Oleh: Dr. KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc. MA
Perjalanan seorang hamba dalam menggapai kualitas iman, ujian dan kesulitan tidak hanya sekedar beban, tetapi sebagai alat Allah subhanahu wa ta’ala untuk memperhalus jiwa seorang hamba-Nya. KH. Bukhari Sail Attahiri mengisi tausiyah malam jumat tentang kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah yang membahas makna ujian dan pentingnya mensyukuri nikmat Allah.
Manusia seringkali dihadapkan pada kesulitan untuk menahan kemaksiatan. Pada saat kegelapan hidup ini, seharusnya dapat menuntun seorang hamba kembali kepada Sang Pencipta. KH. Bukhari Sail mengutip Ibnu Atha’illah “Barangkali kita dihadapkan pada satu ujian. Zhulm dimaknai dengan ujian kegelapan. Seolah-olah kita harus bermaksiat karena ada situasi tertentu, untuk memberi informasi kepada kita sejauh mana derajat iman dan takwa kita kepada Allah SWT,” terang KH. Bukhari Sail.
Namun, kegelapan (zhulm) ini sebagai penguji kita, terutama berkaitan dengan hawa nafsu (syahwat), seperti keinginan menguasai harta dengan cara yang tidak halal, atau kelalaian (ghaflah) yang membuat hati tertutup dari cahaya hidayah.
KH. Bukhari Sail menjelaskan tiga kategori bagaimana seorang hambar menyikapi ujian. Pertama, ujian yang diberi dikatakan salah satu cara Allah SWT agar kita dekat kepada-Nya yang disebut Taqriban. “Jika setelah kita diuji itu kemudian kita bertobat pada Allah Subhanahu wa taala, kita semakin dekat pada Allah, maka itu taqriban,” tegas beliau.
Kedua, yaitu Ta’diban jika kita menyesal telah melakukan kemaksiatan dan merasa diri ini rendah dihadapan Allah SWT. Hal ini sebagai pelajaran agar menjadi orang yang lebih beradab, santun, dan berperasaan.
Ketiga, Thordan, apabila ujian kemaksiatan justru membuat nyaman dan ketergantungan (ta’alluq). Misalnya, kita datang ke suatu tempat maksiat dan menjadi kecanduan, hal tersebut akan menjadi tordan dan mengusir diri kita keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam kajiannya, KH. Bukhari Sail mengingatkan untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya. Karena nikmat-nikmat yang Allah SWT beri agar manusia senantiasa bersyukur dengan cara beribadah.
Bahwasanya, manusia seringkali melupakan nikmat jika masih memilikinya dan sering tidak disadari kehadirannya. Ketika nikmat Allah diambil kembali, baru terasa nilainya (idza fuqidat). Seperti dengan kehadiran orang tua yang memberi kasih sayang dan bimbingannya, namun ketika sudah tiada, seorang anak baru menyadari betapa berharganya orang tua dan tiada lagi tempat untuk mengadu.
Begitu pula dengan nikmat yang Allah berikan di Indonesia terkait hujan, terkadang kita tidak menyadari bahwa turunnya hujan merupakan rahmat. “Kita di Indonesia ini banyak air sehingga bahkan banjir-banjir, kita tidak merasa air itu kenikmatan. Tapi bagi yang di padang pasir, air seteguk itu sangat berarti,” jelas KH. Bukhari Sail.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Q.S Ibrāhīm [14]:7)
Dengan bersyukur melalui lisan, hati, dan amal perbuatan, kita mengundang keberkahan yang lebih besar selain mempertahankan nikmat yang sudah ada. Kita harus menggunakan setiap tantangan sebagai cara untuk mendekatkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.