Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Jumat Istiqlal: Semua Atas Kehendak Allah SWT (Bagian 2)

Admin 07 Nov 2024 Warta Istiqlal

(Kitab Al-Hikam Ibn ‘Athoillah Assakandary)

Oleh : KH. Bukhori Sail Attahiry, Lc., MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Thiyarah dari kata thoir artinya burung, di zaman dulu jika orang-orang ingin memulai mengerjakan sesuatu, sebelumnya dia ingin tahu, apakah yang akan dikerjakan ini baik atau buruk, kemudian mendatangi sebuah pohon yang atas pohon itu ada burung-burung banyak dan dia berteriak, misalnya dia datang dari arah utara berteriak di bawah pohon itu, kemudian dia lihat burung-burung itu terbang ke arah mana, kalau terbang ke kanan berarti isyarat baik kalau terbang ke kiri isyarat jahat atau isyarat buruk, yang demikian dilarang karena berarti tidak beriman kepada Allah subhanahu wa taala.

Adapun bagi kita yang beriman kepada Allah subhanahu wa taala sekiranya kita ingin mendapatkan petunjuk, apakah sesuatu itu baik atau buruk yang akan kita kerjakan maka kita disuruh ber-istikharah, Shalat Istikharah ada do’anya, itulah segala hal yang kita kerjakan adalah dalam rangka ‘taqarruban’ mendekat kepada Allah subhanahu wa taala.

Dalil Shalat Istikharah disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Kitab Al-Adzkar, karya Imam An-Nawawi melalui sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Jabir bin Abdillah berkata:

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami (para sahabat) untuk Shalat Istikharah ketika menghadapi setiap persoalan, sebagaimana beliau mengajari kami semua surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda, ‘Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat sunnah dua rakaat’ ...’’ (HR. Imam Al-Bukhari).

Maka hal apapun yang membuat kita jauh dari Allah itu dilarang, ‘sunnatullah’ kehendak Allah itu bisa berubah karena do’a-do’a yang kita panjatkan, karena kesabaran-kesabaran kita, bagaimana kita melihat Nabi Ibrahim yang dibakar ternyata api tidak membakar Nabi Ibrahim, ‘ya Nar’ wahai api ‘Kuni’ jadilah engkau ‘Bardan’ dingin, api yang biasanya panas saat itu bagi Nabi Ibrahim adalah dingin, api yang biasanya memusnahkan, bagi Nabi Ibrahim saat itu menjadi Salaman, yang menyelamatkan.

Dasarnya kita ini manusia memang berubah-rubah karena kita sadar bahwa kita diciptaan kan dari tanah yang sifatnya mudah berubah-ubah maka caranya adalah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala.

Dalam Hadits Shahih dijelaskan :

Artinya : “Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menciptakan Adam dari segenggam (tanah). Digenggamnya dari semua (jenis) tanah. Sehingga rupa anak cucu adam sebagaimana dari tanah diambilnya. Sehingga dari mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, antara putih dan hitam. Ada yang berbahagia, bersedih, buruk, baik, dan antara keduanya”.

Hal-hal apapun yang terjadi pada diri kita kita serahkan pada Allah subhanahu wata'ala untuk memperingan rasa pedihnya cobaan yang kita alami.

Allah subhanahu wata'ala menginginkan kita itu baik, kadang diawali dengan yang menurut kita tidak baik, karena itu kita mesti senantiasa berhusnudzan kepada Allah subhanahu wata'ala karena dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Artinya : Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku ...” (HR. Al-Bukhari)

Kalau kita berprasangka buruk akan terjadi juga keburukan, kalau kita optimis berprasangka baik pada Allah subhanahu wata'ala, Allah akan berikan jalan untuk kesuksesan yang harus kita lakukan adalah Ikhtiar sepanjang umur kita, karena itu tidak ada cara lain kecuali kita bersabar kepada Allah subhanahu wata'ala, dan kita sadari bahwa yang baik atau yang buruk yang kita rasakan itu adalah dari Allah subhanahu wata'ala.

Bapak Ibu sekalian mari kita perdalam iman dan takwa kita kepada Allah subhanahu wata'ala dan kita perdalam keyakinan bahwa apapun yang terjadi pada diri kita adalah kehendak Allah subhanahu wata'ala dan kita husnudzan pada Allah subhanahu wata'ala bahwa barangkali ini adalah menjadi pengantar kita untuk menjadi lebih baik, menjadi sukses di masa depan, tetap sabar, tetap beriman, bertakwa dan kita tingkatkan ibadah kita kepada Allah subhanahu wata'ala seiring kita jauhi laranganlarangan Allah subhanahu wata'ala, sehingga kita menjadi seorang yang mukmin yang bertakwa yang pasti akan diuji, tidak perlu takut karena ujian itu adalah kesempatan kita untuk kita bisa naik derajat menjadi orang yang lebih baik menjadi orang yang lebih bermanfaat menjadi orang yang sukses dunia akhirat. Wallahu ’alam. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.