Kitab: Kimia As Sa'adah
إِذَا شِئْتَ أَنْ تَعْرِفَ نَفْسَكَ، فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِنْ شَيْئَيْنِ: الْأَوَّلُ: هَذَا الْقَلْبُ، وَالثَّانِي: يُسَمَّى النَّفْسَ وَالرُّوحَ.
Anatomi diri manusia terdiri dari dua hal. Yang pertama adalah sesuatu yang disebut sebagai qalb. Bagian kedua adalah nafs/jiwa atau ruh. Qalb artinya adalah anggota badan, yang nampak di luar ataupun yang ada. tersimpan di dalam tubuh. Kebanyakan manusia kenal dengan qalbnya, kenal jasadnya,warna kulitnya, sakitnya, segala sesuatunya yang bersifat fisik.
Dalam bahasa Indonesia qalb diterjemahkan dengan hati namun dalam bahasa tazkiyatun nafs, ilmu makrifat atau istilah tasawuf maka qalb sama dengan ruh, tidak terkait dengan jasad.
النَّفْسُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي تَعْرِفُهُ بِعَيْنِ الْبَاطِنِ، وَحَقِيقَتُكَ الْبَاطِنِ؛ لِأَنَّ الْجَسَدَ أَوَّلٌ وَهُوَ الْآخِرُ، وَالنَّفْسَ آخِرٌ وَهُوَ الْأَوَّلُ. وَيُسَمَّى قَلْبًا.
Nafs atau jiwa adalah hati (qalb) yang diketahui dengan mata batin, hakikat diri adalah yang batin, jasad adalah awal tetapi akhir sedang jiwa dan ruh adalah akhir tetapi hakikatnya awal, dan disebut sebagai qalb/ hati.
Yang batin adalah hakikat diri kita. Jasad memang yang pertama mendapatkan informasi dari mata dan telinga. Mata dan telinga dahulu yang menerima kemudian disampaikan kepada hati dan hatilah yang akan mengolahnya. Hatilah yang akan membuat keputusan terhadap segala informasi yang didapatkan dari indera. Nafsu terakhir mendapat informasi, tetapi dia yang pertama di sisi Allah
Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa Allah tidak menatap tampang kalian, bukan tampilan zahhir yang menjadi standar di sisi Allah. Dalam kehidupan manusia, penampilan zhahir kadang membuat mata terbelalak atau langsung memunculkan rasa tidak suka, namun di sisi Allah itu bukan sebagai timbangan.
Hal yang dilihat Allah adalah hati dan amal perbuatan. Walaupun nafs terakhir dalam interaksi dengan sesama manusia atau dalam menerima informasi yang didapatkan dalam kehidupan dunia, namun dialah sesungguhnya yang pertama kali berhadapan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia terakhir akan tetapi sebenarnya yang pertama.
وَلَيْسَ الْقَلْبُ هَذِهِ الْقِطْعَةَ اللَّحْمِيَّةَ الَّتِي فِي الصَّدْرِ مِنْ الْجَانِبِ الْأَيْسَرِ؛ لِأَنَّهُ يَكُونُ فِي الدَّوَابِّ وَالْمَوْتَى. وَكُلُّ شَيْءٍ تُبْصِّرُهُ بِعَيْنِ الظَّاهِرِ فَهُوَ مِنْ هَذَا الْعَالَمِ الَّذِي يُسَمَّى عَالَمَ الشَّهَادَةِ
Hati (Qolbu) yang dimaksud bukanlah potongan daging yang terletak di bawah dada bagian kiri, karena makna hati dengan sebagai potongan daging juga terdapat pada hewan-hewan dan bangkai. Setiap sesuatu yang dapat diindra oleh mata zhahir maka berasal dari alam ini yang disebut alam Syahadah.
Hati itu bukanlah segumpal daging yang terdapat di sebelah kiri dada kita. Qabun ataupun segumpal darah yang disebutkan sebagai mudhghah dalam hadis nabi adalah markab atau kendaraan qalb yang tidak terlihat.
Hewan ternak punya hati sama seperti manusia, bentuk dan warnanya mirip. Mayat yang dia miliki hanya gumpal darahnya saja, tetapi yang tersembunyi ataupun hakikat batinnya sudah tidak ada.
وَأَمَّا حَقِيقَةُ الْقَلْبِ، فَلَيْسَ مِنْ هَذَا الْعَالِمِ، لَكِنَّهُ مِنْ عَالَمِ الْغَيْبِ؛ فَهُوَ فِي هَذَا الْعَالَمِ غَرِيبٌ،
Tetapi hati yang dimaksud sebagai hakikat diri kita itu bukan dari alam ini, akan tetapi dia dari alam lain yang ghaib. Dan dia di alam dunia ini adalah sesuatu yang asing dan pendatang.
Hal iini terlihat dari kisah Nabi Adam ‘alaihi as-salam, pada proses diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala ketika masih berupa jasad, belum ditiupkan ruh atau qalb. Ketika ruh belum ditiupkan, Allah tidak perintahkan kepada malaikat yang ada saat itu tu untuk memberikan sujud hormat.
Namun ketika ruh sudah ditiupkan, Allah berfirman, “Kalau seandainya sudah Aku sempurnakan penciptaannya dan setelah aku tiupkan ruhku ke dalamnya maka tunduklah kalian bersujud kepadanya,” Jadi ruh itulah yang menjadi hakikat diri manusia.
Manusia datang dari tanah, kemudian dikuburkan ke dalam tanah dan kemudian menjadi tanah kembali. Berasal dari tanah, makan dari sarip saripati dan kembali ke tanah. Apakah ketika manusia sudah mati kembali ke tanahvsudah tidak ada?
Manusia masih tetap ada. Hanya saja hakikat dirinya berpindah ke alam lain. Sedangkan jasad adalah sebagai kendaraan agar ruh sebagai hakikat diri bisa hidup di dunia untuk melewati ujian-ujian, melewati berbagai macam tabiat kehidupan yang diujikan selama kita hidup di dunia.
Menurut Imam Alghazali, ، وَتِلْكَ الْقِطْعَةُ اللَّحْمِيَّةُ مُرَكَّبَةٌ، sesungguhnya segumpal daging atau segumpal darah itu adalah kendaraannya. Kalau seandainya tidak memiliki kendaraan atau wadah maka tidak ada tempat baginya dan tidak akan bisa tinggal di dunia. Untuk bisa hidup di dunia, menjalankan aktivitas perintah Allah dia membutuhkan tempat.
Kendaraan hati itu adalah jasad. Selanjutnya ، وَكُلُّ أَعْضَاءِ الْجَسَدِ عَسَاكِرُهُ وَهُوَ الْمَلِكُ، dan seluruh anggota tubuh adalah prajuritnya. Kalau hati mengatakan,”Lihatlah itu,” maka mata akan melihat. Bila hati mengatakan, "Wahai tangan, pegang itu," maka tangan akan memegang.
Jika hati kita mengatakan kepada kaki untuk melangkah, maka dia akan melangkah. Ketika hati tidak mengatakan apa-apa, tidak menurunkan perintah kepada jasad, maka raga tidak akan melakukan apa-apa.
Hati harus diperhatikan, kotorannya dibersihkan, penyakit-penyakitnya diobati agar selalu sehat. Doa Nabi Ibrahim ‘alaih as-salam, "Ya Allah, janganlah Engkau rendahkan aku, pada hari Engkau bangkitkan manusia. Pada hari di mana pada hari itu tidak akan ada lagi gunanya harta dan anak keturunan kecuali orang-orang yang datang kembali kepada Allah dengan qalbun salim, hati yang sehat.”
Hati yang ketika sakit selalu diobati, kesehatannya terus dijaga. Penyakit hati semisal angkuh, sombong, iri dengki dan segala macamnya harus diobati agar dapat kembali kepada Allah dengan hati yang sehat, sebagai orang yang akan beruntung. Hati itu adalah raja pada diri kita, bukan hanya tubuh kita.
Kemudian وَمَعْرِفَةُ اللَّهِ وَمُشَاهَدَةُ جَمَالِ الْحَضْرَةِ صِفَاتُهُ، , dan karakternya atau kecenderungannya adalah mengenal Allah. Mengenal Allah bukan dengan mata dan telinga namun dengan hati, ruh atau jiwa kita. Menyaksikan keindahan atau kemahaindahan hadrah ilahiah adalah sifatnya atau karakternya.
Maka orang yang jauh dari Allah, tidak punya hubungan dengan Allah, gelisah hatinya. Dan orang yang jauh dari Allah dan gelisah hatinya ini, mungkinkah mendapatkan kebahagiaan?
Yang dicari manusia di dunia ini adalah bahagia, bahagia dunia dan bahagia di akhirat. Kalau seandainya tak bisa bahagia di dunia, minimal di akhirat, kalau bisa kedua-duanya. Orang yang hatinya selalu gelisah karena tidak kenal Allah, tidak pernah berkomunikasi dengan Allah, maka bagaimana mungkin mendapatkan kebahagiaan?
Orang-orang yang sudah tersohor, kaya raya dan semacamnya, banyak memiliki kekosongan hati. Bila kemudian sebagian dari mereka ada yang Allah berikan karunia, ditunjukkan jalan hidayah, mengenal Allah, maka akhirnya mendapatkan kebahagiaan dunia dan juga kebahagiaan batin. Karena Allah izinkan untuk mengenal diri-Nya dan untuk menyaksikan keindahan-keindahan-Nya.
Sebenarnya perintah Allah diturunkan kepada hati. Shalat, perintah pertamanya adalah kepada hati, mau atau tidak mengerjakan perintah. Bila mau, maka itulah yang diminta oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Tetapi bila tidak mau, walaupun dalam kondisi sakit, lemah, maka lemah dan sakit tidak akan dianggap oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai alasan.
Tetapi seandainya hati mau taat, tunduk kepada Allah, ketika sanggup untuk berdiri, shalat dilaksanakanberdiri. Bila tak sanggup, maka sambil duduk, tidak sanggup duduk, maka dilaksanakan sambil berbaring. Bial tidak sanggup cukup menggerakkan anggata tubuh sambil berbaring atau cukup dengan isyarat saja. Kalau sudah tidak sanggup juga dengan isyarat, Allah tidak meminta lagi. Dari in terlihat antara orang yang mau dengan hatinya dengan orang yang tidak mau.
Maka taklif yang pertama itu adalah kaitannya dengan hati. Karena hati yang dikhitab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Ujian sebenarnya juga adalah terkait dengan hati. Jadi taklif dan ujian sasarannya adalah hati. Ketika orang diuji sebenarnya yang diuji bukan fisiknya tetapi hatinya.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.