Foto: Ahmad Hidayat

Istidraj Ketika Kenikmatan Dunia Membuat Hati Lalai

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 26 Oct 2026

Dalam kehidupan sehari-hari, keberhasilan sering kali diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, dan lancarnya urusan. Namun, dalam ajaran Islam, kenikmatan dunia tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang berada dalam keadaan yang baik. Ketika berbagai nikmat terus diperoleh sementara seseorang semakin jauh dari ketaatan dan tidak lagi menyesali perbuatannya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan introspeksi.

Dalam kajian Qabla Jumat di Masjid Istiqlal yang membahas hikmah Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menguraikan hubungan antara istidraj dan kondisi hati manusia. Pembahasan ini mengingatkan bahwa seseorang tidak seharusnya menilai kedekatannya dengan Allah SWT hanya berdasarkan kelancaran hidup dan banyaknya kenikmatan yang diperoleh.

Istidraj merupakan keadaan ketika seseorang terus memperoleh kenikmatan, sementara dirinya semakin larut dalam kemaksiatan dan kelalaian. Nikmat yang diterima dapat membuatnya merasa aman, hingga ia tidak lagi menyadari bahwa perilakunya semakin menjauh dari ajaran agama.

Seseorang, misalnya, mungkin memiliki harta yang berlimpah, karier yang baik, dan kedudukan yang dihormati. Namun, pada saat yang sama, ia terbiasa berbohong, mengkhianati amanah, mengambil hak orang lain, atau melakukan perbuatan zalim tanpa merasa bersalah. Ketika semua itu terus berlangsung tanpa adanya penyesalan, kenikmatan dunia justru berpotensi membuatnya semakin lalai.

Hal yang perlu diwaspadai bukan semata-mata banyaknya harta atau lancarnya kehidupan, melainkan sikap seseorang terhadap nikmat dan perbuatannya sendiri. Tidak setiap orang yang hidup berkecukupan sedang mengalami istidraj. Karena itu, kenikmatan dunia tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai keadaan spiritual seseorang.

Persoalan menjadi serius ketika kenikmatan membuat seseorang merasa bahwa dirinya selalu berada dalam keadaan benar. Ia menganggap keberhasilan menyembunyikan kesalahan sebagai tanda bahwa perbuatannya tidak bermasalah. Padahal, tidak adanya teguran atau hukuman yang langsung dirasakan bukan berarti suatu perbuatan dibenarkan.

Pembahasan tentang istidraj berkaitan erat dengan keadaan hati. Dalam Kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari menjelaskan salah satu tanda matinya hati melalui ungkapan berikut:

مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلَاتِ

“Min ‘alamati mautil qalbi ‘adam al-huzni ‘ala ma fata minal muwafaqat, wa tarkun nadami ‘ala ma fa‘alahu min wujudiz zallat.”

Artinya: di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan ketika kehilangan kesempatan untuk melakukan ketaatan dan tidak adanya penyesalan atas kesalahan yang telah diperbuat.

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kepekaan hati dapat dilihat dari cara seseorang menyikapi kebaikan dan keburukan. Ketika kesempatan beribadah terlewat, ia tidak merasa kehilangan. Ketika melakukan kesalahan, ia pun tidak terdorong untuk memperbaiki diri. Jika keadaan ini terus dibiarkan, seseorang dapat semakin terbiasa dengan kelalaian.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dari ungkapan tersebut. Pertama, hilangnya kepedulian terhadap kesempatan berbuat baik. Seseorang yang melewatkan salat, enggan bersedekah, atau tidak memanfaatkan kesempatan untuk belajar agama seharusnya menyadari bahwa ia telah kehilangan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesadaran ini bukan berarti seseorang harus terus-menerus larut dalam kesedihan, melainkan memiliki kepedulian untuk memperbaiki ketaatannya.

Kedua, hilangnya penyesalan setelah melakukan dosa. Rasa menyesal merupakan bagian penting dari kesadaran untuk bertobat. Ketika seseorang mampu mengakui kesalahannya, ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan yang sama. Sebaliknya, jika dosa terus dianggap sebagai sesuatu yang biasa, keinginan untuk berubah dapat semakin melemah.

Karena itu, persoalan yang perlu diwaspadai bukan hanya ketika seseorang melakukan kesalahan, tetapi juga ketika ia tidak lagi merasa perlu memperbaikinya. Kesadaran terhadap dosa dan kehilangan kesempatan berbuat baik dapat menjadi dorongan untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hati yang peka membantu seseorang membedakan antara keberhasilan duniawi dan kebaikan yang benar-benar membawa manfaat bagi kehidupannya. Seorang Muslim tidak cukup hanya merasa senang ketika memperoleh nikmat, tetapi juga perlu bertanya apakah nikmat tersebut membuatnya semakin bersyukur, bertanggung jawab, dan taat kepada Allah SWT.

Ketika berhasil meraih sesuatu, seseorang dapat menjadikannya alasan untuk meningkatkan rasa syukur dan memperbanyak perbuatan baik. Sebaliknya, ketika melakukan kesalahan, ia perlu berani mengakuinya, memohon ampunan, dan memperbaiki dampak perbuatannya terhadap orang lain.

Kesadaran tersebut penting karena manusia tidak selalu dapat menilai keadaan dirinya hanya dari apa yang terlihat. Kehidupan yang tampak lancar belum tentu mencerminkan keadaan batin yang baik. Demikian pula, menghadapi kesulitan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang sedang mendapat hukuman. Oleh sebab itu, setiap keadaan sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, bukan untuk menghakimi keadaan spiritual orang lain.

Selama masih ada penyesalan atas kesalahan dan keinginan untuk memperbaiki diri, seseorang memiliki alasan untuk terus berusaha kembali kepada jalan yang benar. Penyesalan hendaknya tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi dilanjutkan dengan tobat, perubahan perilaku, dan kesungguhan untuk tidak mengulangi kesalahan.

Pada akhirnya, pembahasan istidraj dalam kajian Kitab Al-Hikam mengajak umat Islam untuk tidak terlena oleh kenikmatan dunia. Keberhasilan bukan hanya tentang harta, jabatan, atau kelancaran urusan, melainkan juga tentang bagaimana semua itu membentuk sikap dan perilaku seseorang. Hati yang hidup akan mendorong manusia untuk bersyukur ketika menerima nikmat, merasa prihatin ketika kehilangan kesempatan berbuat baik, dan menyesali kesalahan yang telah dilakukan.

Karena itu, selama masih diberi kesempatan, setiap orang perlu menjadikan kenikmatan sebagai jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan alasan untuk merasa aman dalam kemaksiatan. Dengan menjaga kepekaan hati dan kesungguhan memperbaiki diri, nikmat yang diterima diharapkan menjadi sarana untuk bertumbuh dalam kebaikan.

Fotografer
Ahmad Hidayat

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.