Dalam rangkaian Taushiah Istighosah Malam Jum’at di Masjid Istiqlal, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan pesan mengenai hakikat istighosah, kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT (taqarrub), serta pentingnya membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs). Istighosah tidak hanya dipahami sebagai kegiatan untuk memohon pertolongan ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga menjadi momentum bagi seorang muslim untuk melihat kembali kondisi dirinya di hadapan Allah SWT.
Secara bahasa, istighosah berarti memohon pertolongan, khususnya ketika seseorang berada dalam keadaan sulit atau membutuhkan bantuan. Namun, istighosah memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memanjatkan doa agar keadaan segera berubah. Di dalamnya terdapat pengakuan seorang hamba atas keterbatasan dan ketidakberdayaan dirinya, sekaligus kesadaran bahwa pertolongan sejati hanya datang dari Allah SWT.
Karena itu, istighosah seharusnya tidak hanya diarahkan pada permintaan agar persoalan yang dihadapi segera selesai. Lebih dari itu, istighosah menjadi kesempatan untuk memperbaiki dan mempersiapkan diri. Pertolongan Allah bukan sekadar sesuatu yang diminta melalui lisan, tetapi juga perlu diiringi dengan kesiapan batin, ketulusan niat, dan sikap berserah diri kepada-Nya.
Prof. Nasaruddin Umar juga mengingatkan agar seorang muslim tidak menjadikan doa dan ibadah sebagai hubungan yang bersifat transaksional dengan Allah SWT. Jangan sampai seseorang rajin berdoa hanya ketika memiliki keinginan atau sedang menghadapi kesulitan, kemudian kembali menjauh setelah apa yang diharapkannya tercapai.
Doa dan istighosah pada hakikatnya merupakan bagian dari 'ubudiyyah, yaitu bentuk penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT. Karena itu, ibadah tidak semestinya hanya dilakukan karena mengharapkan sesuatu atau semata-mata karena takut terhadap hukuman. Pada tingkat yang lebih tinggi, ibadah lahir dari kecintaan (mahabbah) kepada Allah dan keinginan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam istighosah, dzikir dan berbagai kalimat thayyibah yang dilantunkan juga memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar pengulangan bacaan. Dzikir diharapkan dapat meresap ke dalam hati dan menghadirkan ketenangan jiwa (thuma'ninah). Ketika dzikir benar-benar memberikan pengaruh pada hati, maka seharusnya pengaruh tersebut juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, keberhasilan seseorang dalam mengikuti istighosah tidak dapat hanya diukur dari suasana haru atau banyaknya air mata yang keluar selama majelis berlangsung. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah seseorang meninggalkan majelis tersebut. Apabila seseorang masih membawa kesombongan, prasangka buruk, iri hati, atau bahkan terus melakukan kezaliman kepada orang lain, berarti nilai-nilai yang disampaikan dalam istighosah belum sepenuhnya meresap ke dalam dirinya.
Istighosah dengan demikian tidak hanya memiliki dimensi hubungan antara manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas). Melalui muhasabah, seseorang diajak untuk melihat kembali penyakit-penyakit hati yang mungkin selama ini ada dalam dirinya, seperti iri, dengki, ujub, dan riya. Membersihkan hati dari sifat-sifat tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Majelis istighosah di Masjid Istiqlal juga menjadi ruang untuk memanjatkan doa bagi keselamatan dan kebaikan bangsa. Doa untuk kedamaian, keberkahan, serta keselamatan seluruh masyarakat menjadi pengingat bahwa kesalehan tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah SWT, tetapi juga seharusnya menghadirkan kepedulian terhadap keadaan orang lain dan kehidupan bersama.
Pada akhirnya, istighosah bukan hanya tentang memohon agar Allah SWT mengubah keadaan yang sedang dihadapi. Istighosah juga menjadi momentum untuk mengubah diri sendiri. Seorang hamba datang dengan menyadari kelemahan dirinya, meluruskan niat, mendekatkan hati kepada Allah, kemudian membawa ketenangan dan nilai-nilai yang diperoleh dari majelis tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, hakikat istighosah tidak berhenti ketika doa selesai dipanjatkan. Nilai sesungguhnya justru terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupan setelahnya: semakin rendah hati, semakin bersih hatinya, semakin baik akhlaknya, dan semakin besar kepeduliannya terhadap sesama.
Ahmad Hidayat
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.