Foto: Dok. Media Istiqlal

Bukan Popularitas, Ini Cara Meraih Kebahagiaan Sejati dalam Islam

24 Aug 2026

Kajian Kitab "Is'af Thalibi Ridhal Khalaq" karya Al-Habib Umar bin Hafidz

Oleh: KH. Zia Ul Haramein, Lc, M.Si

Di tengah tingginya dinamika kehidupan modern, manusia sering kali disibukkan oleh pencarian validasi, pengakuan, dan popularitas pribadi. Banyak energi dihabiskan demi membangun citra diri di hadapan orang lain. Padahal, Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak dilihat dari seberapa populer dirinya, melainkan dari seberapa besar manfaat dan kedamaian yang bisa ia hadirkan bagi lingkungan sekitar. 

Dalam program kajian Hawamisy di Masjid Istiqlal, KH. Zia Ul Haramein membedah petuah berharga dari kitab Is'af Thalibi Ridhal Khalaq karya Al-Habib Umar bin Hafidz. Kajian ini menyoroti pentingnya sikap idkhalus surur (membahagiakan batin orang lain) serta bagaimana amalan sederhana tersebut dapat menjadi sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sekaligus pembuka kedamaian hidup di dunia dan akhirat. 

Korelasi Antara Istiqamah dan Kedamaian Jiwa

Kiai Zia Ul Haramein mengingatkan bahwa pengakuan iman atau ucapan tauhid harus dibuktikan melalui ketaatan yang konsisten (istiqamah). Dari sikap istiqamah inilah, Allah SWT memberikan jaminan ketenangan jiwa. Hal ini berlandaskan pada firman Allah SWT dalam Surah Fussilat ayat 30:

  إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ  

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" (QS. Fussilat: 30)

Melalui ayat tersebut, ditegaskan bahwa istiqamah membebaskan jiwa manusia dari dua ketakutan utama, yaitu rasa cemas (alla takhafu) terhadap masa depan dan rasa sedih mendalam (wala tahzanu) atas peristiwa masa lalu. 

Membahagiakan Sesama sebagai Buah Sifat Rahmah

Apabila sifat istiqamah dan kasih sayang (rahmah) telah tertanam kuat di dalam hati, hal tersebut akan membuahkan dorongan tulus untuk melakukan idkhalus surur atau menghadirkan kebahagiaan bagi sesama. 

Seseorang yang memiliki kelapangan batin tidak akan membiarkan beban pikiran atau emosi negatifnya merusak suasana hubungan sosial. Niat utamanya adalah mengharapkan keridaan Allah SWT agar Dia memberikan kelapangan dan kebahagiaan dalam seluruh fase kehidupannya—saat hidup di dunia, ketika maut menjemput, maupun pada kehidupan setelah kematian. 

Keutamaan amalan ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih riwayat At-Thabrani:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim." (HR. At-Thabrani)

Beliau juga menambahkan riwayat sahih lainnya dari At-Thabrani mengenai balasan bagi orang yang menyenangkan saudaranya:

مَنْ لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بِمَا يُحِبُّ لِيَسُرَّهُ بِذَلِكَ سَرَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa bertemu dengan saudaranya sesama muslim dengan membawa sesuatu yang disukainya untuk membahagiakannya, maka Allah akan membahagiakannya pada hari kiamat." (HR. At-Thabrani)

Penerapan Idkhalus Surur di Era Modern

Dalam tinjauan tasawuf, membahagiakan orang lain merupakan bentuk penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mengikis sifat egois. Di era modern, membahagiakan orang lain tidak selalu diukur dengan materi atau pemberian barang mewah. Beberapa bentuk amalan sederhana yang berdampak besar antara lain:

  • Menjadi Pendengar yang Baik: Menyediakan waktu dan perhatian tulus untuk mendengarkan keluh kesah kawan atau keluarga di tengah maraknya fenomena gangguan kesehatan mental.
  • Menjaga Penampilan dan Sikap: Hadir dengan wajah berseri-seri, senyuman tulus, serta pakaian yang rapi agar menyenangkan bagi siapa saja yang memandang. 
  • Melapangkan Suasana dan Menutup Aib: Memaafkan kekhilafan orang lain, meluaskan tempat duduk di majelis, serta menjaga dan menutup rapat keburukan saudara sesama muslim.

Menjadi Penyejuk Lingkungan

Di akhir kajiannya, Kiai Zia Ul Haramein mengajak jamaah untuk mengubah sudut pandang dalam berinteraksi. Alih-alih sibuk mengejar validasi dan pujian publik, seorang mukmin hendaknya berfokus menjadi penyejuk yang menghadirkan kedamaian. Kebahagiaan kecil yang diukir pada hati orang lain secara tulus bisa jadi merupakan jalan dibukanya pintu-pintu kemudahan serta dikabulkannya doa-doa kita oleh Allah SWT. 

Saksikan selengkapnya di sini. (ASMA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.