KH. Rifki Ramdani, Lc, MA
Kitab Nubuwwah
فصل في أخلاق سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وصفاته
Imam Nawawi menyebutkan bahwa hadis yang tersebar di seluruh penjuru dunia pada saat ini, baik itu di mana pun berada tanpa pengulangan, jumlahnya ada 50.000 hadis,Adapun hadis yang menceritakan tentang ibadahnya baginda Nabi seperti salat, zakat, puasa itu hanya 5.000 hadis. Sedangkan 45.000 hadis itu bercerita tentang akhlak dan etika yang diajarkan oleh Islam, yang diajarkan oleh Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka dari riset ini kita bisa mengetahui bahwasanya narasi utama dan narasi besar daripada ajaran Islam yang diajarkan oleh baginda Nabi adalah tentang akhlak.
Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah sebaik-baiknya manusia yang pernah dilahirkan bagi umat manusia. Beliau disifati dengan khair ummatin ukhrijat linnas, sebaik-baiknya umat yang pernah lahir di muka bumi ini adalah umatnya, baginda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah menyatakan di sebuah hadis, bahwa antara saat beliau diutus menjadi bagi menjadi nabi dan hari kiamat seperti ini jaraknya seperti antara jari telunjuk dan jari tengahnya yang dirapatkan. Artinya secara tidak langsung menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan nabi dan rasul terakhir yang diutus kepada umat manusia yang diutus pada seluruh alam semesta sebelum datangnya hari kiamat.
Rasulullah menyampaikan kabar gembira bahwasanya umat beliau akan berada di bawah naungan kebaikan sampai pada hari kiamat. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa kelak di akhir zaman Islam itu akan datang sebagai agama yang yang garib. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim).
Gharib itu adalah yang baru kelihatannya, sebagaimana awal-awal Islam. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyampaikan di sebuah hadis,
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).
Di akhir zaman ini yang senantiasa bersabar dan berpegang teguh pada ajaran baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang yang spesial, adalah orang-orang yang luar biasa, ada orang-orang yang insyaallah akan senantiasa dikenal oleh baginda Nabi. Ketika kita nanti di Padang Mahsyar, ketika kita nanti di akhirat, maka kita akan dibawa oleh Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam menjadi umatnya yang terdepan. Beberapa sifat utama Nabi:
1. Shaddiqul Amin, Nabi dikenal penduduk Makkah sebagai orang terpercaya.
Ketika turun ayat:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ.
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. “ QS. Asy-Su’ara/26: 213.
Nabi mengumpulkan semua kaum ‘Ad dan Quraisy yang merupakan asal keturunan baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau naik ke Bukit Safa, Nabi mengatakan, "Andai saja aku mengatakan kepadamu bahwa di balik gunung itu ada kuda yang hendak untuk menyerang kamu, apakah kamu akan percaya?" Orang Quraisy pada saat itu menjawab,” Ya, pasti kami percaya karena kamu tidak pernah berkata kecuali hanya kejujuran.”
Sifat jujur dan amanah, inilah yang harus kita miliki sebagai umat beliau. Karena mengaji tentang baginda nabi, bukan hanya kita mengaji tentang oh beliau seperti itu ya, tidak. Tetapi mengaji tentang beliau adalah bagaimana kita mencoba untuk berakhlak seperti akhlaknya baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yakni jujur dan amanah.
Jujur dalam apa yang kita ucapkan, jujur dalam perbuatan kita, jujur dalam perangai dan perilaku kita. Inilah yang harus kita tegakkan, yang harus kita gaungkan sebagai umatnya baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yang dikatakan jujur itu bukan tentang apa yang diucapkan. Jujur secara perkataan, jujur secara perbuatan, dan jujur secara niatnya. Sifat yang pertama.
2. Menjaga dan Menyambung Silaturahim
Melalui kisah bahwa baginda Nabi setelah menerima wahyu di Gua Hira, beliau lantas berlari menemui Khadijah kemudian mengatakan kepada Khadijah bahwasanya “ Tutupliah aku dengan selimut.” Kekhawatiran yang yang amat sangat dahsyat, karena di Gua Hira Jibril datang dengan rupa aslinnya kemudian menurunkan wahyu, Maka Khadijah menjawab,
كَلَّا، أبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لا يُخْزِيكَ اللَّهُ أبَدًا؛ إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَصْدُقُ الحَدِيثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ، وتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِينُ علَى نَوَائِبِ الحَقِّ
“Tidak. Bergembiralah engkau. Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang senantiasa menyambung silaturahim, seorang yang jujur kata-katanya, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu, dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari)
Jadi sifat baginda Nabi selanjutnya yang dijelaskan oleh Khadijah adalah beliau yang senantiasa menjaga tali silaturahmi. Maka sebagai umatnya baginda Nabi, mari kita contohkan. Selain kita harus jujur juga kita harus senantiasa menjaga tali silaturahmi antar sesama. Kita mulai dari orang-orang terdekat kita, kita mulai dari orang rumah kita.
Kita mulai dari tetangga kita, warga sekitar di desa kita, dan seluruh secara nasional kita menjaga perdamaian antar sesame bangsa kita. Orang Indonesia, lintas agama, tidak hanya melihat agamanya apa, tetapi kita melihat kita sama-sama berbangsa dan bernegara satu. Dan lebih daripada itu kita sama-sama manusia yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa taala fi ahsani takqwim yang telah di yang telah diciptakan dengan sebaik-baiknya ciptaan.
3. Rasulullah SAW bersifat Amanah
Amanah dalam hal ini bukan hanya ditujukkan kepada mereka yang memiliki amanat yang besar seperti kepemimpinan, namun juga amanah bagi diri kita sendiri. Amanah kdalam menjalankan tugas sebagai umat manusia untuk menjadi khalifah fil ardhi, menjadi penjaga alam semesta ini. Amanah dalam menjalankan ibadah. Amanah adalah juga tentang bagaimana menjaga diri dan keluarga kdari siksa api neraka.
Syekh Ali Jum’ah mencontohkan tentang amanah Nabi sebagai pedagang. Baginda Nabi ketika berdagang ke tanah Syam. Amanah yang diberikan bukan hanya untuk menguntungkan diri sendiri, tetapi untuk menguntungkan banyak orang. Amanah yang bukan hanya ditujukan untuk keuntungan pribadi, tetapi juga untuk bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ini amanah yang diajarkan oleh baginda Nabi sallallahu alaihiwasallam.
4. Rasulullah SAW bersifat Fathanah/Cerdas.
Cerdas itu berbeda dengan pintar. Cerdas adalah mampu memanfaatkan ilmu yang kita miliki untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Orang pintar yang memiliki banyak, tetapi yang memanfaatkan ilmu pengetahuannya tidak banyak. Bukan hanya mampu memanfaatkan bagi diri dia sendiri, tetapi mampu bermanfaat bagi orang lain. Inilah fatanah yang diajarkan oleh baginda Nabi, yang dimiliki oleh baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam.
5. Sifat-sifat Rasulullah dalam Taurat dan Injil: Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Pernah suatu ketika Rasulullah sedang berdagang dengan Sayyidina Umar radhiallahu ‘anhu. Kemudian datang seorang Yahudi, ulama di agamanya. Kemudian dia mengatakan bahwasanya, "Aku telah menemui semua sifat-sifat kenabian akhir zaman ada pada diri Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi satu sifat yang harus aku periksa langsung apakah benar ada pada diri Nabi Muhammad. Sifat itu adalah semakin kita bersifat buruk padanya, maka dia semakin baik. Itu lah sifat Nabi akhir zaman.”
Datanglah kepada baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ketika datang, dia membeli sejumlah kurma. Kemudian dia berkata, "Ya Muhammad, kurma yang aku beli ini antarkan kerumahku sepekan setelah ini." Selesai akad Yahudi kemudian pulang. Karena ingin menguji Nabi, Yahudi ini datang 3 hari lebihawal dari persetujuan.
Tiba-tiba dia datang kemudian langsung memegang leher Nabi dan mencaci maki, "Wahai Muhammad, keturunan pembohong, keturunan pendusta, keturunan orang yang tidak amanah. Mana kurmaku?" Sayidina Umar hendak mengangkat pedangnya ingin menebas leher orang tersebut. Nabi bersabda, “Janganseperti itu ya Umar!”.
Nabi SAW bersabda: “Sabarlah wahai pembeli. Mintalah hakmu dengan cara yang benar, maka aku akan memberikanmu juga dengan cara yang benar.”
Kemudian Nabi memerintahkan Umar kembali untuk membawa Yahudi ini ke tempat penyimpanan kurma. Kemudian memerintahkan Umar untuk menambah sejumlah seperti yang dibeli dan lalu ditambahkan lagi sehingga mencapai tiga kali lipat jumlah yang dipesan. Sayidina Umar dengan orang Yahudi menuju tempat kurma.
Yahudi terperangah dan bertanya,” Apa ini ya Umar?” Jawab Umar, “ Inilah perintah dari baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Satu bagian hakmu dan dua bagian lain adalah hadiah untukmu.” Maka seketika Yahudi itu bersyahadat masuk kedalam Islam.
Yahudi itu bertanya, "Kamu kenal aku ya Umar? Aku adalah Zaid bin Sa'nah." Zaid bin Sa'nah adalah tokoh Yahudi yang amat sangat terkenal yang pandai dan cerdas menguasai kitab-kitabnya. Dia bersyahadat bukan karena kekerasan, namun karena kebaikan akhlak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Islam dikenal oleh umat di seluruh penjuru dunia sebagai agama yang menjunjung tinggi moralitas, akhlak mulia, etika dan adab. Islam dikenal dari kelembutan, keramahannya dan penuh kasih sayangnya.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.