Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Ramadhan ibarat perjalanan pulang. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran, dari dosa menuju pengampunan, dari kesombongan menuju kerendahan hati. Di ujung perjalanan itu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang singkat namun mengguncang jiwa: Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna yaa Kariim. (Ya Allah, Engkau Maha Penghapus, Engkau mencintai penghapusan, maka hapuskanlah kami, wahai Dzat Yang Maha Mulia.”
Doa ini diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang dibaca di malam Lailatul Qadar. Beliau tidak mengajarkan doa panjang. Tidak pula menyuruh meminta dunia atau panjang umur. Beliau mengajarkan inti dari segala kebutuhan manusia: penghapusan dosa.
Kata ‘afuww berasal dari akar kata yang berarti menghapus hingga tak berbekas. Ia lebih dalam daripada sekadar maghfirah. Jika maghfirah berarti menutup dosa, maka ‘afw berarti menghilangkannya sama sekali. Seakan-akan seorang hamba memohon: “Ya Allah, jangan hanya tutupi aibku, tetapi hilangkan seluruh jejaknya, seakan aku tak pernah melakukannya.”
Inilah ruh Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Target puasa adalah taqwa. Taqwa adalah hati yang hidup dalam pengawasan Allah subhaanahu wa ta’aala, jiwa yang takut melukai perintah-Nya, dan cinta yang melahirkan ketaatan. Puasa melatih taqwa karena ia ibadah yang tersembunyi. Manusia bisa berpura-pura di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan Allah subhaanahu wa ta’aala.
Namun setelah sebulan berpuasa, seorang mukmin yang jujur tidak akan berdiri dengan bangga. Ia justru semakin merasa fakir. Ia sadar bahwa amalnya penuh kekurangan. Maka di malam Lailatul Qadar ia berdoa, bukan dengan kesombongan, tetapi dengan tangisan Fa’fu ‘annaa ya Kariim.
Allah subhaanahu wa ta’aala tidak membutuhkan puasa kita. Dia adalah Ash-Shamad, tempat bergantung segala sesuatu. Allah Maha Kaya, sementara kita miskin di hadapan-Nya. Dalam hadits qudsi yang shahih, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman yang intinya bahwa jika seluruh manusia dari awal hingga akhir menjadi orang paling bertakwa, itu tidak menambah sedikit pun kerajaan-Nya.
Dan jika seluruh manusia menjadi paling durhaka, itu tidak mengurangi sedikit pun kekuasaan-Nya. Kitalah yang membutuhkan rahmat-Nya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ampunan adalah janji, tetapi ‘afw adalah harapan tertinggi. Karena itu doa ini menjadi mahkota Ramadhan.
Islam tidak mengenal kemuliaan karena ras atau keturunan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, dan tidak ada kelebihan non-Arab atas Arab, kecuali dengan taqwa. Standar kemuliaan hanya satu: kedekatan dengan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ramadhan meruntuhkan sekat itu. Semua lapar bersama. Semua berdiri bersama. Yang membedakan hanyalah kualitas hati.
Dan hati yang bertaqwa akan selalu merasa butuh penghapusan dosa. Ia tidak merasa suci. Ia tidak merasa aman dari kesalahan. Ia sadar bahwa tanpa ‘afw Allah, ia tidak memiliki apa-apa. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman: Innallaaha la’afuwwun ghafuur, “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penghapus lagi Maha Pengampun.” Kata “la’afuwwun” ditegaskan dengan lam taukid. Seakan Allah subhaanahu wa ta’aala sendiri memperkenalkan diri-Nya sebagai Dzat Yang menghapus dosa hamba-hamba-Nya.
Maka ketika kita berkata, Fa’fu ‘annaa ya Kariim, kita sedang mengakui dua hal, kelemahan diri dan kemuliaan Allah subhaanahu wa ta’aala. “Yaa Kariim” adalah pengakuan bahwa Allah Maha Mulia dalam memberi. Dia memberi bukan karena kita layak, tetapi karena Dia Maha Pemurah.
Ramadhan juga mengajarkan bahwa cinta kepada Allah subhaanahu wa ta’aala bukan klaim, tetapi kerendahan. Cinta adalah rasa butuh. Cinta adalah kesadaran bahwa tanpa rahmat-Nya kita binasa. Cinta adalah doa yang dipanjatkan dalam sunyi malam, ketika air mata lebih jujur daripada kata-kata.
Pada akhirnya, perjalanan Ramadhan bukan tentang lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan menuju hati yang bertaqwa, jiwa yang bersih, dan cinta yang tulus. Dan di penghujungnya, seorang hamba hanya mampu berbisik: Ya Allah, Engkau Maha Penghapus, Engkau mencintai penghapusan, maka hapuskanlah kami. Hapuskan dosa kami, angkat beban kami, bersihkan hati kami. Karena kami tidak memiliki daya tanpa-Mu. Fa’fu ‘annaa ya Kariim. Wallaahu a’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.