Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Ada tempat-tempat yang kita datangi dengan langkah, tetapi ada pula tempat-tempat yang sesungguhnya lebih dahulu didatangi oleh hati. Makkah dan Madinah adalah dua di antaranya. Sebelum kaki menginjak pelataran Masjidil Haram, sebelum mata memandang Ka’bah, sebelum salam terucap di hadapan makam Rasulullah SAW, kerinduan telah lebih dahulu tumbuh di dalam dada.
Karena itu, doa “Allaahummarzuqnaa ziyaarata baitikal ḥaraam” bukan sekadar permintaan untuk melakukan perjalanan. Ia adalah permohonan agar Allah SWT membuka jalan menuju rumah-Nya, mengundang hati yang rindu, dan menjadikan perjalanan itu sebagai perjumpaan yang mengubah hidup.
Makkah mengajarkan bahwa cinta kepada Allah SWT selalu mempunyai arah. Di sanalah Ka’bah berdiri sebagai kiblat yang menyatukan jutaan wajah, bahasa, warna kulit, dan bangsa. Setiap putaran thawaf seakan membisikkan bahwa hidup pun harus berputar di sekitar ketaatan kepada-Nya. Kita datang membawa banyak keinginan, tetapi di hadapan Baitullah kita belajar bahwa keinginan terbesar adalah diterima.
Kita menangis bukan hanya karena telah sampai, melainkan karena sadar betapa banyak dosa yang dibawa menuju tempat yang suci. Maka doa untuk dapat berhaji dan berumrah “marratan ba’da marrah” adalah kerinduan agar Allah SWT berulang kali memberi kesempatan kepada kita untuk kembali, membersihkan hati, memperbarui janji, dan memperbaiki arah hidup.
Madinah menghadirkan cinta dengan bahasa yang berbeda. Jika Makkah menundukkan hati di hadapan keagungan Allah SWT, Madinah melembutkannya dengan kerinduan kepada Rasulullah SAW. Kota itu mengajarkan adab: berjalan dengan tenang, bershalawat dengan cinta, dan menyadari bahwa Islam sampai kepada kita melalui perjuangan seorang Nabi SAW yang mencintai umatnya.
Betapa indah jika Allah SWT mengizinkan kita kembali menunaikan shalat di Masjid Nabawi, menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW, dan merasakan bahwa cinta kepada beliau SAW bukan sekadar ucapan, tetapi tekad untuk mengikuti akhlak, sunnah, dan kasih sayangnya.
Namun perjalanan ke Tanah Suci tidak hanya membutuhkan rindu. Ia memerlukan rezeki yang halal, kesehatan, keselamatan, kesempatan, dan usia yang diberkahi dalam ketaatan. Karena itu doa tersebut memohon semuanya sekaligus.
Kita belajar bahwa kemampuan berangkat bukan semata hasil tabungan, kekuatan tubuh, atau perencanaan manusia. Ada orang yang memiliki harta tetapi belum terpanggil; ada yang sederhana kehidupannya, namun Allah SWT membukakan jalan dengan cara yang tidak disangka. Maka setiap rupiah yang halal, setiap hari kesehatan, dan setiap kesempatan hidup dapat menjadi bagian dari jawaban Allah SWT atas doa menuju Makkah dan Madinah.
Ada satu kalimat yang terasa sangat dalam: “Allaahumma laa taj’al haadzaa aakhira ‘ahdinaa” Ya Allah, jangan jadikan ini perjumpaan terakhir kami. Kalimat itu lahir dari hati yang telah mengenal nikmatnya berada di Tanah Suci.
Saat meninggalkan Ka’bah, ada langkah yang bergerak menjauh, tetapi hati justru ingin tertinggal. Saat meninggalkan Madinah, kendaraan membawa tubuh pulang, sementara rasa rindu seakan tetap berada di sana. Kita akhirnya memahami bahwa perpisahan dengan dua kota mulia itu bukanlah penutup, melainkan awal dari doa panjang agar dipanggil kembali.
Doa “waj’al af’idatanaa tahwii ilaa baitikal-ḥaraam” juga mengingatkan kita pada do’a Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang hati manusia yang condong kepada Baitullah. Kerinduan kepada Makkah bukan sekadar nostalgia perjalanan.
Ia seharusnya menjadi kerinduan kepada ibadah. Demikian pula rindu Madinah seharusnya menjadi rindu kepada sunnah, shalawat, kelembutan, persaudaraan, dan kehidupan yang meneladani Rasulullah SAW. Jika setelah pulang kita menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih lembut, lebih gemar beribadah, dan lebih bermanfaat bagi sesama, berarti sebagian cahaya Tanah Suci benar-benar ikut pulang bersama kita.
Cinta kepada Makkah dan Madinah juga mendidik kita tentang pulang. Pulang bukan hanya kembali ke rumah, tetapi kembali kepada Allah SWT dengan jiwa yang bening. Dua kota suci itu mengingatkan bahwa hidup mempunyai tujuan, dan kerinduan terbaik adalah kerinduan yang membuat manusia semakin taat, rendah hati, dan bersyukur.
Pada akhirnya, yang kita mohon bukan hanya tiket untuk kembali, tetapi penerimaan dari Allah SWT. Haji yang mabrur, umrah yang diterima, sa‘i yang disyukuri, dosa yang diampuni, amal saleh yang diterima, dan rezeki yang diberkahi.
Kita memohon agar Allah SWT mengembalikan kita ke dua tanah mulia itu dengan cara yang indah: bukan sekadar sebagai wisatawan yang datang dan pergi, tetapi sebagai hamba yang semakin dekat kepada-Nya. Semoga setiap kerinduan menjadi doa, setiap doa menjadi jalan, dan setiap jalan berujung pada panggilan-Nya: kembali ke Makkah, kembali ke Madinah, lagi dan lagi, dalam iman, kesehatan, keselamatan, dan cinta yang semakin dalam. Aamiin. Wallaahu a’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.