Kajian ini kita membahas dari ulama modern yaitu Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang berjudul Al-Islam alladzi Nad'u ilaih. Al Islam alladzi nad'u ilaih atau Islam yang dipahami oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi yang merupakan respon terhadap konteks di mana beliau menyampaikan pemikirannya lewat buku ini. Buku ini terbit tahun 2004, awalnya ini ceramah yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi di Qatar dalam beberapa sesi. Kemudian itu ditranskrip menjadi sebuah buku. Konteksnya, dalam rangka merespon dua kutub ekstrem. Pada tahun 1900-an awal sampai 2000 terdapat fenomena ekstremisme. Dua bentuk ekstremisme, yaitu ekstremis sekularis dan ekstremis radikalis. Radikalis ini sesungguhnya adalah paham kekakuan. Sekularisme ekstrem adalah kecenderungan banyak orang yang memahami bahwa agama sudah ketinggalan zaman, agama dianggap anti kemajuan. Ini adalah titik ekstrem yang pertama, kutub kiri.
Sedangkan kutub kanan, radikalisme atau kakuisme, kaku dalam memahami teks dan dalil. Menganggap agama harus dipahami secara tekstual, tidak ada penafsiran terhadap teks. Apa kata teks, begitulah yang dilakukan dan yang dipahami. Sesungguhnya teks yang lahir pada masa lalu memiliki konteksnya. Teks Al-Qur'an lahir pada sebuah konteks tertentu yang secara tekstual tidak bisa tiba-tiba diterapkan pada konteks saat ini. Kedua titik ekstrem ini, menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berbahaya bagi Islam dan sesungguhnya bukan Islam yang layak didakwahkan, bukan Al Islamu alladzi nad'u ilaih.
Uniknya, kedua titik ekstrem ini saling cocok satu sama lain. Kelompok sekularis ekstrem hadir karena memahami bahwa Islam atau agama pasti kaku. Karena kaku maka mereka menganggap agama itu tidak lagi relevan, tidak lagi berlaku untuk zaman saat ini. Sebaliknya, kaum radikalis menganggap semua orang sekuler, tidak mau dengan agama. Bahkan orang yang beragama pun oleh kaum radikal dianggap tidak beragama. Karena itu mereka mudah mengkafirkan orang. Jangankan orang yang tidak beragama, yang beragama saja mereka anggap tidak beragama karena kekakuan mereka melihat teks.
Dengan buku ini oleh Dr. Yusuf Qaradhawi ingin mengatakan kepada kaum sekularis, bahwa agama tidak sekaku itu. Dan kepada kaum radikal bahwa orang yang memahami teks agama tetapi tetap ikut dengan kemajuan tidak semuanya sekuler. Tetapi ada juga yang pas dengan apa yang seharusnya dan apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur`an dan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasalla dalam hadis. Bukan ekstrem kanan dan juga bukan ekstrem kiri. Secara umum buku ini hendak menawarkan fondasi bagi Islam wasatiah, moderat, jalan tengah, yang tidak ekstrem kiri dan juga tidak ekstrem kanan.
Dr. Yusuf Al-Qardawi menyampaikan sebuah definisi bahwa Islam moderat adalah Islam yang ramah, yang bersandar kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang menghargai akal pikiran manusia dan yang membawa kemudahan bagi umat manusia. Istilah beliau dalam buku ini adalah attaisir wat tabsyir, memudahkan dan memberi kabar gembira, tidak menakut-nakuti dan tidak mengancam-ancam.
Apa itu Islam rahmah? Jika ada Islam yang mengaku muslim tetapi tidak ramah kepada siapapun, kepada apapun, tidak ramah kepada manusia, tidak ramah kepada alam, maka dipastikan dia bukan penganut Islam yang moderat. Ramah artinya memberi ruang dialog bagi siapapun, tidak menolak mentah-mentah apapun, bersedia mendengar dan bersedia memahami. Kita tidak bisa menolak sesuatu sebelum mendengarkan memahami.
Islam yang bersandar kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, adalah penegasan kepada kaum radikal. Biasanya kaum radikal merasa berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunah. Islam moderat juga berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunah. Yang juga penting adalah menghargai akal pikiran manusia. Akal pikiran manusia itu berkembang, tidak statis. Apa yang dipahami orang 10-20-30 tahun lalu, seabad lalu, tidak persis sama dengan sekarang, selalu ada perkembangan. Manusia terus belajar dari kesalahan-kesalahannya dan hikmah-hikmah dari masa lalu. Karena akal itu terus berkembang manusia menemukan banyak hal-hal baru di sekeliling mereka, kemudian beradaptasi dengan hal-hal baru itu demi kemaslahatan hidup mereka. Al-Qur'an dan As-Sunah itu tidak melawan ini, bahkan menghargai dan memberi ruang bagi perubahan-perubahan, apalagi jika perubahan itu memberi kemaslahatan bagi umat manusia.
Terakhir, ciri dari Islam moderat adalah memberi kemudahan. Yassirû walâ tu’assirû, memberi kemudahan tidak memberi kesulitan dan memberi optimisme, at-tabsyir. Kita ketahui bahwa ketika kita hidup di zaman ini, kita sudah mendapat begitu banyak ancaman dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Agama apapun yang dianut manusia , ada saja ancaman-ancaman kepada yang mengganggu kehidupan dalam bentuk ekonomi, social ataupun politik. Maka Islam yang hadir haruslah Islam yang tabsyir, memberi optimisme, memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitan itu, bukan malah menambah kesulitan-kesulitan itu.
Pada halaman pertama dibuka dengan :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang nikmatnya menyempurnakan kebaikan-kebaikan”. Yang dimaksud dengan nikmat Allah menyempurnakan kebaikan-kebaikan, adalah bahwa di dalam kehidupan kita sangat banyak mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa taala. Pertanyaannya adalah, “Apakah kenikmatan itu menyempurnakan kebaikan atau malah tidak menyempurnakan kebaikan atau malah menjadikan kita tidak menjadi baik?” Ketika diberi kesehatan misalnya, bagaimana cara agar kesehatan itu menyempurnakan kebaikan? Caranya adalah kita memanfaatkan kesehatan itu untuk melakukan kebaikan-kebaikan, maka menjadi nikmat yang tatimmus shalihat. Minimal menggunakannya untuk hal-hal yang dibolehkan. Lebih tinggi lagi berbuat baik, membantu orang lain yang membutuhkan. Tetapi ada juga yang lebih rendah, yaitu nikmat sehat diisi dengan mengganggu orang lain. Yang pertama dan yang kedua tatimmus shalihat, sedangkan yang ketiga tidak.
Pendahuluan buku ini menyebut ini karena ketika ada kebaikan yang datang kepada kita, sebelum melakukan kebaikan selanjutnya yang kita lakukan adalah meyakini bahwa kebaikan itu berasal dari Allah Subhanahu wa taala. Maka in syaa` Allah kelanjutannya adalah kita melakukan kebaikan. Misalnya suatu hari tiba-tiba mendapat rezeki yang kita tidak usahakan. Kita harus meyakini bahwa ini pasti dari Allah, maka kecenderungannya kita pasti akan memanfaatkannya di jalan jalan Allah, karena berasal dari Allah. Jika kita mengatakan ini dari usaha sendiri, makake cenderungan untuk memanfaatkannya di jalan Allah, untuk kebaikan orang lain itu pasti berkurang. Berguna bagi dunia dan berguna bagi akhirat , terutama apabila bermanfaat bagi kita dan orang-orang yang dekat dengan kita, keluarga kita, kemudian lebih jauh kepada tetangga kita dan seterusnya. Kita tidak perlu terlalu berpikir jauh membantu orang jauh kalau tetangga kita masih kekurangan dan kita punya kelebihan, itu tidak islami, tidak moderat. Yang moderat adalah kita bantu yang dekat dahulu, kalau yang dekat sudah cukup, maka kita lanjutkan kepada membantu yang lebih jauh lagi.
Dari hadis Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ»، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
Dari Aisyah radhiallahu anha berkata yaitu Rasulullah. Adapun Rasulullah apabila melihat sesuatu yang beliau sukai, beliau berkata, " Segala puji bagi Allah. Mudah-mudahan nikmat yang saya lihat ini, nikmat yang saya rasakan ini bisa menyempurnakan kebaikan-kebaikan atau bisa saya bawa untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan. Jika Rasulullah melihat yang beliau tidak sukai atau mengalami yang beliau tidak sukai, bersabda: alhamdulillahi ala kullial. Jadi walaupun tidak suka tetap Alhamdulillah, karena Allahlah penentu segala hal, segala sesuatu. HR. Ibnu Majah.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.