Oleh : Dr. Budi Utomo, MA.
Allah Menundukkan alam semesta untuk melayani kepentingan manusia. Manusia dipilih sebagai khalifah, pemimpin dan pengelola bumi. Alam tunduk bukan karena manusia kuat, melainkan karena perintah Allah agar manusia dapat bertahan hidup, beribadah, dan mengelola bumi dengan baik. Diantara ayat Al-Qur'an yang mewakilinya:
اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةًۗ
"Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin..." QS. Luqman/31: 20.
Manusia diciptakan dengan tugas utama untuk beribadah. Rezeki adalah fasilitas dasar dari Allah agar manusia bisa menjalankan tugas. Seperti perusahaan yang mengirim karyawan untuk dinas, perusahaan menanggung seluruh biaya operasionalnya. Allah yang memerintahkan ibadah, Allah pula yang menjamin kebutuhan hidup makhluk-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS. Az-Zariyat: 56:
Selain di ayat Az-Zariyat/51: 58 yang menyatakan "Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya dan Dia memiliki kekuatan yang sangat kokoh," QS. Al-An'am/6: 151 dan Al-Isra/17: 31 menyebutkan, “Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” Mencari nafkah bagian dari ibadah, kerja jujur dan halal menjadi sarana untuk menjaga tubuh agar kuat bersujud kepada Allah. Manusia tidak perlu merasa cemas, stres, atau menghalalkan segala cara demi mencari rezeki. Hendaklah setiap hamba menghindari terbaliknya prioritas hidup. Menghabiskan seluruh waktu dan tenaga untuk mengejar hal yang sudah dijamin (rezeki) dengan melalaikan ibadah yang dituntut merupakan tanda hilangnya kecerdasan spiritual.
Berbagai keistimewaan yang dimiliki manusia semata-mata karena rahmat Allah yang begitu luas. Keistimewaan itu digambarkan Al-Qur`an:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ٧٠
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” QS. Al-Isra/17: 70.
Ini penegasan langsung dari Allah bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kemuliaan khusus. Kemuliaan yang mencakup pemberian akal, bentuk fisik yang ideal, serta kemampuan menguasai bumi. Ayat ini menjadi dasar utama mengapa manusia memiliki posisi yang sangat istimewa di alam semesta, bahkan jika dibandingkan dengan jin dan malaikat.
Secara asal penciptaan, malaikat mulia karena tidak pernah bermaksiat. Namun, manusia memiliki potensi untuk menjadi lebih mulia dari malaikat. Malaikat taat karena tidak memiliki nafsu, sedangkan manusia harus berjuang melawan nafsu dan setan untuk taat. Ketika manusia berhasil taat, derajatnya meninggi, sebagaimana ketika Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud sebagai penghormatan kepada Nabi Adam ‘alaihi as-salam.
Manusia diciptakan sebagai khalifah yang memimpin di bumi, sedangkan jin tidak. Secara tingkatan beban syariat, rasul-rasul diutus dari kalangan manusia untuk seluruh alam, termasuk untuk bangsa jin. Oleh karena itu, secara umum derajat mukmin dari kalangan manusia lebih tinggi daripada mukmin dari kalangan jin.
Kisah Nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam adalah bukti nyata kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia untuk memimpin makhluk lain. Nabi Sulaiman mampu memerintahkan bangsa jin untuk bekerja membangun berbagai bentuk tiga dimensi, menyelam mencari mutiara, hingga membuat bangunan.
Saat sayembara memindahkan tahta Ratu Balqis, jin Ifrit menawarkan diri memindahkannya sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam berdiri dari tempat duduknya. Namun, seorang manusia yang memiliki ilmu dari Al-Kitab mampu memindahkannya lebih cepat, hanya dalam sekejap mata. Ini bukti nyata bahwa dengan ilmu manusia bisa mengungguli kekuatan fisik makhluk lain.
Ketika makhluk-makhluk di alam nyata dan di alam ghaib sudah ditundukkan Allah untuk manusia, sungguh ironis jika manusia justru ditundukkan dan diperbudak oleh dunia maya: media sosial, game, dan kecanduan internet. Dunia maya, dunia yang diciptakan oleh daya imajinasi manusia sendiri sering kali melalaikan manusia dari tugas utamanya sebagai khalifah dan hamba Allah. Bagaimana mungkin manusia terpedaya dunia, sementara Allah telah memberitakan:
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٣٢
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" QS. Al-An'am/6: 32.
Ya Allah, jangan jadikan kami terpedaya dunia nyata ciptaan-Mu dan dunia maya imajinasi kami sendiri. Jangan lalaikan kami dari tugas utama sebagai khalifah dan hamba-Mu. Aamiin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.