Foto: Dok. Media Istiqlal

Hawamisy Istiqlal: Memahami Hakikat Hati, Kebahagiaan Sejati, dan Sumber Pengetahuan Batin

14 Sep 2026

Kitab Kimia As-Sa’adah karya Imam Al-Ghazali

Oleh: Dr. KH. Kopri Nurzen, Lc., M.A.

Perasaan bahagia merupakan dambaan setiap insan. Namun, tidak sedikit manusia yang salah dalam memposisikan letak kebahagiaan sejati. Banyak orang yang menganggap bahwa kenikmatan hidup berada pada indra penglihatan atau pendengaran semata.

Dalam kajian Dialog Zuhur di Masjid Istiqlal yang membedah kitab Kimia As-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan) karya Imam Al-Ghazali, Dr. KH. Kopri Nurzen, Lc., M.A. mengajak jemaah untuk memahami bahwa kunci utama kebahagiaan dan pusat keberadaan manusia bukanlah terletak pada indra fisik, melainkan pada hati (qalb) dan ruh.

Hakikat Kehidupan dan Keindahan Indrawi

Secara kasatmata, kenikmatan sering dipahami berasal dari indra, seperti mata yang melihat pemandangan indah atau telinga yang mendengarkan alunan suara merdu. Namun, KH. Kopri Nurzen menjelaskan bahwa indra tersebut hanyalah sebagai media perantara.

Indra mata dan telinga tidak merasakan kebahagiaan itu secara langsung. Perasaan bahagia atau tenang sesungguhnya dirasakan oleh hati yang menerima pesan atau informasi dari indra tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami keterbatasan fisik (seperti tuli atau buta) tetap dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan batin yang jauh lebih dalam melebihi orang yang berindra sempurna, sebab hatinya senantiasa terhubung kepada Allah SWT.

Hati Berasal dari Alam Malakut

Merujuk pada penuturan Imam Al-Ghazali, KH. Kopri Nurzen menyampaikan bahwa di dalam diri manusia terdapat bisikan atau petunjuk batin (ilham) yang datang tanpa melalui jalur indra. Hal ini dapat terjadi karena hati manusia pada hakikatnya berasal dari alam malakut (alam gaib/langit), sedangkan indra fisik diciptakan khusus untuk berinteraksi dengan alam dunia.

Diciptakannya fisik dan dilimpahkannya ruh ke dalam jasad manusia telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an ketika penciptaan Nabi Adam A.S.:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 29 / QS. Sad: 72)

Berdasarkan ayat tersebut, inti keberadaan manusia terletak pada ruh. Tubuh fisik hanyalah wadah sementara, sebagaimana jantung fisik di dalam dada hanyalah tempat bagi hati spiritual yang bersifat metafisik.

Sumber Pengetahuan Batin dan Kesadaran

Pengetahuan yang masuk ke dalam hati manusia melalui dua jalur utama:

  1. Jalur Kesadaran (Indrawi): Pengetahuan empiris yang diperoleh melalui proses membaca, melihat, dan mendengar.
  2. Jalur Bawah Sadar (Ilham/Ruhani): Petunjuk spiritual yang ditanamkan Allah secara langsung ke dalam hati.

Ciri utama orang bertakwa adalah memercayai hal-hal yang gaib atau metafisik, sebagaimana firman Allah SWT:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Pengetahuan batin ini tidak hanya tersingkap saat tidur melalui mimpi yang benar atau ketika kematian tiba. Orang-orang yang bertakwa dan mampu menundukkan hawa nafsunya saat terbangun pun dapat memperoleh firasat atau cahaya petunjuk dari Allah SWT.

Menyiapkan Bekal Sebelum Singkapnya Hijab Kematian

Banyak manusia yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar kesenangan indrawi dan duniawi yang berbatas. Padahal, saat kematian menjemput, seluruh kesadaran fisik akan terputus dan kesadaran hakiki baru akan terbuka.

Allah SWT berfirman mengenai momen tersingkapnya penutup kesadaran tersebut:

لَّقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menyelimuti) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaf: 22)

Ketika kematian menghampiri, manusia baru menyadari betapa sedikitnya amal kebajikan yang mereka miliki. Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan agar hamba-Nya segera berinfak dan beramal saleh sebelum ajal tiba:

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?'” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Oleh karena itu, KH. Kopri Nurzen mengutip salah satu ungkapan hikmah ulama sebagai pengingat mendalam bagi jemaah:

"مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا"

(Muutuu qabla an tamuutuu)

"Matilah kalian sebelum kalian mati."

Ungkapan ini bermakna bahwa setiap manusia hendaknya menanamkan kesadaran penuh bahwa tujuan hidup di dunia hanyalah untuk mempersiapkan kehidupan abadi setelah kematian. Kesenangan duniawi hendaknya dijadikan sarana ibadah, sebab kebahagiaan sejati manusia di dunia adalah ketika ia berhasil mempersiapkan perbekalan terbaik sebelum ajalnya tiba.

Peringatan Terhadap Bahaya Ghibah dan Luasnya Ampunan Allah

Dalam sesi tanya jawab, KH. Kopri Nurzen menegaskan pentingnya menjaga lisan dari perbuatan menggunjing (ghibah). Ghibah merupakan dorongan hawa nafsu yang dapat merusak pahala amal ibadah seseorang.

Mengenai ancaman bagi orang yang suka menggunjing, Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadis sahih mengenai golongan orang yang bangkrut (al-muflis):

Hadis Sahih:

Dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta benda.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun, ia datang dalam keadaan pernah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka kebaikannya diberikan kepada si ini dan si ini. Apabila kebaikannya telah habis sebelum terbayar kewajibannya, maka diambil dari dosa-dosa mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

Kendati demikian, bagi siapa saja yang terlanjur bergelimang dosa dan merasa putus asa, pintu taubat Allah senantiasa terbuka lebar. Allah SWT berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)


 

Melalui pemaparan kajian ini, umat Islam diimbau untuk tidak hanya berfokus pada kenikmatan indrawi yang fana, melainkan senantiasa merawat dan memberi asupan gizi spiritual bagi hati melalui zikir, ibadah, dan pembersihan diri dari hawa nafsu. Sebab, hati yang sehat merupakan cermin kebahagiaan sejati di dunia hingga akhirat kelak. (ASMA/Media dan Humas Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.