusi dalam menjawab tantangan zaman. Kementerian Agama turut menyoroti pentingnya penguasaan teknologi dan penguatan karakter santri, salah satunya melalui pelatihan khusus mengenai kecerdasan buatan dan pembuatan konten digital. Hal ini menunjukkan bahwa ruang pengabdian santri semakin luas, termasuk di dunia digital.
Dalam tradisi pesantren, menuntut ilmu tidak semata-mata bertujuan memperoleh pengetahuan. Proses tersebut juga menjadi sarana pembentukan akhlak, kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Ilmu diharapkan tidak hanya memenuhi pikiran, tetapi juga membentuk cara seseorang bersikap terhadap orang lain.
Nilai-nilai tersebut semestinya tidak berhenti ketika kegiatan belajar di pesantren selesai. Di ruang digital, adab tetap memiliki tempat yang penting. Menjaga lisan, misalnya, tidak hanya berlaku ketika berbicara secara langsung, tetapi juga ketika menulis komentar, membagikan unggahan, atau menanggapi pendapat orang lain di media sosial. Kata-kata yang ditulis di layar dapat melukai orang lain sebagaimana ucapan yang disampaikan secara langsung.
Di sinilah tantangan santri masa kini menjadi menarik. Seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu tercermin dalam perilakunya. Kemampuan mengutip dalil tidak otomatis menjadikan seseorang bijaksana dalam berkomunikasi. Demikian pula, kemampuan membuat konten keagamaan tidak dengan sendirinya menjamin bahwa konten tersebut disampaikan secara bertanggung jawab.
Karena itu, adab digital perlu dipahami sebagai kelanjutan dari adab dalam menuntut ilmu. Sebelum mengunggah sesuatu, seseorang perlu mempertimbangkan kebenaran informasi, manfaat yang dapat diberikan, serta dampaknya bagi orang lain. Bukan hanya apa yang ingin disampaikan yang penting, melainkan juga bagaimana dan untuk tujuan apa pesan tersebut disebarkan.
Salah satu tantangan terbesar di era digital adalah derasnya arus informasi. Berita, potongan ceramah, kutipan hadis, dan berbagai penjelasan keagamaan dapat tersebar luas tanpa selalu disertai konteks atau sumber yang jelas. Bahkan, teknologi kecerdasan buatan dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, meskipun masih mengandung kekeliruan.
Dalam situasi seperti ini, prinsip tabayyun menjadi semakin penting. Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman memeriksa kebenaran berita yang datang kepada mereka sebelum mengambil tindakan yang dapat merugikan pihak lain.
Pesan tersebut memberikan landasan etis bagi penggunaan media digital. Tidak setiap informasi yang ramai dibicarakan layak dipercaya, dan tidak setiap konten yang terlihat meyakinkan dapat langsung dijadikan pegangan. Informasi perlu diperiksa melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, dibandingkan dengan keterangan lain yang relevan, serta dipahami dalam konteks yang utuh.
Bagi santri, prinsip ini memiliki arti yang khusus ketika berhadapan dengan informasi keagamaan. Kutipan ayat atau hadis tidak seharusnya disebarkan hanya karena sesuai dengan pendapat pribadi. Sumber, konteks, dan penjelasan para ahli perlu diperhatikan agar pesan agama tidak disampaikan secara keliru.
Tabayyun juga bukan sekadar kegiatan mencari kesalahan orang lain. Ia merupakan latihan untuk menahan diri dari kesimpulan yang terburu-buru. Ada kalanya tindakan paling bijaksana bukanlah segera membagikan informasi, melainkan berhenti sejenak, memeriksa kebenarannya, dan memilih untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum jelas.
Kehadiran AI memberikan kesempatan baru bagi santri untuk mengembangkan kemampuan belajar. Teknologi ini dapat membantu menerjemahkan bahasa, merangkum bacaan, menyusun kerangka tulisan, atau memberikan gambaran awal mengenai suatu topik. Jika digunakan secara tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang mendukung proses pembelajaran dan kreativitas.
Namun, kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu berarti seseorang telah memahami persoalan. Jawaban yang tersusun rapi belum tentu benar, sedangkan penjelasan yang tampak lengkap belum tentu mencakup seluruh aspek suatu masalah. Dalam kajian keislaman, terutama ketika menyangkut penafsiran Al-Qur’an, keautentikan hadis, dan persoalan fikih, pemeriksaan sumber serta bimbingan guru tetap diperlukan.
AI dapat membantu proses pencarian informasi, tetapi tidak seharusnya menggantikan proses berpikir, tanggung jawab pribadi, dan hubungan keilmuan antara murid dengan guru. Santri tetap perlu membaca, bertanya, berdiskusi, dan menguji pemahamannya. Teknologi akan lebih bermanfaat apabila membantu seseorang belajar dengan lebih baik, bukan membuatnya berhenti belajar.
Dengan demikian, penguasaan teknologi tidak harus dipertentangkan dengan tradisi pesantren. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama teknologi digunakan dengan kesadaran etis dan tidak menghilangkan kedalaman proses menuntut ilmu. Justru, tradisi keilmuan yang kuat dapat menjadi bekal bagi santri untuk menghadapi informasi digital secara kritis dan bertanggung jawab.
Tantangan santri di era digital tidak berhenti pada kemampuan menyaring informasi. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menghadirkan manfaat melalui ruang yang sama. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan khazanah Islam, membagikan pengetahuan yang telah diperiksa kebenarannya, mendokumentasikan kegiatan pesantren, serta mengembangkan karya kreatif yang mendidik masyarakat.
Akan tetapi, ukuran keberhasilan konten tidak semestinya hanya ditentukan oleh jumlah penonton, tanda suka, atau komentar. Konten yang ramai belum tentu memberikan pemahaman yang benar, sementara karya sederhana dapat memiliki manfaat besar apabila disusun dengan ilmu dan disampaikan secara bertanggung jawab.
Santri yang menguasai teknologi sekaligus menjaga adab memiliki peluang untuk menghadirkan wajah dakwah yang mencerahkan. Mereka dapat menyampaikan pesan agama dengan bahasa yang mudah dipahami, menghormati perbedaan, serta menghindari cara-cara yang merendahkan orang lain. Dengan bekal tersebut, ruang digital tidak hanya menjadi tempat memperoleh perhatian, tetapi juga ruang untuk membangun pengetahuan dan memperkuat kepedulian sosial.
Semangat ini sejalan dengan harapan agar santri turut mengambil peran dalam pembangunan bangsa. Pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar yang terlihat oleh banyak orang. Memeriksa kebenaran sebuah berita sebelum membagikannya, membuat konten edukatif, menjaga kesantunan dalam perdebatan, dan membantu masyarakat memperoleh informasi yang benar juga merupakan bentuk tanggung jawab dalam kehidupan bersama.
Hari Santri menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai pesantren dapat terus hidup di tengah perubahan zaman. Jika dahulu perjuangan santri dikenal melalui peran mereka dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kehidupan bangsa, kini semangat pengabdian tersebut perlu diteruskan melalui ilmu, akhlak, kreativitas, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Di era digital, tantangannya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan bahwa kemajuan tersebut tidak membuat manusia kehilangan kehati-hatian dan tanggung jawab. Santri perlu memiliki keberanian untuk berinovasi, tetapi juga kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua hal telah diketahui. Mereka perlu mampu memanfaatkan teknologi, sekaligus memahami batas-batasnya.
Pada akhirnya, ketika jempol digunakan untuk menulis, membagikan, dan menanggapi informasi, nilai-nilai yang dipelajari melalui proses mengaji tetap perlu hadir di dalamnya. Menjaga kebenaran, menghormati sesama, dan mengutamakan kemanfaatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pencari ilmu.
Dengan demikian, menjadi santri di era digital bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang dikuasai, melainkan tentang bagaimana ilmu dan teknologi digunakan untuk menghadirkan kebaikan. Sebab, kemajuan yang sejati bukan semata-mata kemampuan mengikuti perkembangan zaman, tetapi kemampuan menjalaninya tanpa kehilangan adab dan tujuan kemanusiaan
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.