Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Zuhur Istiqlal: Menjaga Adab Perempuan dalam Pernikahan

Admin 21 Nov 2025 Warta Istiqlal

Melalui kajian rutin melanjutkan kitab Tuhfatul Arus yang disampaikan oleh Hj. Sumayyah Ba’abduh, Lc., masuk kepada pembahasan tentang adab wanita dan rumah tangga. mentadaburi Qs. Al-Ahzab ayat 32 yang berbicara tentang kedudukan, etika, dan tanggung jawab seorang wanita muslimah dalam berinteraksi, terutama dalam kehidupan rumah tangga.

Sahibul kitab Imam Mahmud Mahdi Al-Istanbuli mengatakan membuka dengan Qs. Al-Ahzab ayat 32.

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ 

Artinya: “Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa,” Qs Al-Ahzab:32. 

Ustazah Sumayyah menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar bahwa istri-istri Nabi merupakan teladan utama (uswah) bagi seluruh wanita beriman. Tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Al-Wasith menegaskan bahwa keistimewaan ini bukan sekadar status sosial, melainkan lahir dari ketakwaan, ketaatan, dan kemuliaan akhlak.

Namun, kemuliaan status tidak menjamin seseorang mulia di sisi Allah jika tidak diiringi ketakwaan. Hal ini ditegaskan melalui Qs.  At-Tahrim (66): 10.

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Artinya: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka),” Qs.  At-Tahrim (66): 10.

Meskipun menjadi istri Nabi, keduanya tidak terselamatkan karena tidak bertakwa. Ustazah menegaskan bahwa pesan ini berlaku bagi siapa pun, status tidak akan mengangkat derajat seseorang tanpa ketakwaan.

Larangan Berbicara dengan Nada Menggoda

Masih dalam ayat yang sama, Allah memberikan bimbingan tentang bagaimana seorang wanita muslimah menjaga kehormatan dirinya melalui cara berbicara. Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Ahzab ayat 32:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ 

Artinya: “Maka janganlah kamu melembut-lembutkan kata (dalam berbicara),” Qs. Al-Ahzab: 32.

Para ulama termasuk Imam As-Sa’di dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa melunakkan suara di hadapan lawan jenis yang bukan mahram dapat menimbulkan godaan bagi orang yang memiliki penyakit hati.

Kondisi seperti ini banyak ditemukan di media sosial saat ini, banyak ditemukan wanita muslimah tidak mampu menjaga tutur katanya.

Ustazah Sumayyah menekankan bahwa wanita tetap diperintahkan untuk berkata baik, tetapi tanpa intonasi menggoda, tidak diperlukan gestur berlebihan, senyum yang dibuat-buat, atau bahasa yang bertujuan menarik perhatian, bahkan dalam komunikasi digital dan media sosial, adab ini tetap berlaku.

Pada ayat terakhir Qs. Al-Ahzab: 32, Allah SWT memerintahkan:

وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ

Artinya: “Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” Qs. Al-Ahzab: 32

Dalam penjelasannya, Ustazah Sumayyah menyampaikan bahwa Al-Qur’an mengajarkan berbagai bentuk ucapan mulia, seperti qaulan layyina (perkataan lembut), qaulan sadida (perkataan yang lurus), hingga qaulan karima (perkataan yang memuliakan, terutama kepada orang tua). Namun, untuk konteks ayat ini, Allah memilih istilah qaulan ma’rufa—yakni ucapan yang baik, proporsional, pantas, dan sesuai adab. Bukan berlebihan, bukan merayu, bukan pula kasar atau meremehkan.

Amal, Muhasabah, dan Hikmah Pengasuhan

Dalam penjelasan lanjutan, Ustazah Sumayyah mengisahkan seorang hamba saleh yang menangis karena orang lain menilai kain tenunannya banyak cacat. Ia menangis bukan karena kehilangan pembeli, tetapi karena berpikir: jika hasil karyanya yang ia rasa sudah baik ternyata penuh kekurangan di mata manusia, maka bagaimana dengan amalnya di hadapan Allah kelak. Kisah ini menjadi pelajaran agar setiap muslim dan muslimah menilai kembali sikap, ucapan, dan interaksi selama hidup.

Sebagai penutup, Ustazah menegaskan bahwa menjaga akhlak, khususnya melalui tata cara berbicara, merupakan bagian dari penjagaan diri dan bentuk ketakwaan seorang muslimah. (VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Saksikan selengkapnya di https://www.youtube.com/live/Dk2B5yr-Kz8?si=zjP7bOkqxXJp24de 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.