Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam setiap ajaran agama, kita selalu diajarkan tentang makna lahiriah atau eksoterik dari berbagai ibadah dan amalan. Namun, seringkali tersimpan makna batiniah atau esoterik yang lebih dalam, yang dapat membawa kita pada pemahaman yang lebih kaya dan tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Kali ini, kita akan menyelami makna esoterik yang tersembunyi di balik amalan sedekah yang mulia.
Kita semua tentu memahami bahwa sedekah adalah ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan, sedekah dapat dianggap sebagai pintu gerbang yang mengantarkan seorang mukmin menuju derajat muhsin.
Seorang muhsin tidak hanya saleh secara individual, namun juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Ia tidak hanya fokus pada ibadah ritual (mahdah) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi juga aktif dalam berbuat kebaikan kepada orang lain. Dan salah satu bentuk kebaikan yang paling mendasar dan mudah untuk kita lakukan adalah bersedekah.
Al-Qur'an memberikan perhatian yang khusus terhadap amalan sedekah. Jika kita telaah Surah Al-Baqarah ayat 261 hingga 274, kita akan menemukan rangkaian 13 ayat yang secara berurutan membahas tentang sedekah. Jarang sekali Al-Qur'an mengulas satu tema dalam rangkaian ayat yang begitu panjang.
Rangkaian ayat yang panjang juga kita temukan dalam pembahasan ibadah puasa (enam ayat), namun khusus untuk sedekah, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan penekanan yang lebih mendalam.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."
Ayat ini memberikan gambaran betapa besar ganjaran yang Allah janjikan bagi orang-orang yang bersedekah di jalan-Nya. Namun, makna esoterik dari sedekah ternyata lebih dalam dari sekadar pahala yang berlipat ganda.
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah bahwa standar sedekah itu terletak pada pemberi, bukan pada penerima.
Sebagai contoh, jika kita mengetahui tetangga kita sehari-hari hanya makan tahu dan tempe, lalu kita memberikan mereka tahu dan tempe sebagai sedekah, tentu mereka akan senang karena mendapatkan makanan.
Namun, bagi kita yang terbiasa mengonsumsi makanan yang lebih baik seperti ayam, daging, atau ikan, hendaknya kita bersedekah dengan memberikan mereka makanan yang sesuai dengan standar kita, bahkan melebihi standar mereka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 267:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata (enggan). Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji."
Ayat ini dengan jelas melarang kita untuk memberikan sedekah dari harta yang buruk atau tidak berkualitas, sesuatu yang bahkan tidak kita sukai untuk diri kita sendiri.
Lalu, di manakah letak makna esoterik dari sedekah ini? Secara lahiriah, mungkin kita merasa harta kita berkurang sejumlah yang kita sedekahkan. Namun, secara hakikat, secara batiniah, nilai harta kita justru bertambah. Setiap sedekah yang kita berikan dengan ikhlas akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahkan mungkin jauh melebihi nilai materi yang kita keluarkan. Inilah makna hakiki, makna batiniah, makna esoterik dari sedekah.
Semoga pembahasan ini dapat memberikan kesadaran bagi kita semua untuk tidak ragu-ragu dalam bersedekah, sekecil apapun yang kita mampu. Ingatlah, standar sedekah itu bukan pada apa yang diterima oleh orang lain, melainkan pada kualitas terbaik yang mampu kita berikan dari apa yang kita miliki.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkahi kita semua, merahmati kita, dan senantiasa menjaga kualitas batin kita di jalan hidayah-Nya. (LULU/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.