Oleh: Dr. Budi Utomo, Lc, MA
Haditsul Ifki, berita bohong di era digital adalah evolusi dari fitnah klasik yang kini menggunakan framing jahat melalui manipulasi algoritma dan konten media sosial untuk menghancurkan reputasi seseorang tanpa membutuhkan fakta.
Jika dahulu fitnah Aisyah rahiyallahu ‘anha menyebar melalui lisan ke lisan oleh kaum munafik, saat ini "Haditsul Ifki modern" bekerja lebih cepat dan masif melalui framing pada konten media sosial. Framing ini tidak berfokus pada kebenaran, melainkan pada pembentukan narasi negatif terhadap target tertentu guna memicu prasangka publik.
Informasi yang tidak terverifikasi dapat menjadi viral dalam hitungan detik, menciptakan penghakiman massa sebelum klarifikasi dilakukan.Sering kali melibatkan pelanggaran etika jurnalistik atau penggunaan potongan video/gambar tanpa konteks seperti pada kasus media yang mem-framing tokoh agama untuk menciptakan kesan buruk.
Di era digital ini banyak sekali manusia memanipulasi data digital dengan memotong-motong sampai mengeditnya dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence. Fenomena manipulasi data digital menggunakan teknologi kecerdasan buatan telah mencapai tingkat kecanggihan yang mengkhawatirkan di tahun 2026.
Teknologi seperti deepfake telah beralih fungsi menjadi senjata canggih untuk menyebarkan disinformasi, memanipulasi opini publik, dan melakukan kejahatan siber. Di tengah maraknya manipulasi AI, masyarakat diharapkan untuk selalu memverifikasi informasi melalui kanal resmi dan tidak langsung memercayai konten visual atau audio yang mencurigakan.
Rasa lelah secara mental karena harus terus-menerus skeptis itu nyata sehingga muncul Truth Decay. Truth Decay, Kemerosotan Kebenaran adalah berkurangnya ketergantungan pada fakta dan analisis dalam kehidupan publik, yang ditandai dengan meningkatnya ketidaksepakatan atas fakta objektif, kaburnya batas antara opini dan fakta, serta menurunnya kepercayaan pada institusi sumber informasi terpercaya.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan era post-truth. Sebagaimana makna “fitnah lebih kejam dari pembunuhan,” efek membunuh orang berkali-kali menggambarkan betapa jahatnya teknologi informasi ini, yang bisa berkali-kali membunuh karekter seseorang.
Ada tiga alasan mengapa kerepotan untuk memverifikasi berita sanagat berat:
1. Ketimpangan Kecepatan
Membuat konten manipulasi dengan AI cuma butuh hitungan detik, sementara memverifikasi kebenarannya bisa memakan waktu berjam-jam, berhari-hari atau lebih, itupun belum tentu efektif.
2. Beban Kognitiff
Otak dipaksa bekerja ekstra keras untuk tidak langsung percaya pada apa yang dilihat dan didengar, ini cepat membuat kelelahan secara informasi.
3. Hilangnya Bukti Absolut
Di masa lalu, foto atau video adalah bukti pamungkas. Saat ini, pelaku kejahatan yang asli pun bisa membela diri dengan alasan, "Itu bukan saya, itu hasil editan AI."
Mari belajar memahami keadaan orang yang terkena fitnah disinformasi, memanipulasi opini publik dari QS. an-Nur/24: 14 -15. Dua ayat ini turun sebagai respon dan sekaligus jawaban atas kegelisahan Rasulullah. Ketika itu Rasul bingung bagaimana menyikapi fitnah atau berita bohong yang disebarluaskan Abdullah bin Ubay bin Salul.
Abdullah bin Ubay menuduh Aisyah berduaan dengan Shafwan bin al-Mu’aththal al-Sulami. Di tengah kebingungan itu, setelah menunggu lama, Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad melalui surat an-Nur/24: 11 - 22 bahwa Aisyah benar dan tidak berbohong. Yang berbohong itu justru kaum munafik seperti Abdullah bin Ubay. Sejak itu Rasulullah mulai bisa tersenyum kembali dan lepas dari tekanan luar biasa.
Cerita ini aslinya mengharukan dan menguras air mata. Karena ulah kaum munafiq yang memviralkan berita hoaks itu, Rasulullah merasakan dadanya benar-benar terasa sesak dan hancur hatinya. Untunglah datang pertolongan Allah dalam bentuk wahyu yaitu:
وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15)
“Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnyh suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nur /24:14-15).
Firman Allah pada ayat 14 menyatakan ancaman Allah atas siapa saja yang terkena imbas berita bohong sehingga ikut menyebarkannya. Hai orang-orang yang mempergunjingkan perihal Siti Aisyah, yang karena itu tobat kalian dan permohonan ampun kalian kepada-Nya diterima di dunia ini dan Dia memaafkan kalian berkat iman kalian bila kalian telah berada di kampung akhirat nanti. Hal ini berkenaan dengan orang yang memiliki iman.
Berkat keimanannya itu Allah menerima tobatnya, seperti Mistah, Hassan ibnu Sabit, dan Hamnah binti Jahsy, saudara perempuan Zainab binti Jahsy). Adapun orang-orang yang mempergunjingkan berita ini dari kalangan orang-orang munafik, seperti Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan teman-temannya; maka mereka bukanlah termasuk orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini karena mereka tidak memiliki iman dan amal saleh yang dapat mengimbangi kesalahan mereka dan tidak pula sesuatu yang dapat menghapusnya.
Demikianlah perihal nash yang menyangkut ancaman bagi siapa saja yang melakukan perbuatan dosa tertentu yang Allah berikan ancaman padanya secara umum, ia bersifat mutlak dan bersyarat. Untuk dapat diterima taubatnya maka pelaku harus memiliki iman dan amal shalih, lebih spesifik lagi amal shalihnya harus bisa mengimbangi keburukan dosa tersebut atau lebih baik lagi jika dapat melampauinya. Berkenaan QS: An-Nur/24: 15 terdapat matan hadis yang relevan:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَط اللَّهِ، لَا يَدْرِي مَا تَبْلُغ، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أبْعَد مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai oleh Allah tanpa disadarinya yang menyebabkan dirinya tercampakkan ke neraka lebih dalam daripada jarak antara bumi dan langit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut riwayat yang lain disebutkan: لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا: sedangkan dia tidak menyadarinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecam perilaku orang-orang yang menyebarluaskan informasi tanpa mengetahui detail persoalan dan kebenaran informasi tersebut.
Ketika menerima informasi sebaiknya diperiksa dulu dan diteliti ulang kebenarannya. Serangan musuh Islam pada era Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sangat dahsyat. Bahkan kalau bukan bantuan informasi dari wahyu Allah sungguh fitnah itu sangat menghancurkan.
Rasulullah saja kesulitan melawan Islamphobia. Ini merupakan nasehat untuk kita agar tidak termakan hasutan gerakan Islam phobia. Juga peringatan agar tidak membicarakan dan menyebarluaskan informasi yang tidak kita ketahui kebenaran dan kepastiannya.
Menurut Ibnu Asyur, orang yang suka menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya itu kemungkinan ada dua sebab: pertama, kurang cerdas, dia menyampaikan apa saja yang belum jelas duduk perkaranya. Orang seberti ini termasuk sebagai pembohong.
Dalam hadis disebutkan, “Seorang termasuk pembohong bila menyampaikan setiap apa saja yang didengarnya”.Kemungkinan kedua adalah mereka orang munafik, yaitu menyembunyikan kebenaran yang diyakininya dan menyampaikan informasi bohong yang sebetulnya dia sendiri tidak tahu kebenarannya. Dilanjutkan dalam Al-Qur`an Surat An-Nur/24: 19,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19(
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab ypng pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.
Hal ini merupakan pelajaran yang ditujukan kepada orang yang mendengar suatu perkataan yang buruk, lalu hatinya menanggapinya dan ingin membicarakannya.
Maka janganlah ia banyak membicarakannya dan janganlah ia menyiarkan dan menyebarkan perkataan itu. Dengan kata lain, kembalikanlah segala sesuatunya kepada Allah, niscaya kalian mengambil sikap yang benar. Dari Sauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
"لَا تُؤذوا عِبادَ اللَّهِ وَلَا تُعيِّروهم، ولا تطلبوا عَوَرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ طَلَبَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، طَلَبَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، حَتَّى يَفْضَحَهُ فِي بَيْتِهِ"
Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Maimun ibnu Musa Al-Mar'i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abbad Al-Makhzumi, Dari Sauban, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah dan jangan pula mencela mereka, serta janganlah mencari-cari keaiban mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari keaiban saudaranya yang muslim, maka Allah akan membuka¬kan aibnya hingga mempermalukannya di dalam rumahnya. (HR. Ahmad).
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.