Oleh: Dr. Budi Utomo, S.Th.I, M.A
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah subhanahu wata'ala berfirman,
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ (191)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Imam Tabrani meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas:
أَتَتْ قُرَيْشٌ الْيَهُودَ فَقَالُوا: بِمَ جَاءَكُمْ مُوسَى؟ قَالُوا: عَصَاهُ وَيَدُهُ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ. وَأَتَوُا النَّصَارَى فَقَالُوا : كَيْفَ كَانَ عِيسَى ؟ قَالُوا : كَانَ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَيُحْيِي الْمَوْتَى : فَأَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا : ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يَجْعَلُ لَنَا الصَّفَا ذَهَبًا . فَدَعَا رَبَّهُ ، فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ( فَلْيَتَفَكَّرُوا فِيهَا
Bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata, "Mukjizat apakah yang dibawa oleh Nabi Musa kepada kalian?" Orang-orang Yahudi menjawab, "Tongkat dan tangannya yang tampak putih bagi orang-orang yang memandang." Mereka datang kepada orang-orang Nasrani, lalu bertanya, "Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa?" Orang-orang Nasrani menjawab, "Dia dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang-orang yang mati." Mereka datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, "Berdoalah kepada Allah, semoga Dia menjadikan bagi kami Bukit Safa ini menjadi emas." Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Karena itu, renungkanlah oleh kalian hal tersebut. Riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah, sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar Bukit Safa menjadi emas adalah di Mekah.
Makna: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, adalah dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan yang amat besar. Seperti bintang-bintang yang beredar dan yang tetap, lautan, gunung-gunung dan padang pasir, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman dan buah-buahan serta hewan-hewan, barang-barang tambang, serta berbagai macam manfaat yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau, dan kegunaannya.
Makna: dan silih bergantinya malam dan siang adalah saling bergiliran dan saling mengurangi panjang dan pendeknya; adakalanya siang lebih panjang dan malamnya pendek, atau sebaliknya, adakalanya keduanya sama panjang. Semua berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan: terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
Yang di maksud dengan ulil albab adalah akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya akal sempurna yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang yang tuli dan bisu serta orang-orang yang tak berakal.
Dalam kitab Shahihain dengan melalui Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘aliahi wasallam bersabda:
«صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكَ»
Shalatlah sambil berdiri. Jika kamu tidak mampu berdiri, maka salatlah sambil duduk; dan jika kamu tidak mampu sambil duduk, maka salatlah dengan berbaring pada lambungmu.
Mereka tidak pernah terputus dari berzikir mengingat-Nya dalam semua keadaan mereka. Lisan, hati, dan jiwa mereka semuanya selalu mengingat Allah.
Makna “dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,” mereka memahami semua hikmah yang terkandung di dalamnya yang menunjukkan kepada kebesaran Penciptanya, kekuasaan-Nya, pengetahuan-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, dan rahmat-Nya.
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri bahwa ia pernah mengatakan:
تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ
"Berpikir selama sesaat lebih baik daripada berdiri salat semalam."
Al-Fudail mengatakan bahwa Al-Hasan pernah berkata:
الْفِكْرَةُ مِرْآةٌ تُرِيكَ حَسَنَاتِكَ وَسَيِّئَاتِكَ
"Pikiran merupakan cermin yang memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanmu."
Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa pikiran merupakan cahaya yang memasuki hatimu. Adakalanya ia mengucapkan tamsil, untuk pengertian tersebut melalui bait syair ini:
إِذَا الْمَرْءُ كَانَتْ لَهُ فِكْرَةٌ ... فِفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ عِبْرَةٌ
Apabila seseorang menggunakan akal pikirannya, maka pada segala sesuatu terdapat pelajaran baginya.
Disebutkan dari Isa ‘alaihi as-salam bahwa ia pernah mengatakan.
طُوبَى لِمَنْ كَانَ قِيلُهُ تَذَكُّرًا ، وَصَمْتُهُ تَفَكُّرًا ، وَنَظَرُهُ عِبَرًا
”Beruntunglah bagi orang yang ucapannya adalah zikir, diamnya berpikir. dan pandangannya sebagai pelajaran."
Luqmanul Hakim mengatakan,
إِنَّ طُولَ الْوَحْدَةِ أَلْهَمُ لِلْفِكْرَةِ ، وَطُولَ الْفِكْرَةِ دَلِيلٌ عَلَى طَرْقِ بَابِ الْجَنَّةِ
"Sesungguhnya lama menyendiri mengilhamkan berpikir, dan lama berpikir merupakan jalan yang menunjukkan ke pintu surga."
Wahb ibnu Munabbih mengatakan:
مَا طَالَتْ فِكْرَةُ امْرِئٍ قَطُّ إِلَّا فَهِمَ ، وَمَا فَهِمَ امْرُؤٌ قَطُّ إِلَّا عَلِمَ ، وَمَا عَلِمَ امْرُؤٌ قَطُّ إِلَّا عَمِلَ
“Tidak sekali-kali seseorang lama menggunakan pemikirannya melainkan ia akan mengerti, dan tidak sekali-kali seseorang mengerti melainkan mengetahui, dan tidak sekali-kali pula seseorang mengetahui melainkan beramal.”
Umar ibnu Abdul Aziz mengatakan:
الْكَلَامُ بِذِكْرِ اللَّهِ ، عَزَّ وَجَلَّ ، حَسَنٌ ، وَالْفِكْرَةُ فِي نِعَمِ اللَّهِ أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ
"Berbicara untuk berzikir kepada Allah Swt. adalah baik, dan berpikir tentang nikmat-nikmat Allah lebih utama daripada ibadah."
Mugis Al-Aswad mengatakan:
زُورُوا الْقُبُورَ كُلَّ يَوْمِ تُفَكِّرُكُمْ ، وَشَاهِدُوا الْمَوْقِفَ بِقُلُوبِكُمْ ، وَانْظُرُوا إِلَى الْمُنْصَرَفِ بِالْفَرِيقَيْنِ إِلَى الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ ، وَأَشْعِرُوا قُلُوبَكُمْ وَأَبْدَانَكُمْ ذِكْرَ النَّارِ وَمَقَامِعَهَا وَأَطْبَاقَهَا ، وَكَانَ يَبْكِي عِنْدَ ذَلِكَ حَتَّى يُرْفَعَ صَرِيعًا مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِهِ ، قَدْ ذَهَبَ عَقْلُهُ .
"Ziarahilah kubur setiap hari, niscaya menggugah pikiran kalian. Saksikanlah adegan hari kiamat dengan hati kalian, dan renungkanlah kedua golongan yang pergi ke dalam surga dan yang masuk ke dalam neraka. Gugahlah hati kalian dan tubuh kalian agar mengingat neraka dan beraneka ragam siksaan yang ada di dalamnya." Bila perkataannya sampai di situ, maka ia menangis, hingga tubuhnya diangkat oleh murid-muridnya karena pingsan.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:
رَكْعَتَانِ مُقْتَصِدَتَانِ فِي تَفَكُّر، خَيْرٌمِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ وَالْقَلْبُ سَاه
"Dua rakaat yang lamanya pertengahan dengan bertafakkur adalah lebih baik daripada berdiri salat sepanjang malam, sedangkan hatinya lupa."
Al-Hasan Al-Basri mengatakan:
وَقَالَ الْحَسَنُ : يَا ابْنَ آدَمَ ، كُلْ فِي ثُلُثِ بَطْنِكَ ، وَاشْرَبْ فِي ثُلْثِهِ، وَدَعْ ثُلُثَهُ الْآخَرَ تَتَنَفَّسُ لِلْفِكْرَةِ .
"Hai anak Adam, makanlah (isilah) sepertiga perutmu dengan makanan, dan sepertiga lagi dengan minuman, dan kosongkanlah sepertiga lainnya untuk memberikan udara segar dalam bertafakkur."
Kita diajak untuk berpikir di dalam keseharian dari apapun yang dilihat dan didengar. Shalat dua rakaat dengan kualitas yang menyebabkan takut kepada Allah, lebih baik dari memperbanyak kuantitas rakaat tetapi tidak menyertakan hati dan pikiran. Dengan terbiasa shalat khusyuk, maka apa yang ada di dalam shalat akan terbawa ke luar shalat.
Ketika dalam shalat membesarkan dan mengingat Allah, di luar shalat juga membesarkan dan mengingat Allah. Jadilah seorang hamba dalam hatinya selalu mengingat walau tidak sedang shalat.
Satu perkataan yang menjadi simbol kesadaran:
رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ
“Wahai Rabb kami, tidaklah yang Engkau ciptakan sia-sia, tidaklah ada sesuatu yang batil daripada yang Engkau ciptakan. Maha suci Engkau, ya Allah. Maka lindungilah, hindarilah aku dari azab api neraka.”
Kesimpulan tertinggi dari berpikir adalah kesadaran bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan segala sesuatu memiliki manfaat. Siapa yang mengenal Allah maka hilanglah semua syak wa sangka yang buruk, tuduhan-tuduhan kepada Allah. Dan dia akan mengatakan menyimpulkan bahwa setiap kejadian yang Allah gulirkan pada dirinya pasti mengandung hikmah.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.